WHO Rilis Pedoman Baru: 45% Kasus Demensia Bisa Dicegah Lewat Gaya Hidup
Baca dalam 60 detik
- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperbarui panduan pencegahan demensia dengan menambahkan polusi udara sebagai faktor risiko baru yang bisa dimodifikasi.
- Hingga 45% kasus demensia global terkait faktor yang dapat diubah seperti kurang aktivitas fisik, isolasi sosial, dan pola makan tidak sehat.
- Pedoman ini mendorong intervensi multidomain yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal, termasuk di negara berkembang seperti Indonesia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 15 Juli 2026 merilis pedoman terbaru yang menegaskan bahwa hampir setengah dari seluruh kasus demensia di dunia dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup dan pengelolaan faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Dokumen ini memperbarui rekomendasi pertama yang diterbitkan pada 2019, dengan menambahkan polusi udara sebagai ancaman baru bagi kesehatan otak.
Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa saat ini pemahaman tentang pemicu demensia jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. “Negara-negara kini memiliki rekomendasi berbasis bukti yang dapat segera diterapkan untuk melindungi kesehatan kognitif warganya,” ujarnya dalam siaran pers. Saat ini, lebih dari 57 juta orang di seluruh dunia hidup dengan demensia, dan angka ini terus meningkat, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Pedoman WHO mengelompokkan intervensi ke dalam empat kategori utama: perilaku sehat (aktivitas kognitif, sosial, fisik, konsumsi alkohol, tembakau, dan nutrisi), kondisi kesehatan yang mendasari, faktor biologis, dan paparan lingkungan. Salah satu rekomendasi baru yang menonjol adalah pengakuan terhadap polusi udara, khususnya partikel PM2.5, sebagai faktor risiko yang dapat mempercepat penurunan kognitif. Partikel mikroskopis ini dapat menembus sawar darah-otak dan memicu peradangan saraf.
Rekomendasi lain yang diperbarui mencakup aktivitas fisik secara teratur, penghentian kebiasaan merokok, pembatasan konsumsi alkohol, dan pola makan sehat seperti diet Mediterania, DASH, atau MIND. WHO juga menegaskan bahwa suplemen vitamin B, E, omega-3, atau multivitamin tidak dianjurkan untuk pencegahan demensia kecuali ada defisiensi, karena kurangnya bukti dan potensi efek samping. Sebaliknya, pola makan seimbang yang kaya antioksidan dan anti-inflamasi lebih diutamakan.
Dalam konteks Indonesia, pedoman ini relevan mengingat prevalensi demensia diperkirakan meningkat seiring bertambahnya usia harapan hidup. Faktor seperti polusi udara di kota-kota besar, rendahnya aktivitas fisik, dan pola makan tinggi gula serta lemak menjadi tantangan tersendiri. Program intervensi multidomain yang disesuaikan dengan budaya lokal—misalnya dengan memasukkan senam tradisional atau permainan kognitif berbasis kearifan lokal—dapat menjadi strategi efektif, seperti yang dicontohkan dalam studi di Amerika Latin yang menggunakan tarian tango dan salsa.
“Mulailah dengan hal mendasar. Bangun gaya hidup yang menjaga metabolisme sehat, prioritaskan aktivitas fisik teratur, makan dengan cara yang mengontrol gula darah dan mengurangi peradangan, jadikan tidur pemulihan sebagai prioritas, tetap terhubung secara sosial dan terstimulasi secara mental, serta minimalkan paparan yang dapat dihindari seperti merokok dan polusi udara,” kata Dr. David Perlmutter, seorang neurolog bersertifikat yang tidak terlibat dalam laporan tersebut.
Meski pedoman ini memberikan panduan komprehensif, beberapa ahli menyoroti ketiadaan rekomendasi khusus tentang tidur dan paparan cahaya alami. Dr. John La Puma, seorang internis, menilai bahwa WHO melewatkan faktor penting berupa cahaya alami pada waktu dan dosis yang tepat, yang menurut data terbaru terkait dengan penurunan risiko demensia. Namun, Dr. Perlmutter berpendapat bahwa hal ini mencerminkan standar bukti yang sangat ketat yang diterapkan WHO.
Ke depan, implementasi pedoman ini di Indonesia membutuhkan kolaborasi lintas sektor: dari kebijakan pengendalian polusi, promosi gaya hidup aktif, hingga deteksi dini gangguan pendengaran dan pengelolaan penyakit kronis. Pertanyaan besarnya, mampukah sistem kesehatan dan kebijakan publik kita beradaptasi untuk menekan laju demensia yang diproyeksikan terus meningkat?



