Gen Z Mendorong Rem Darurat AI: Antara Ancaman Eksistensial dan Masa Depan yang Belum Tertulis
Baca dalam 60 detik
- Generasi Z secara terbuka menolak adopsi AI massal, terlihat dari aksi boo terhadap tokoh yang memuji AI di acara wisuda.
- Survei Gallup dan Thomson Reuters mengonfirmasi kesenjangan generasi: Gen Z skeptis AI merusak kreativitas, sementara baby boomer justru paling optimistis.
- Penolakan ini mencerminkan krisis kepercayaan pada sistem yang dianggap memaksa adaptasi tanpa jaminan masa depan, termasuk di Indonesia.

Ketika sutradara kenamaan Martin Scorsese mengumumkan kolaborasinya dengan perusahaan AI generatif Black Forest Labs untuk pembuatan storyboard, respons publik justru berbalik arah. Alih-alih antusias, gelombang kecaman mengalir deras di media sosial, menandai babak baru resistensi terhadap kecerdasan buatan yang kini dipelopori oleh Generasi Z.
Fenomena serupa terjadi di sejumlah kampus Amerika Serikat. Para wisudawan dari fakultas humaniora melontarkan sorakan keras saat pembicara seperti mantan CEO Google Eric Schmidt dan pemilik Big Machine Records Scott Borchetta memuji AI sebagai revolusi industri berikutnya. “Deal with it. Do something about it. It’s a tool, make it work for you,” ujar Borchetta defensif—sebuah pesan yang justru dianggap mengejek oleh generasi yang menghadapi ketidakpastian lapangan kerja.
Studi Gallup terbaru mengungkapkan bahwa Gen Z tidak yakin AI mampu meningkatkan kreativitas atau pemikiran kritis; mayoritas justru meyakini AI akan mengorbankan proses belajar. Sebaliknya, survei Thomson Reuters 2025 menempatkan baby boomer sebagai kelompok paling ambisius dalam memprediksi penetrasi AI di tempat kerja. Bagi boomer yang akrab dengan transisi dari mesin ketik ke komputer, AI dianggap sebagai alat intuitif penghemat waktu. Namun bagi Gen Z, AI adalah ancaman eksistensial yang menggerus nilai kerja manusia.
Peneliti media dan budaya dari Macquarie University, Siobhan Lyons, menulis bahwa resistensi ini bukan sekadar ketakutan teknologi, melainkan respons terhadap sistem ekonomi neoliberal yang telah puluhan tahun mengikis rasa aman dan harga diri generasi muda. “Mereka hidup dalam kontradiksi: didorong merangkul AI, namun merasakan sendiri bagaimana AI merusak pembelajaran,” tulis Lyons, mengutip psikolog sosial Shoshana Zuboff.
Konteks Indonesia pun tidak bisa dilepaskan. Di tengah gencarnya kampanye transformasi digital dan adopsi AI di sektor pendidikan dan industri, suara kritis generasi muda mulai terdengar. Banyak mahasiswa dan pekerja muda Indonesia khawatir otomatisasi akan menghilangkan lapangan kerja tradisional tanpa jaminan perlindungan sosial yang memadai. Program reskilling yang digaungkan pemerintah kerap terasa tidak seimbang dengan laju disrupsi, memicu pertanyaan: apakah Indonesia siap menghadapi resistensi serupa?
Perbedaan mendasar antara boomer dan Gen Z terletak pada pilihan. Di abad ke-20, teknologi seperti email atau ponsel bisa dievaluasi berdasarkan kompatibilitas dengan gaya hidup dan biaya. Kini, AI dan algoritma telah terintegrasi ke dalam sendi-sendi kehidupan—dari rekomendasi konten hingga keputusan rekrutmen—sehingga terasa tak terhindarkan. “Tech CEOs bilang dominasi AI tidak bisa dihindari, tapi mereka tidak berdialog dengan generasi muda,” tulis Lyons.
Penolakan Gen Z terhadap AI adalah pengingat bahwa masa depan bukanlah takdir yang sudah ditulis. Pertanyaan yang kini menggantung: mampukah generasi muda merebut kembali kendali atas masa depan mereka, atau justru akan terus terjebak dalam sistem yang memaksa mereka beradaptasi tanpa henti?



