Perang Proksi di Selat Hormuz: AS dan Iran Saling Hantam Infrastruktur, Harga Minyak Terbang
Baca dalam 60 detik
- AS memperluas serangan ke infrastruktur Iran, termasuk jembatan dan menara pelabuhan, sebagai upaya memutus jalur logistik dan menekan Tehran agar membuka Selat Hormuz.
- Iran membalas dengan rudal ke Qatar, Kuwait, dan Bahrain, merusak instalasi air minum Kuwait yang bergantung pada desalinasi, serta menyerang kelompok oposisi Kurdi di Irak.
- Lalu lintas kapal di Selat Hormuz anjlok ke rekor terendah, mendorong harga minyak di atas 86 dolar AS per barel dan memperkuat posisi tawar Iran dalam negosiasi.

Serangan udara Amerika Serikat dan Iran pada Jumat lalu (18/7) menunjukkan eskalasi dramatis dalam perebutan kendali atas Selat Hormuz, jalur energi paling vital di dunia. Washington memperluas target dari instalasi militer ke infrastruktur sipil strategis Iran, sementara Tehran melancarkan serangan rudal ke negara-negara sekutu AS di kawasan Teluk, termasuk Qatar yang selama ini bertindak sebagai mediator konflik.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi telah melancarkan tujuh malam berturut-turut serangan yang menargetkan "situs pengawasan, infrastruktur logistik militer, gudang senjata bawah tanah, dan kemampuan maritim" Iran. Pada Jumat, serangan menghantam jembatan di Provinsi Hormozgan, Iran selatan, yang diduga untuk memutus akses dari Pelabuhan Bandar Abbas menuju ibu kota Tehran. Menara pengawas di Pelabuhan Chabahar—pusat perdagangan penting bagi Afghanistan dan India—runtuh dihantam bom. CENTCOM menyatakan menara itu digunakan Garda Revolusi Iran untuk melacak kapal dagang.
Iran mengakui untuk pertama kalinya bahwa serangan AS mengenai infrastruktur kelistrikan. Kementerian Energi Iran meminta warga di provinsi selatan yang tengah dilanda gelombang panas untuk mengurangi pemakaian listrik. Otoritas Iran melaporkan sedikitnya 46 orang tewas dan lebih dari 400 luka-luka akibat serangan AS dalam sepekan terakhir, termasuk delapan orang tewas dalam serangan di jembatan pada Jumat. Di pihak AS, 13 personel militer baru dilaporkan cedera sejak Senin, menjadikan total 14 tewas dan 427 luka-luka sejak perang dimulai.
Serangan balasan Iran tidak hanya menyasar kepentingan AS, tetapi juga negara-negara tetangga yang selama ini menjadi tuan rumah pangkalan militer Amerika. Qatar dua kali mengeluarkan peringatan kepada warga untuk berlindung saat rudal Iran menghujani wilayahnya; seorang anak terluka akibat pecahan peluru. Kuwait melaporkan serangan terhadap pembangkit listrik dan pabrik desalinasi air, menyebabkan kerusakan parah. Karena 90 persen air minum Kuwait bergantung pada desalinasi, serangan ini berpotensi memicu krisis kemanusiaan. Yordania mengaku berhasil mencegat tiga rudal Iran, sementara di Irak utara, serangan rudal menewaskan sembilan orang yang diduga anggota kelompok oposisi Kurdi Komala.
Di tengah gempuran, Iran mengklaim dua kapal tanker minyak meledak dan terbakar saat mencoba melintasi Selat Hormuz yang telah ditambang. Klaim itu langsung dibantah CENTCOM sebagai "palsu". Namun, fakta di lapangan menunjukkan Selat Hormuz praktis tertutup bagi pelayaran komersial. Data MarineTraffic.com mencatat hanya delapan kapal yang melintas pada Kamis, anjlok drastis dibandingkan masa damai. Iran menuntut kendali penuh atas selat tersebut dan meminta kapal membayar biaya—sebuah tuntutan yang ditolak masyarakat internasional karena selat itu dianggap sebagai jalur perairan internasional.
Bagi Indonesia, eskalasi di Selat Hormuz memiliki dampak langsung. Sebagai negara pengimpor minyak mentah, kenaikan harga minyak di atas 86 dolar AS per barel akan membebani anggaran subsidi energi dan mendorong inflasi. Pemerintah perlu mengantisipasi lonjakan harga BBM dalam negeri serta potensi gangguan pasokan jika konflik berkepanjangan. Selain itu, Indonesia juga perlu mencermati dinamika keamanan di kawasan Timur Tengah yang dapat mempengaruhi stabilitas harga komoditas global dan arus investasi.
Presiden Donald Trump, dalam pidato nasional Kamis malam, bersikeras bahwa perang berjalan sesuai rencana. "Kami juga menang besar di Iran, dan Anda akan melihat hasil kerja itu dalam waktu dekat," ujarnya. Namun, tekanan politik di dalam negeri untuk mengakhiri perang semakin besar, mengingat Trump sebelumnya berjanji tidak akan terlibat dalam konflik Timur Tengah yang berkepanjangan. Pertanyaan kuncinya sekarang: mampukah kedua pihak menemukan jalan keluar diplomatik sebelum Selat Hormuz benar-benar lumpuh dan ekonomi global terguncang?



