India Siap Luncurkan Roket Orbital Swasta Pertama, Target Ekonomi Antariksa Rp1.600 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Skyroot Aerospace akan meluncurkan roket orbital komersial pertama India sebelum 4 Agustus 2026, menandai era baru partisipasi swasta di sektor antariksa.
- Ekonomi antariksa India yang bernilai Rp342 triliun diperkirakan melonjak menjadi Rp1.790 triliun pada 2033, didorong oleh lebih dari 400 perusahaan rintisan.
- Indonesia dapat memetik pelajaran dari kebijakan India yang membuka investasi swasta di sektor antariksa, termasuk potensi kerja sama regional di bidang satelit dan peluncuran.

India akan mencatat sejarah baru dalam industri antariksa global dalam beberapa hari ke depan, ketika Skyroot Aerospace bersiap meluncurkan roket orbital komersial pertama yang dikembangkan oleh perusahaan swasta di negara itu. Langkah ini tidak hanya memperkuat posisi India sebagai pemain utama di sektor antariksa, tetapi juga membuka peluang besar bagi ekonomi bernilai miliaran dolar yang terus bertumbuh.
Sejak sektor antariksa India dibuka untuk investasi swasta pada 2020, lebih dari 400 perusahaan rintisan telah bermunculan, mendorong nilai ekonomi antariksa New Delhi mencapai US$8,4 miliar atau sekitar Rp342 triliun. Kini, dengan rencana peluncuran roket Skyroot sebelum 4 Agustus 2026, India menunjukkan bahwa transisi dari monopoli negara menuju ekosistem publik-swasta berjalan cepat dan terukur.
Departemen Antariksa India menyebut pencapaian ini sebagai cerminan kepercayaan diri, kematangan teknologi, dan visi jangka panjang. โIndia mengejar tujuan ambisius di bidang eksplorasi luar angkasa, sains antariksa, penerbangan manusia, dan infrastruktur orbital,โ demikian pernyataan resmi mereka. Keberhasilan ini juga tidak lepas dari kolaborasi erat antara Organisasi Riset Antariksa India (ISRO) dengan perusahaan swasta yang juga terlibat dalam proyek pertahanan, menciptakan sinergi antara keamanan dan antariksa.
Sejak meluncurkan satelit pertamanya pada 1975 menggunakan roket Soviet, India telah membangun reputasi sebagai penyedia misi antariksa yang efisien dan murah. Hingga kini, ISRO telah meluncurkan lebih dari 430 satelit asingโmenghasilkan pendapatan lebih dari US$600 jutaโdan 144 satelit milik sendiri. Untuk mendukung pertumbuhan ini, India memperluas landasan peluncuran di Sriharikota, Andhra Pradesh, dan membangun pelabuhan antariksa kedua di Kulasekarapattinam, Tamil Nadu.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi antariksa India sangat ambisius: US$44 miliar pada 2033 dan US$100 miliar pada 2040. Angka ini menjadikan India sebagai salah satu pasar antariksa dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Selain bekerja sama dengan NASA, India juga menjalin kemitraan dengan Badan Antariksa Eropa, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Arab Saudi. Rusia pun mendukung persiapan misi berawak India.
Misi berawak perdana India, Gaganyaan, dijadwalkan melakukan uji terbang tanpa awak pertama pada akhir 2026. Program ini bertujuan mengirim tiga astronaut India ke orbit setinggi 400 kilometer selama tiga hari. Sebagai persiapan, pilot Angkatan Udara India Shubhanshu Shukja telah bergabung dengan misi SpaceX Dragon pada 2025, menjadi warga India pertama yang mencapai Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Perdana Menteri Narendra Modi juga telah mencanangkan target memiliki stasiun luar angkasa sendiri pada 2035 dan mengirim astronaut ke Bulan pada 2040.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menawarkan pelajaran berharga. Langkah India membuka sektor antariksa bagi swasta telah memicu pertumbuhan ekonomi yang pesat dan inovasi teknologi. Indonesia, yang tengah mengembangkan ekosistem antariksa nasional melalui lembaga seperti LAPAN dan BRIN, dapat mempertimbangkan kebijakan serupa untuk menarik investasi dan mempercepat kemandirian di bidang satelit dan peluncuran. Kerja sama regional dengan India pun terbuka lebar, terutama dalam hal peluncuran satelit komersial dan pengembangan sumber daya manusia.
Dengan ambisi besar India untuk menjadi kekuatan antariksa global, pertanyaan yang muncul adalah: sejauh mana negara-negara tetangga seperti Indonesia dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat posisi mereka di kancah antariksa Asia?



