Pagar Mendadak di Mal Surabaya: Antisipasi Resesi atau Sekadar Pengamanan?
Baca dalam 60 detik
- Tiga pusat perbelanjaan milik Pakuwon Group di Surabaya memasang pagar setinggi 2,5โ3 meter, memicu spekulasi warganet tentang antisipasi krisis ekonomi.
- Manajemen Pakuwon membantah kaitan dengan lesunya ekonomi, mengklaim pagar untuk keamanan dan penggantian pagar lama yang keropos.
- Pemasangan pagar di Tunjungan Plaza juga dikaitkan dengan antisipasi demonstrasi di Gedung Grahadi, namun perusahaan menegaskan kondisi bisnis tetap baik.

Pemasangan pagar setinggi 2,5 hingga 3 meter di tiga mal milik Pakuwon Group di Surabaya memicu perdebatan di media sosial, dengan banyak warganet menduga langkah itu sebagai bentuk antisipasi terhadap lesunya ekonomi. Namun, pengelola mal dengan tegas membantah spekulasi tersebut.
Pakuwon Mall di Surabaya Barat, Royal Plaza di Surabaya Selatan, dan Pakuwon City Mall di Surabaya Timur mulai dipagari dengan besi palisade hijau yang ujungnya runcing. Di Pakuwon Mall, pagar memisahkan area parkir dan pintu masuk dari trotoar, sementara di Royal Plaza, sebagian pagar beton dan besi masih dalam pengerjaan.
Direktur Marketing Pakuwon Group Sutandi Purnomosidi menegaskan bahwa pembangunan pagar tidak ada kaitannya dengan kondisi ekonomi atau situasi sosial-politik. "Tidak ada antisipasi apapun. Kita yakin Indonesia aman sejahtera, NKRI harga mati," ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (17/7). Ia juga menyebutkan bahwa laporan keuangan perusahaan yang terbuka (Tbk) menunjukkan kinerja retail yang baik pada semester pertama 2026.
Sutandi menjelaskan bahwa pemasangan pagar di setiap mal memiliki alasan spesifik. Di Pakuwon Mall, pagar dibangun untuk mengantisipasi kecelakaan pejalan kaki setelah selesainya pembangunan Radial Road. Sementara di Royal Plaza, pagar lama yang sudah keropos diganti dengan bahan lebih kokoh. "Karena waktu pemasangan berdekatan, kami rencanakan bangun bersama, termasuk di Pakuwon City Mall," katanya.
Menariknya, Sutandi tidak menampik bahwa maraknya demonstrasi yang kerap terpusat di Gedung Negara Grahadi turut menjadi pertimbangan untuk pemagaran Tunjungan Plaza (TP). "Daripada pihak keamanan harus bolak-balik menggeret barikade," ujarnya. Namun, ia tetap menekankan bahwa fungsi utama pagar adalah keamanan, bukan respons terhadap ancaman tertentu. Ia menganalogikan pagar mal seperti pagar rumah pribadi yang berfungsi melindungi tanpa perlu dikaitkan dengan bahaya spesifik.
Keputusan Pakuwon Group ini menjadi sorotan karena terjadi di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi global. Namun, data internal perusahaan menunjukkan sektor retail masih tumbuh, terutama selama libur sekolah dua pekan terakhir. "Mall masih ramai semua. Jadi enggak ada kekhawatiran seperti itu," tegas Sutandi. Pertanyaan yang tersisa adalah apakah langkah pengamanan ini akan diikuti oleh pusat perbelanjaan lain di kota-kota besar Indonesia, atau sekadar kebutuhan operasional semata.



