Piala Dunia 2026: Lima Alasan Inggris Tak Perlu Berkabung Usai Tersingkir
Baca dalam 60 detik
- Harry Kane dan Jude Bellingham masing-masing mengoleksi enam gol, menjadikan Inggris satu-satunya tim dengan dua kandidat Sepatu Emas.
- Empat dari lima turnamen besar terakhir berakhir di semifinal atau final, bukti konsistensi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah The Three Lions.
- Generasi muda seperti Rio Ngumoha dan Max Dowman siap menggantikan pilar senior, menjanjikan masa depan cerah di Euro 2028 dan Piala Dunia 2030.

Kekalahan semifinal Piala Dunia 2026 dari Argentina memang perih, namun di balik kekecewaan itu tersimpan sejumlah pencapaian yang patut diapresiasi. Timnas Inggris tidak hanya menunjukkan peningkatan performa, tetapi juga memiliki fondasi kuat untuk bersaing di turnamen-turnamen mendatang.
Duet Harry Kane dan Jude Bellingham menjadi senjata utama lini depan Inggris. Keduanya sama-sama mengoleksi enam gol, menempatkan mereka dalam persaingan Sepatu Emas bersama Kylian Mbappe dan Lionel Messi yang memimpin dengan delapan gol. Kane, yang rata-rata mencetak gol setiap 66 menit bersama Bayern Munich musim ini, tampil konsisten sejak fase grup. Sementara Bellingham, yang sempat diragukan setelah musim yang kurang gemilang di Real Madrid, justru menjadi pembeda saat kritisโdua golnya ke gawang Norwegia memastikan tempat di semifinal.
Konsistensi Inggris di turnamen besar juga patut diacungi jempol. Sebelum 2018, The Three Lions hanya sekali menembus semifinal sejak 1990. Kini, dalam lima turnamen terakhir, mereka mencapai semifinal atau final sebanyak empat kali. Meski tanpa gelar, capaian ini menunjukkan lompatan signifikan dibanding era sebelumnya. โKami telah mengubah ekspektasi. Kini semifinal adalah standar, bukan kejutan,โ ujar seorang analis sepak bola Inggris.
Faktor eksternal seperti cuaca ekstrem juga berhasil diatasi Inggris. Pertandingan melawan Meksiko di ketinggian Stadion Azteca, serta kelembaban tinggi di Miami, tidak menjadi hambatan berarti. Tim asuhan Thomas Tuchel menunjukkan adaptasi fisik dan mental yang baik, berkat pemusatan latihan pra-turnamen. Kemampuan ini diyakini akan berguna saat Euro 2028 yang digelar di iklim Eropa yang lebih bersahabat.
Keputusan Tuchel membawa Djed Spence, bek Tottenham yang berjuang menjauh dari zona degradasi, terbukti tepat. Spence tampil solid sepanjang turnamen dan mendapat pujian khusus setelah semifinal. โDia membuktikan bahwa pemain dari klub papan bawah pun bisa bersinar di panggung terbesar,โ komentar seorang pengamat. Selain Spence, pemain muda seperti Rio Ngumoha (Liverpool) dan Max Dowman (Arsenal) juga menjadi sorotan. Dowman, yang menjadi pencetak gol termuda Premier League di usia 16 tahun, diprediksi akan menjadi bintang di masa depan.
Bagi Indonesia, perjalanan Inggris ini memberikan pelajaran tentang pentingnya regenerasi dan konsistensi. Federasi sepak bola Indonesia (PSSI) bisa meniru pendekatan Tuchel yang berani memberi kesempatan pada pemain muda tanpa mengorbankan hasil. Dengan Piala Dunia 2034 yang mungkin diikuti Indonesia, pembinaan pemain usia dini menjadi krusial.
Langkah Inggris selanjutnya adalah pertandingan perebutan tempat ketiga melawan Perancis, lalu Nations League pada September. Fokus utama tetaplah Euro 2028 yang akan digelar di kandang sendiri. Bisakah Tuchel membawa pulang trofi setelah dua kali gagal di final? Atau akankah generasi emas ini kembali menuai kekecewaan?



