Korban Tewas Kebakaran Bar di Bangkok: 27 dari 33 Meninggal karena Hirup Asap Beracun
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 27 dari 33 korban tewas dalam kebakaran bar di Bangkok meninggal akibat keracunan karbon monoksida dan sianida dari asap, bukan luka bakar.
- Pemilik tempat hiburan diduga menggunakan listrik bertegangan tinggi tanpa izin, yang diduga menjadi pemicu api.
- Pemerintah Bangkok akan menginspeksi 1.000 tempat hiburan dalam sebulan, tiga bar telah ditutup sementara karena tak memenuhi standar keselamatan.

Sebanyak 27 dari 33 korban tewas dalam kebakaran hebat yang melanda sebuah bar dan restoran populer di Bangkok pada Minggu malam lalu meninggal akibat menghirup asap beracun, bukan karena luka bakar. Hal itu terungkap setelah otopsi forensik terhadap seluruh korban selesai dilakukan.
Komandan Institut Kedokteran Forensik Thailand, Wiroon Supasingsiripreecha, mengungkapkan bahwa mayoritas korban meninggal karena keracunan karbon monoksida dan sianidaโdua gas beracun yang dihasilkan oleh api. Gas-gas tersebut, jika terhirup dalam jumlah besar, dapat menghalangi oksigen mencapai darah dan menyebabkan kematian dalam waktu empat menit. Enam korban lainnya meninggal di rumah sakit akibat luka bakar parah.
Kebakaran terjadi di Rong Beer Na Lat Phrao, sebuah tempat hiburan yang ramai dikunjungi. Hingga kini, jumlah korban tewas masih 33 orang, sementara 77 lainnya luka-luka. Pemilik bar dilaporkan dirawat di unit perawatan intensif segera setelah kebakaran, namun statusnya belum diketahui.
Investigasi awal oleh kepolisian menemukan bahwa tempat tersebut menggunakan listrik bertegangan tinggi tanpa persetujuan resmi, yang diduga menjadi faktor pemicu kebakaran. Pernyataan ini disampaikan oleh perwira senior Siam Boonsom pada Kamis lalu. Temuan ini menjadi sorotan karena menunjukkan lemahnya pengawasan terhadap standar kelistrikan di tempat hiburan.
Pasca tragedi, kepolisian dan pemerintah Bangkok mengumumkan akan menginspeksi 1.000 tempat hiburan di ibu kota dalam waktu satu bulan. Sejauh ini, tiga bar telah diperintahkan tutup sementara karena gagal memenuhi standar keselamatan. Seorang ahli keselamatan bangunan sebelumnya menilai bahwa Rong Beer Na Lat Phrao tampaknya tidak memiliki sistem keselamatan yang memadai untuk menampung kerumunan besar dan acara musik langsung yang biasa diadakan di sana.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan ketat terhadap tempat hiburan serupa. Di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, banyak bar dan klub malam yang beroperasi dengan izin minim dan standar keselamatan yang dipertanyakan. Otoritas Indonesia dapat mengambil pelajaran dari langkah cepat Thailand dalam melakukan inspeksi massal, serta pentingnya penegakan regulasi kelistrikan dan proteksi kebakaran.
Ke depan, pertanyaan besar yang mengemuka adalah: apakah inspeksi massal di Bangkok akan efektif mencegah tragedi serupa, atau justru menjadi formalitas belaka? Sementara itu, keluarga korban masih menanti kejelasan hukum dan kompensasi, sementara publik menuntut transparansi investigasi penyebab pasti kebakaran.



