Wall Street Terkoreksi, Saham Teknologi Tertekan Kekhawatiran Valuasi AI dan Ketegangan Iran-AS
Baca dalam 60 detik
- Indeks Nasdaq ambles 1,5% dipimpin aksi jual saham semikonduktor, sementara Kospi Korea Selatan jatuh lebih dari 6% akibat kekhawatiran valuasi AI yang terlalu tinggi.
- Harga minyak mentah berfluktuasi di tengah serangan balasan AS-Iran, dengan Rystad Energy menaikkan probabilitas tidak tercapainya kesepakatan substantif menjadi 55%.
- Data penjualan ritel AS yang tumbuh tipis 0,2% secara bulanan mengindikasikan permintaan konsumen masih solid, tetapi tekanan dari sektor energi dan teknologi membayangi prospek pasar.

Bursa saham global kompak melemah pada perdagangan Kamis (16/7) setelah aksi jual besar-besaran di saham semikonduktor merembet dari Asia ke Eropa dan Amerika Serikat, sementara harga minyak bergerak tak menentu imbas saling serang antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi.
Indeks Nasdaq yang sarat teknologi anjlok 1,5 persen, menjadi yang terburuk di Wall Street. Tekanan jual juga melanda bursa Korea Selatan, di mana Kospi ambrol lebih dari 6 persen setelah raksasa chip SK hynix dan Samsung kehilangan nilai signifikan. Investor mulai mempertanyakan apakah gelombang kecerdasan buatan (AI) yang mendorong kedua perusahaan ke rekor tertinggi awal tahun ini sudah mencapai puncaknya. Kekhawatiran bahwa investasi miliaran dolar di sektor AI belum akan segera membuahkan hasil membuat valuasi saham yang sudah melambung tinggi terasa semakin tidak masuk akal.
Menariknya, pelemahan saham terjadi meskipun beberapa emiten semikonduktor melaporkan kinerja gemilang. TSMC, raksasa chip asal Taiwan, mencatat lonjakan laba bersih lebih dari 77 persen ke rekor tertinggi pada kuartal kedua berkat permintaan besar perangkat keras AI. Perusahaan juga mengumumkan investasi tambahan 100 miliar dolar AS di Arizona, Amerika Serikat. Namun, saham TSMC di New York justru tertekan. Hal serupa dialami ASML, perusahaan Belanda yang memproduksi mesin litografi vital bagi industri chip, yang sahamnya turun meski baru saja merilis laba fantastis. "Semua ini membuat orang bertanya-tanya, apa lagi yang harus dilakukan perusahaan teknologi AS untuk membuat investor benar-benar bersemangat lagi?" ujar David Morrison, analis pasar di Trade Nation, seraya menambahkan bahwa musim laporan keuangan akan semakin krusial dalam dua pekan ke depan.
Di sisi lain, data ekonomi AS yang dirilis Kamis menunjukkan penjualan ritel hanya naik 0,2 persen secara bulanan, melambat dibandingkan lonjakan 1,0 persen pada Mei. Meski demikian, analis menilai angka tersebut masih mencerminkan permintaan konsumen yang solid, terutama karena harga bensin yang lebih rendah. Namun, sentimen positif dari data ritel tidak mampu menahan tekanan dari dua sumber utama: keraguan terhadap valuasi AI dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. "Harga minyak yang lebih tinggi juga semakin menguji pandangan konsensus bahwa tekanan biaya puncak sudah berlalu," kata Jose Torres, ekonom senior di Interactive Brokers.
Ketegangan AS-Iran memasuki babak baru setelah kedua negara saling melancarkan serangan. Harga minyak sempat berfluktuasi, meskipun pada akhirnya turun tipis pada Kamis. Analis Rystad Energy menaikkan probabilitas bahwa tidak akan ada "kesepakatan substantif" antara kedua negara menjadi 55 persen. Jorge Leon, wakil presiden senior Rystad, mengatakan bahwa meskipun AS dan Iran memiliki insentif ekonomi kuat untuk menghindari keruntuhan total, masih ada perbedaan mendasar terkait program nuklir Iran dan Selat Hormuz. "Setelah 16 Agustus, pertanyaannya bukan lagi apakah diplomasi bisa menyelesaikan masalah, melainkan apakah pasar pengiriman bisa beradaptasi dengan ancaman yang berkelanjutan," ujar Leon.
Bagi Indonesia, gejolak pasar global ini patut dicermati. Pelemahan saham teknologi dapat berdampak pada aliran modal asing ke bursa saham domestik, sementara ketidakpastian harga minyak berpotensi mempengaruhi beban subsidi energi dan inflasi. Investor diharapkan tetap waspada terhadap volatilitas jangka pendek sembari mencermati perkembangan negosiasi AS-Iran dan musim laporan keuangan perusahaan teknologi AS yang akan menjadi penentu arah pasar ke depan.



