Uefa Tolak Gunakan VAR untuk Hukum Diving Seperti di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Uefa melarang wasit video menggunakan aturan mistaken identity untuk menindak diving, berbeda dengan praktik di Piala Dunia 2026.
- Keputusan ini diambil karena Uefa menilai diving bersifat subjektif dan membutuhkan tinjauan monitor, bukan sekadar koreksi fakta.
- Liga-liga domestik Eropa diperkirakan akan mengikuti sikap Uefa untuk menghindari kekacauan akibat peninjauan setiap kartu kuning.

Uefa memutuskan tidak akan menggunakan teknologi Video Assistant Referee (VAR) untuk menghukum pemain yang melakukan diving atau simulasi, berbeda dengan pendekatan yang diterapkan pada Piala Dunia 2026. Keputusan ini diambil setelah aturan baru dari International Football Association Board (Ifab) yang memungkinkan VAR mengoreksi kartu kuning atau merah jika terjadi kesalahan identitas pemain, justru dimanfaatkan untuk menjerat pelaku diving di turnamen empat tahunan tersebut.
Dalam Piala Dunia 2026, VAR dua kali mengoreksi keputusan wasit terkait diving. Pertama, kartu kuning untuk bek Amerika Serikat, Tim Ream, dicabut dan dialihkan ke pemain Paraguay, Miguel Almiron, karena dianggap melakukan simulasi. Kedua, striker Swiss, Breel Embolo, mendapat kartu kuning kedua dan diusir keluar lapangan pada perempat final melawan Argentina setelah wasit meninjau tayangan ulang dan menganggap Embolo yang memulai kontak. Padahal, awalnya wasit memberikan kartu kuning untuk Leandro Paredes karena pelanggaran keras.
Keputusan kontroversial itu terjadi hanya lima menit setelah Swiss menyamakan kedudukan 1-1. Argentina akhirnya menang 3-1 setelah perpanjangan waktu. Meskipun langkah ini populer di kalangan suporter yang ingin memberantas diving, sejumlah liga domestik Eropa justru terkejut dan khawatir. Mereka menilai aturan mistaken identity untuk diving tidak pernah dibahas sebelumnya dan berpotensi menimbulkan kekacauan.
โSetiap kartu kuning bisa ditinjau ulang untuk potensi diving. Ini akan menciptakan sistem dua tingkat, di mana diving hanya bisa dihukum jika wasit sudah mengeluarkan kartu kuning,โ ujar salah satu perwakilan liga yang dihubungi BBC Sport. Kekhawatiran lain adalah tekanan tambahan pada wasit dan potensi kontroversi jika gol tercipta dari tendangan bebas akibat pelanggaran yang dilebih-lebihkan tanpa kartu kuning.
Dalam pertemuan dengan para ofisial di babak kualifikasi kompetisi Eropa pekan ini, Uefa secara tegas menyatakan bahwa VAR hanya boleh menggunakan aturan baru untuk kasus mistaken identity yang murni. Pierluigi Collina, kepala wasit FIFA, sebelumnya memberikan contoh dari final Euro 2016: wasit Mark Clattenburg memberikan tendangan bebas untuk Portugal dan kartu kuning untuk Laurent Koscielny karena handball, padahal Eder yang menggunakan tangan. Dalam kasus itu, VAR bisa mengoreksi. Namun, tidak ada satu pun dalam briefing selama berbulan-bulan yang menyebut diving sebagai sasaran.
Uefa berargumen bahwa mistaken identity adalah keputusan faktual yang tidak memerlukan wasit meninjau monitor. Sebaliknya, mengubah pelanggaran menjadi diving bersifat subjektif dan membutuhkan tinjauan layar, seperti yang terjadi pada kasus Almiron dan Embolo. Karena itu, Uefa menilai diving bukan bagian dari mistaken identity. Meski demikian, VAR tetap bisa menghukum diving jika pemain yang melakukan pelanggaran mendapat kartu kuning kedua yang salah, atau jika diving menghasilkan kartu merah langsung atau penalti yang keliru.
Selain itu, Uefa juga menolak opsi untuk mengeluarkan kartu merah bagi pemain yang menutup mulut saat konfrontasi, seperti yang terjadi pada Almiron dan Piero Hincapie di Piala Dunia. Pekan depan, para kepala wasit dari 54 negara anggota Uefa akan mengadakan pertemuan puncak untuk membahas semua aspek penggunaan VAR. BBC Sport memahami bahwa liga domestik kemungkinan akan mengikuti sikap Uefa dan hanya menggunakan mistaken identity sebagai tinjauan faktual.
โJika wasit memberikan tendangan bebas karena pelanggaran yang dilebih-lebihkan tanpa kartu kuning, kontroversi pasti akan muncul. Aturan ini belum siap untuk diterapkan di liga domestik,โ ujar seorang sumber dari liga Eropa.
Implikasi bagi Indonesia? Meskipun PSSI belum mengadopsi VAR secara penuh, keputusan Uefa ini menjadi preseden penting. Jika Indonesia kelak menerapkan VAR, perlu ada kejelasan apakah diving akan ditindak tegas atau tidak. Tanpa aturan yang seragam, potensi kontroversi di kompetisi domestik bisa meningkat. Pertanyaan selanjutnya: akankah FIFA mendorong penggunaan VAR untuk diving di semua kompetisi, atau membiarkan masing-masing federasi memilih?



