Dua Insiden Siber Hantam Abbott: Unit Diagnostik Kanker dan Portal LabCentral Jadi Sasaran
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan alat kesehatan Abbott melaporkan dua serangan siber terpisah yang menargetkan sistem internal unit diagnostik kanker dan portal LabCentral.
- Meski operasional tidak terganggu, insiden ini menambah daftar panjang serangan siber di sektor kesehatan global yang kerap mengincar data sensitif pasien.
- Abbott telah melibatkan ahli keamanan siber eksternal dan aparat penegak hukum, namun dampak jangka panjang terhadap kepercayaan konsumen masih perlu diwaspadai.

Abbott Laboratories, raksasa alat kesehatan asal Amerika Serikat, tengah menyelidiki dua insiden keamanan siber yang menimpa sistem internal unit diagnostik kanker dan portal LabCentral. Perusahaan memastikan operasional bisnis tidak terganggu dan data sensitif pelanggan tidak bocor, namun pengakuan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran akan kerentanan sektor kesehatan terhadap serangan dunia maya.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Jumat (17/7), Abbott mengungkapkan bahwa insiden pertama melibatkan akses tidak sah ke sistem internal bisnis diagnostik kanker. Perusahaan menegaskan bahwa sistem tersebut terpisah dari infrastruktur Exact Sciences yang diakuisisi sebelumnya, sehingga tidak ada dampak pada unit bisnis lain. Insiden kedua menimpa LabCentral, portal pihak ketiga yang digunakan oleh bisnis diagnostik laboratorium inti Abbott. Meski seorang peretas diduga berhasil mengakses portal tersebut, Abbott mengklaim tidak ada informasi pelanggan atau bisnis sensitif yang terekspos.
Yang menarik, LabCentral hanya menyimpan dokumen referensi teknis produk yang bersifat publik, seperti manual operasi, daftar periksa pemecahan masalah, dan spesifikasi produk. Artinya, data yang diakses peretas tidak termasuk informasi kepemilikan atau rahasia dagang. Namun, kejadian ini tetap menjadi pengingat bahwa tidak ada sistem yang benar-benar aman, terutama di era di mana serangan siber terhadap perusahaan kesehatan kian marak.
Abbott bukanlah satu-satunya perusahaan kesehatan yang menjadi sasaran. Dalam beberapa tahun terakhir, serangan siber telah menimpa Clover Health Investments, Stryker, Medtronic, Novo Nordisk, hingga West Pharmaceutical Services. Serangan semacam ini tidak hanya berpotensi mengganggu operasional, tetapi juga meningkatkan kekhawatiran tentang perlindungan data pasien yang sangat sensitif. Di Indonesia, ancaman serupa juga mengintai rumah sakit dan penyedia layanan kesehatan yang semakin bergantung pada sistem digital.
Menurut analis keamanan siber, insiden seperti yang dialami Abbott menyoroti perlunya investasi lebih besar dalam perlindungan infrastruktur kritis. โPerusahaan kesehatan harus mengadopsi pendekatan zero-trust dan melakukan audit keamanan secara berkala,โ ujar seorang pakar yang enggan disebutkan namanya. Abbott sendiri mengaku telah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi masalah ini, termasuk melibatkan ahli keamanan siber eksternal dan aparat penegak hukum. Perusahaan juga terus menyelidiki informasi apa saja yang mungkin telah diakses.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pelajaran berharga. Dengan semakin banyaknya rumah sakit dan klinik yang mengadopsi sistem rekam medis elektronik serta portal pasien, risiko serangan siber pun meningkat. Regulator seperti Kementerian Kesehatan dan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) perlu mendorong penerapan standar keamanan yang ketat. Jika tidak, bukan tidak mungkin data kesehatan jutaan pasien Indonesia akan menjadi sasaran empuk para peretas.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: apakah Abbott dan perusahaan kesehatan lainnya mampu membangun sistem yang benar-benar tangguh terhadap serangan siber? Atau akankah insiden seperti ini terus berulang, menggerus kepercayaan publik terhadap keamanan data kesehatan?



