Korban Tewas Kebakaran Bar Bangkok: Keracunan Asap dalam Empat Menit
Baca dalam 60 detik
- Otopsi 33 korban kebakaran bar di Bangkok mengungkap 27 orang meninggal akibat menghirup gas beracun dari api.
- Korban tewas dalam waktu empat menit setelah terpapar karbon monoksida dan sianida dalam konsentrasi tinggi.
- Pemerintah Bangkok akan memeriksa 1.000 tempat hiburan dalam sebulan, menyusul temuan pelanggaran listrik di lokasi kejadian.

Sebanyak 27 dari 33 korban tewas dalam kebakaran hebat di bar Bangkok pada Minggu malam (12/7) meninggal akibat keracunan karbon monoksida dan sianida yang dihasilkan api, bukan karena luka bakar. Kepala Institut Forensik Thailand, Wiroon Supasingsiripreecha, mengungkapkan bahwa gas-gas tersebut menghalangi oksigen mencapai darah, menyebabkan kematian dalam hitungan menit.
Kebakaran melanda Rong Beer Na Lat Phrao, sebuah restoran dan bar populer di ibu kota Thailand, dengan cepat melahap seluruh bangunan. Dari 33 korban, enam lainnya meninggal di rumah sakit akibat luka bakar parah. Hingga Jumat (17/7), jumlah korban luka tercatat 77 orang. Pemilik bar dilaporkan dirawat di ICU pasca-insiden, namun kondisi terkini belum diketahui.
Investigasi awal mengungkapkan bahwa tempat tersebut menggunakan listrik tegangan tinggi tanpa izin, yang diduga menjadi pemicu kebakaran. Pernyataan ini disampaikan perwira senior polisi Siam Boonsom pada Kamis (16/7). Temuan ini memperkuat kecurigaan bahwa pelanggaran instalasi listrik menjadi faktor utama dalam tragedi tersebut.
Pasca tragedi, kepolisian dan pemerintah daerah Bangkok berencana menginspeksi 1.000 tempat hiburan di seluruh ibu kota dalam waktu satu bulan. Langkah ini diambil untuk memastikan kepatuhan terhadap standar keselamatan kebakaran. Tiga bar telah ditutup sementara karena tidak memenuhi persyaratan.
Thailand memiliki catatan kelam terkait keselamatan tempat hiburan. Pada 2009, kebakaran di klub Santika Bangkok saat perayaan Tahun Baru menewaskan 67 orang dan melukai lebih dari 200. Seorang ahli keselamatan bangunan yang diwawancarai AFP menilai Rong Beer Na Lat Phrao tampaknya tidak memiliki sistem keselamatan yang memadai untuk menampung kerumunan besar dan acara musik langsung.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat akan pentingnya penegakan regulasi keselamatan kebakaran di tempat hiburan malam. Meski standar di Indonesia relatif lebih ketat, kasus kebakaran di diskotek dan bar masih kerap terjadi. Pemerintah daerah di Jakarta dan kota besar lainnya diharapkan dapat melakukan inspeksi serupa untuk mencegah korban jiwa.
Ke depan, pertanyaan besar yang mengemuka adalah apakah langkah inspeksi massal ini hanya bersifat reaktif atau akan diikuti dengan reformasi regulasi jangka panjang. Tanpa pengawasan berkelanjutan dan sanksi tegas, risiko tragedi serupa masih mengintai.



