Malaysia Fest 2026 Incar Pasar Singapura dengan Buah Langka dari Hutan
Baca dalam 60 detik
- Pameran Malaysia Fest 2026 di Singapura akan memperkenalkan buah-buahan tropis langka yang belum banyak dibudidayakan secara komersial.
- Otoritas pemasaran pertanian Malaysia menargetkan penjualan langsung Rp50 miliar dari 343 stan selama empat hari penyelenggaraan.
- Festival ini menjadi ajang uji pasar bagi produk agro Malaysia sebelum ditingkatkan skala produksinya untuk ekspor.

Otoritas Pemasaran Pertanian Federal Malaysia (FAMA) akan memanfaatkan Malaysia Fest 2026 sebagai etalase bagi buah-buahan tropis langka yang selama ini hanya tumbuh liar di hutan atau dibudidayakan dalam skala kecil, dengan harapan produk-produk tersebut mampu merebut hati konsumen Singapura. Festival edisi kesembilan yang digelar di Singapore Expo pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 ini menargetkan kunjungan lebih dari 180.000 orang dan transaksi langsung senilai 15 juta ringgit atau sekitar Rp50 miliar.
Direktur Senior Divisi Pasar Internasional FAMA, Noorsham Ramly, mengungkapkan bahwa pihaknya sengaja membawa komoditas yang jarang ditemukan, bahkan di pasar domestik Malaysia. “Kami ingin memperkenalkan buah-buahan seperti jeruk nipis manis, blewah batu, jambu biji Lohan, mangga Chokanan, sawo raksasa (ciku mega), dan cempedak king. Jika respons pasar positif, produk-produk ini bisa dikembangkan secara industrial,” ujarnya dalam peluncuran awal festival di Singapura, Jumat lalu.
Acara yang mengusung tema “Unveil the Wonders of Malaysia” ini juga dihadiri oleh Duta Besar Malaysia untuk Singapura, Datin Paduka Anizan Siti Hajjar Adnin. Dengan 343 stan yang tersedia, penyelenggara—MegaXpress International Pte Ltd bersama dukungan FAMA dan Tourism Malaysia—menyiapkan panggung bagi aneka kuliner eksotis dan pertunjukan budaya dari seluruh negara bagian Malaysia.
Langkah FAMA ini menarik perhatian karena tidak hanya bertujuan menjual, tetapi juga menguji potensi komersialisasi buah-buahan yang selama ini terabaikan. Noorsham menekankan bahwa target penjualan langsung sebesar 15 juta ringgit per edisi dinilai realistis berdasarkan capaian tahun-tahun sebelumnya. “Kami menetapkan angka itu karena terbukti dapat dicapai, dengan mempertimbangkan kesuksesan edisi sebelumnya,” katanya.
Bagi Indonesia, pameran ini menjadi pengingat akan potensi besar buah-buahan tropis Nusantara yang belum tergarap optimal. Malaysia secara agresif memasarkan produk agro ke Singapura—pasar dengan daya beli tinggi dan selera terhadap produk premium. Sementara itu, Indonesia masih bergulat dengan masalah rantai pasok dan standarisasi mutu untuk menembus pasar serupa. Keberhasilan Malaysia Fest bisa menjadi tolok ukur bagi strategi promosi produk pertanian Indonesia di kancah regional.
Noorsham menambahkan bahwa buah-buahan yang dipamerkan saat ini mungkin hanya ditanam dalam skala kecil atau tumbuh liar di hutan. “Jika ada permintaan kuat, kami bisa mendorong industrialisasi,” ujarnya. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa FAMA tidak hanya berhenti pada pameran, tetapi juga merancang hilirisasi produk-produk langka tersebut.
Dengan target pengunjung yang cukup besar—setara dengan sepertiga populasi Singapura—Malaysia Fest 2026 diproyeksikan menjadi barometer bagi tren konsumsi buah eksotis di kota-negara tersebut. Pertanyaannya, apakah Indonesia akan mengikuti jejak Malaysia dengan menggelar festival serupa untuk memperkenalkan durian lokal, manggis, atau salak ke pasar Singapura yang sama?



