Blogger China Divonis 20 Bulan Penjara karena Rekayasa Video Keamanan Mobil Listrik Xiaomi
Baca dalam 60 detik
- Seorang blogger dengan satu juta pengikut dijatuhi hukuman 20 bulan penjara dan denda Rp240 juta karena memanipulasi video uji tabrak mobil listrik Xiaomi SU7.
- Video palsu yang memperlihatkan pintu mobil tidak bisa dibuka setelah tabrakan itu ditonton tiga juta kali, namun terbukti direkayasa dengan baterai sengaja dirusak.
- Kasus ini menjadi sinyal keras pemerintah China dalam memberantas misinformasi di industri otomotif yang semakin ketat, termasuk potensi dampaknya pada pasar kendaraan listrik global.

Seorang blogger asal China bernama Gao harus mendekam di penjara selama 20 bulan setelah terbukti memanipulasi video uji tabrak mobil listrik Xiaomi SU7. Pengadilan Rakyat Distrik Haidian, Beijing, menjatuhkan vonis tersebut pada Jumat (17/7) atas tuduhan merusak reputasi produk dengan menyebarkan informasi palsu. Selain hukuman penjara, Gao juga diwajibkan membayar denda sebesar 100.000 yuan atau sekitar Rp240 juta.
Video yang diunggah Gao pada Agustus 2024 itu memperlihatkan mobil listrik andalan Xiaomi mengalami kegagalan fungsi setelah tabrakan: pintu tidak bisa dibuka, sistem panggilan darurat tidak aktif, dan layar kontrol pusat mati total. Konten tersebut langsung viral di akun media sosialnya yang memiliki sekitar satu juta pengikut, mengumpulkan lebih dari tiga juta tayangan. Publik pun dibuat khawatir akan keselamatan SU7 yang baru diluncurkan.
Namun, investigasi pengadilan mengungkapkan bahwa Gao dan timnya telah melakukan rekayasa. Mereka diam-diam merusak baterai tambahan kendaraan sebelum syuting dan menggunakan rekaman baterai yang telah dirusak oleh forklift untuk memperkuat kesan bahwa mobil tersebut tidak aman. Temuan ini membantah klaim dalam video yang seolah-olah menunjukkan kelemahan fatal pada sistem keselamatan Xiaomi.
Kasus ini menjadi bagian dari kampanye besar pemerintah China untuk membersihkan praktik curang di industri otomotif yang semakin sengit. Sejak tahun lalu, otoritas setempat gencar menindak iklan palsu, misinformasi daring, dan praktik tidak etis lain yang dinilai dapat mengganggu persepsi konsumen dan persaingan usaha. Blogger dan platform media sosial yang terbukti mencemarkan nama baik produsen mobil pun menjadi sasaran utama.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat pasar kendaraan listrik di Tanah Air juga mulai bergairah. Beberapa merek China, termasuk Xiaomi yang belum resmi masuk, telah menarik minat konsumen lokal. Kasus Gao mengingatkan bahwa informasi negatif yang tidak terverifikasi—terutama yang menyangkut keselamatan—dapat dengan cepat memengaruhi kepercayaan publik. Otoritas Indonesia, seperti Kementerian Perindustrian dan Badan Pengawas Obat dan Makanan, mungkin perlu memperkuat pengawasan terhadap konten otomotif di media sosial untuk melindungi konsumen.
“Blogger dan kaki tangannya yang sebelumnya dengan sengaja mencemarkan nama baik Xiaomi Auto telah ditangkap sesuai hukum,” demikian pernyataan resmi Xiaomi pada Januari 2025, seperti dikutip media setempat.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengadilan maupun Gao belum memberikan tanggapan atas vonis tersebut. Langkah hukum yang tegas ini menimbulkan pertanyaan: akankah efek jera mampu meredam praktik serupa di tengah maraknya konten otomotif yang mengandalkan sensasi? Atau justru sebaliknya, akan mendorong kreator konten untuk lebih berhati-hati dalam menyajikan informasi? Yang jelas, persaingan industri otomotif China kini tidak hanya terjadi di pabrik, tetapi juga di ruang digital.



