Spanyol Terbakar: Kebakaran Hutan di Aragon Hanguskan 12.000 Hektar, Suhu Capai 40°C
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran hutan di timur laut Spanyol telah menghanguskan lebih dari 12.000 hektar lahan, memicu evakuasi lima desa kecil di wilayah Aragon.
- Peristiwa ini terjadi hanya sepekan setelah kebakaran di Andalusia selatan yang menewaskan 13 orang, menjadikannya musim panas paling mematikan dalam sejarah Spanyol.
- Para ilmuwan mengaitkan peningkatan frekuensi dan intensitas kebakaran dengan perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia, memperburuk upaya pemadaman.

Kebakaran hutan yang telah melanda timur laut Spanyol selama dua hari terakhir menghanguskan lebih dari 12.000 hektar lahan, mendorong evakuasi lima desa kecil dan mengerahkan ratusan petugas pemadam kebakaran. Otoritas regional Aragon, Jumat (17/7), memperingatkan risiko penyebaran api yang sangat tinggi di tengah gelombang panas yang mencapai 40 derajat Celsius.
Roberto Bermúdez de Castro, pejabat keamanan pemerintah daerah Aragon, menyebut malam sebelumnya sangat kompleks dan sulit. "Kami memperkirakan area yang terbakar melebihi 12.000 hektar (29.650 acre)," ujarnya kepada media setempat. Lebih dari 450 petugas pemadam kebakaran, dibantu personel tentara, berjibaku menjinakkan api di dekat kota Zaragoza, kawasan berpenduduk jarang.
Kebakaran ini menjadi pukulan kedua bagi Spanyol setelah tragedi di Andalusia selatan pekan lalu yang menewaskan 13 orang, termasuk tujuh warga Inggris dan satu warga Amerika Serikat. Peristiwa itu menghancurkan 7.000 hektar lahan dan tercatat sebagai kebakaran paling mematikan dalam sejarah modern Spanyol. Perdana Menteri Pedro Sanchez, saat mengunjungi lokasi kebakaran Andalusia, memperingatkan bahwa Spanyol menghadapi "musim panas yang rumit" untuk kebakaran hutan.
Para ilmuwan menegaskan bahwa perubahan iklim yang disebabkan aktivitas manusia meningkatkan durasi, intensitas, dan frekuensi gelombang panas ekstrem. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang ideal bagi penyebaran api dan mempersulit upaya pemadaman. Spanyol, seperti negara-negara Mediterania lainnya, rentan terhadap kebakaran hutan selama musim panas, namun tahun ini menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan ancaman serupa di musim kemarau. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan kerap dipicu oleh praktik pembukaan lahan dan cuaca kering akibat El Niño. Meskipun skala dan penyebabnya berbeda, perubahan iklim global memperparah risiko kebakaran di kedua negara. Pemerintah Indonesia telah memperkuat sistem peringatan dini dan patroli terpadu, namun tantangan tetap besar mengingat luasnya area gambut yang mudah terbakar.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah Spanyol dan negara-negara lain mampu beradaptasi dengan "normal baru" kebakaran hutan yang semakin sering dan dahsyat. Investasi dalam pencegahan, deteksi dini, dan respons cepat menjadi krusial, namun tanpa pengendalian emisi gas rumah kaca secara global, upaya tersebut mungkin hanya menjadi solusi sementara.



