Bus Penumpang Terjun dari Tol di Hanoi, Empat Tewas
Baca dalam 60 detik
- Sebuah bus penumpang terjun dari ruas tol Phap Van-Cau Gie di Hanoi pada Jumat dini hari, menewaskan empat orang dan melukai puluhan lainnya.
- Kecelakaan terjadi saat bus melaju dari Ninh Binh menuju Hanoi, diduga akibat pengemudi kehilangan kendali hingga menembus pembatas jalan.
- Otoritas Vietnam masih menyelidiki penyebab pasti insiden yang menyoroti keselamatan transportasi umum di kawasan Asia Tenggara.

Empat orang tewas dan belasan lainnya luka-luka setelah sebuah bus penumpang keluar jalur dan jatuh dari ruas tol Phap Van-Cau Gie di pinggiran Hanoi, Vietnam, pada Jumat (17/7) dini hari. Insiden tragis ini kembali membuka diskusi tentang standar keselamatan transportasi darat di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Kecelakaan terjadi sekitar pukul 00.15 waktu setempat. Bus yang mengangkut 32 penumpang tersebut tengah dalam perjalanan dari Provinsi Ninh Binh menuju ibu kota Hanoi. Di tengah perjalanan, kendaraan tiba-tiba oleng ke kiri, menembus pagar pembatas beton, lalu jatuh ke jalan layang di bawahnya. Tiga orang ditemukan tewas di lokasi kejadian, sementara satu korban lainnya meninggal dunia setelah dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Hingga berita ini diturunkan, otoritas setempat masih melakukan investigasi untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan. Dugaan sementara mengarah pada faktor human error, seperti kelelahan pengemudi atau kecepatan berlebih, mengingat kondisi jalan tol yang relatif lurus dan minim hambatan. Namun, belum ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian Vietnam.
Kecelakaan bus di Vietnam bukanlah hal yang asing. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Vietnam mencatat lebih dari 20.000 kematian akibat kecelakaan lalu lintas setiap tahunnya, dengan bus dan truk menyumbang proporsi signifikan. Meskipun pemerintah telah menerapkan berbagai regulasi, seperti pemasangan GPS dan pembatasan jam kerja sopir, implementasi di lapangan masih lemah.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan ketat terhadap angkutan umum. Di Tanah Air, kecelakaan bus di jalur tol juga kerap terjadi, seperti insiden bus terguling di Tol Cipali pada 2024 yang menewaskan belasan orang. Kepala Subdit Penegakan Hukum Ditjen Perhubungan Darat, dalam pernyataan sebelumnya, mengakui bahwa faktor kelelahan pengemudi masih menjadi penyebab utama kecelakaan bus di Indonesia. Ia mendorong perusahaan otobus untuk menerapkan sistem manajemen keselamatan yang lebih ketat, termasuk pembatasan waktu mengemudi maksimal 4 jam berturut-turut.
Ke depan, Vietnam dan negara-negara ASEAN lainnya perlu memperkuat kerja sama dalam pertukaran data kecelakaan dan praktik terbaik keselamatan transportasi. Pertanyaannya, akankah insiden berulang ini mendorong perubahan kebijakan yang lebih konkret, atau justru kembali tenggelam dalam rutinitas?



