Ekonomi Malaysia Tumbuh 5,8% di Kuartal II, Inflasi Melandai ke 1,9%
Baca dalam 60 detik
- Pertumbuhan ekonomi Malaysia mencapai 5,8% pada kuartal II-2026, naik dari 5,4% di kuartal sebelumnya, didorong oleh ketahanan domestik di tengah ketidakpastian global.
- Inflasi Juni turun menjadi 1,9% dari 2,0% di Mei, terutama karena moderasi harga di sektor transportasi yang hanya naik 2,8%.
- Pemerintah Malaysia mengklaim intervensi terarah berhasil menjaga pasokan bahan bakar dan barang pokok, meskipun risiko eskalasi konflik Timur Tengah masih mengintai.

Perekonomian Malaysia mencatatkan pertumbuhan yang lebih kuat dari perkiraan pada kuartal kedua tahun ini. Berdasarkan data awal dari Departemen Statistik (DOSM), produk domestik bruto (PDB) negeri jiran itu tumbuh 5,8 persen secara tahunan, meningkat dari 5,4 persen pada kuartal pertama. Di saat yang sama, inflasi Juni berhasil ditekan ke level 1,9 persen, lebih rendah dari 2,0 persen pada bulan sebelumnya. Perdana Menteri Anwar Ibrahim menyambut baik angka-angka tersebut, menandakan optimisme terhadap ketahanan ekonomi Malaysia di tengah gejolak global.
Menteri Ekonomi Akmal Nasrullah Mohd Nasir menyebutkan bahwa pencapaian ini tidak lepas dari intervensi pemerintah yang tepat sasaran. Menurutnya, kebijakan fiskal dan moneter yang terkoordinasi mampu meredam dampak dari konflik Timur Tengah serta kekhawatiran akan gangguan di Selat Hormuz—jalur vital bagi pasokan energi global. “Ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi terus berjalan meskipun banyak tantangan,” ujarnya dalam sebuah acara di Cyberjaya, Kamis (18/7).
Pemerintah Malaysia, lanjut Akmal, telah memonitor secara ketat perkembangan di Timur Tengah dan mengambil langkah-langkah preventif untuk memastikan pasokan bahan bakar, bahan baku produksi, dan barang kebutuhan pokok tetap tersedia dengan harga terjangkau. Ia menambahkan bahwa PETRONAS, perusahaan minyak nasional Malaysia, telah mengamankan komitmen jangka panjang dari sumber alternatif untuk menjaga pasokan minyak bumi. “Malaysia seharusnya memiliki pasokan bahan bakar yang cukup hingga akhir tahun,” tegasnya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa situasi di Timur Tengah masih tidak menentu dan bisa meningkat secara cepat.
Dari sisi inflasi, DOSM melaporkan bahwa moderasi harga terutama didorong oleh sektor transportasi yang hanya naik 2,8 persen secara tahunan, lebih rendah dari 3,8 persen pada bulan sebelumnya. Kenaikan harga juga terjadi pada asuransi dan jasa keuangan (5,2%), minuman beralkohol dan tembakau (2,8%), serta informasi dan komunikasi (2,1%). Sementara itu, kelompok pengeluaran yang mencatat kenaikan lebih lambat—seperti perawatan pribadi (4,3%), restoran dan akomodasi (2,6%), serta pendidikan (2,2%)—turut membantu menekan inflasi secara keseluruhan.
Menariknya, tujuh negara bagian dan wilayah federal mencatat inflasi di atas rata-rata nasional 1,9 persen, dengan Pahang menjadi yang tertinggi (2,6%), diikuti Johor dan Negeri Sembilan (masing-masing 2,5%). Sementara itu, semua negara bagian kecuali Kelantan mencatat kenaikan inflasi makanan dan minuman. Kelantan justru mengalami penurunan sebesar 0,7 persen, yang bisa menjadi indikasi perbedaan pola konsumsi atau efektivitas kebijakan harga pangan di daerah tersebut.
Bagi Indonesia, kinerja ekonomi Malaysia ini memberikan gambaran tentang ketahanan kawasan ASEAN di tengah tekanan global. Sebagai mitra dagang utama, pertumbuhan Malaysia yang solid dapat mendorong permintaan terhadap ekspor Indonesia, terutama komoditas dan produk manufaktur. Namun, risiko dari konflik Timur Tengah dan potensi gangguan rantai pasok tetap menjadi perhatian bersama. Pemerintah Indonesia juga perlu mencermati langkah-langkah intervensi yang dilakukan Malaysia, terutama dalam menjaga stabilitas harga bahan bakar dan pangan, sebagai referensi dalam merumuskan kebijakan domestik.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah momentum pertumbuhan ini dapat bertahan hingga akhir tahun, mengingat ketidakpastian global masih tinggi. Bank sentral Malaysia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan untuk mendukung pemulihan, namun jika tekanan inflasi kembali muncul, ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter bisa terbatas. Bagaimana Malaysia menyeimbangkan antara pertumbuhan dan stabilitas harga akan menjadi ujian bagi kredibilitas kebijakan ekonomi pemerintahan Anwar Ibrahim.



