Biaya Renovasi Membengkak, Galeri Lukisan Bom Atom Jepang Terancam Tutup
Baca dalam 60 detik
- Galeri Maruki di Saitama yang menyimpan 14 panel lukisan bom atom Hiroshima dan Nagasaki akan kembali dibuka pada 2027, namun biaya renovasi membengkak 150 juta yen menjadi 500 juta yen.
- Dana donasi yang terkumpul sekitar 440 juta yen diperkirakan habis setelah renovasi, sehingga operasional jangka panjang galeri terancam tanpa suntikan dana baru.
- Direktur galeri mengingatkan bahwa lukisan-lukisan ini menjadi saksi bisu yang semakin penting seiring berkurangnya jumlah penyintas bom atom yang bisa bercerita langsung.

Galeri Maruki untuk Panel Hiroshima di Higashimatsuyama, Prefektur Saitawa, Jepang, yang menyimpan 14 lukisan monumental tentang kengerian bom atom 1945, terancam gulung tikar setelah renovasi besar-besaran selesai. Biaya proyek yang membengkak hingga 500 juta yen (sekitar Rp52 miliar) menguras habis dana donasi yang terkumpul, membuat masa depan pusat edukasi perdamaian ini tidak menentu.
Direktur Pelaksana Galeri Maruki, Yukinori Okamura, mengungkapkan bahwa kenaikan harga material konstruksi dan kesulitan pengadaan akibat konflik di Timur Tengah mendorong biaya renovasi melonjak 150 juta yen dari estimasi awal. “Kami bahkan kesulitan membayar staf dan subkontraktor secara penuh,” ujarnya. Padahal, galeri yang didirikan pada 1967 ini baru saja ditutup pada September 2025 untuk perbaikan menyeluruh setelah atap bocor dan kelembaban merusak karya seni.
Renovasi yang dijadwalkan rampung pada Mei 2027—bertepatan dengan peringatan 60 tahun galeri—mencakup pembangunan ruang penyimpanan baru, peningkatan kontrol lingkungan, dan tata pamer yang lebih layak. Namun, dengan laju pengeluaran saat ini, dana donasi sekitar 440 juta yen yang terkumpul hingga Juni diperkirakan akan habis begitu renovasi selesai. “Kami bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi enam bulan ke depan,” kata Okamura.
Lukisan-lukisan yang pernah dinominasikan untuk Nobel Perdamaian ini telah dipamerkan di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat. Namun, di tengah menurunnya jumlah penyintas bom atom (hibakusha) yang masih hidup, peran galeri sebagai penjaga memori kolektif justru semakin krusial. “Makna lukisan-lukisan ini semakin bertambah,” tegas Okamura. “Lukisan-lukisan itu mewakili penderitaan universal manusia dan membuat kita berpikir tentang bagaimana menghadapi penderitaan semacam itu.”
Bagi Indonesia, kisah Galeri Maruki menjadi pengingat akan pentingnya melestarikan narasi sejarah, terutama terkait dampak perang dan senjata pemusnah massal. Meski Indonesia tidak mengalami perang nuklir, semangat anti-kekerasan dan perdamaian yang diusung galeri ini relevan dengan konteks pluralisme dan resolusi konflik di dalam negeri. Museum-museum sejarah di Indonesia, seperti Museum Perumusan Naskah Proklamasi atau Museum Sumpah Pemuda, juga menghadapi tantangan serupa dalam hal pendanaan dan perawatan koleksi.
Okamura tetap optimistis bahwa dunia tanpa senjata nuklir bisa terwujud, asalkan ingatan tentang bom atom terus dihidupkan. Namun, tanpa dukungan finansial yang berkelanjutan, galeri yang menjadi saksi bisu tragedi kemanusiaan ini mungkin hanya akan tinggal kenangan. Pertanyaannya, mampukah komunitas internasional—termasuk Indonesia—berkontribusi menyelamatkan warisan visual yang mengingatkan umat manusia pada harga perdamaian yang begitu mahal?



