Skyroot Siap Luncurkan Roket Orbital Pertama, Buka Era 'Taksi ke Luar Angkasa'
Baca dalam 60 detik
- Skyroot Aerospace akan meluncurkan roket Vikram-1 pada Sabtu ini, menargetkan orbit rendah Bumi 450 km dalam misi 16 menit.
- Jika sukses, India menjadi negara ketiga setelah AS dan China yang memiliki perusahaan swasta mampu meluncurkan roket orbital.
- Model bisnis 'cab service to space' Skyroot menawarkan peluncuran khusus untuk muatan kecil, mengurangi waktu tunggu dari bulanan menjadi sesuai permintaan.

Bayangkan memesan roket semudah memanggil taksi. Itulah visi yang diusung Skyroot Aerospace, perusahaan rintisan antariksa India yang akan melakukan uji coba peluncuran orbital pertamanya pada Sabtu (15 Maret) dari fasilitas Indian Space Research Organisation (ISRO) di Sriharikota, India selatan. Roket setinggi tujuh lantai bernama Vikram-1 itu dijadwalkan lepas landas pukul 11.30 waktu setempat dan menempuh perjalanan 16 menit menuju orbit rendah Bumi pada ketinggian 450 kilometer.
Keberhasilan misi ini akan menempatkan India sebagai negara ketiga di dunia—setelah Amerika Serikat dan China—yang memiliki perusahaan swasta mampu meluncurkan roket ke orbit. Skyroot, yang baru-baru ini mencapai status unicorn dengan valuasi 1,1 miliar dolar AS, menargetkan untuk mengubah paradigma akses ke luar angkasa. "Saat ini, akses ke luar angkasa masih menjadi hambatan besar. Operator satelit sering menunggu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun untuk kesempatan peluncuran," ujar Pawan Kumar Chandana, salah satu pendiri sekaligus CEO Skyroot, kepada BBC.
Vikram-1, yang dinamai dari Vikram Sarabhai—bapak program antariksa India—mampu membawa muatan hingga 350 kilogram. Skyroot menawarkan model "layanan taksi ke luar angkasa", di mana pelanggan dapat memesan roket khusus untuk menempatkan satelit di orbit yang diinginkan, tanpa harus berbagi ruang dengan muatan lain pada roket besar yang berjadwal tetap. "Jika Anda hanya ingin pergi ke rumah teman, Anda tidak perlu kereta api, cukup pesan taksi atau Uber. Yang kami tawarkan adalah layanan taksi ke luar angkasa," kata Chandana.
Misi uji coba yang diberi nama Aagman—bahasa Sanskerta untuk "kedatangan"—akan membawa enam muatan ke orbit. Selain instrumen ilmiah seperti lengan robot untuk membersihkan puing antariksa dan kamera observasi Bumi, terdapat dua muatan simbolis yang menarik perhatian: bunga teratai dari berlian buatan laboratorium yang disebut Cosmic Bloom, serta roket emas mini berisi patung mikro tiga ilmuwan terkemuka India—Vikram Sarabhai, fisikawan peraih Nobel C.V. Raman, dan mantan presiden serta insinyur kedirgantaraan A.P.J. Abdul Kalam. "Kami berdiri di atas pundak para visioner awal. Ini cara kami memberi penghormatan kepada tiga ilmuwan besar yang membentuk program antariksa India," jelas Chandana.
Skyroot didirikan pada 2018 oleh Chandana dan Naga Bharath Daka, keduanya mantan insinyur ISRO. Perusahaan ini muncul setelah India membuka sektor antariksa bagi swasta pada 2020, dengan target meningkatkan pangsa pasar global dari 2 persen menjadi 10 persen pada 2030. Sejak saat itu, lebih dari 400 perusahaan rintisan antariksa bermunculan, namun Skyroot menjadi satu-satunya yang berstatus unicorn. Pada November 2022, perusahaan ini mencatat sejarah dengan meluncurkan roket suborbital pertama buatan swasta India.
Peluncuran Sabtu ini menjadi ujian krusial. Chandana mengakui bahwa SpaceX baru berhasil pada percobaan keempat. Namun, jika sukses, Skyroot berencana melakukan dua uji terbang tahun ini sebelum memulai peluncuran komersial tahun depan. Perusahaan menargetkan 70-80 persen pasarnya berasal dari ekonomi global, mencakup satelit untuk pertanian, perikanan, manajemen bencana, komunikasi, navigasi, dan keamanan nasional. "Peluang ekonominya sangat besar," ujar Chandana.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang sekaligus tantangan. Dengan semakin murahnya akses ke orbit, negara-negara berkembang seperti Indonesia dapat lebih mudah meluncurkan satelit kecil untuk pemantauan sumber daya alam, mitigasi bencana, atau konektivitas internet di daerah terpencil. Namun, dominasi India dalam layanan peluncuran murah juga bisa memperketat persaingan di kawasan Asia Tenggara, mengingat Indonesia sendiri tengah mengembangkan ekosistem antariksa melalui LAPAN dan perusahaan rintisan lokal. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap memanfaatkan gelombang demokratisasi antariksa ini, atau justru tertinggal dalam persaingan orbit yang semakin padat?



