Prabowo Sindir Ramalan 'Indonesia Collapse': Juni Lewat, Juli Juga Tak Terbukti
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto mengejek prediksi pesimistis yang menyebut Indonesia akan runtuh pada Juni, karena hingga Juli tak ada tanda-tanda kehancuran.
- Prabowo menegaskan pemerintahannya fokus pada kerja nyata dan optimisme, bukan pada narasi negatif yang terus digaungkan pihak tertentu.
- Ia kembali menekankan pentingnya kemandirian bangsa dan pemanfaatan kekayaan alam untuk kesejahteraan rakyat, tanpa bergantung pada kekuatan asing.

Presiden Prabowo Subianto melontarkan sindiran tajam terhadap pihak-pihak yang terus meramalkan kehancuran Indonesia. Dalam sebuah acara panen raya bersama TNI di Malang, Jumat (17/7), ia menyinggung prediksi yang menyebut Indonesia akan collapse pada Juni laluโsebuah ramalan yang hingga kini tak terbukti. "Ini udah Juli, masih saja ada yang bicara collapse. Biarin aja," ujarnya dengan nada sinis.
Pernyataan tersebut menjadi respons atas narasi pesimistis yang belakangan kerap muncul di ruang publik, termasuk gerakan 'Indonesia Gelap' yang menyuarakan ketidakpuasan terhadap kondisi bangsa. Prabowo menilai bahwa mereka yang terus-menerus melihat sisi buruk hanya akan terjebak dalam kegelapan. "Kalau pakai kacamata gelap, ya, gelap terus," katanya, mengkritik sikap mental yang selalu mengedepankan kekurangan.
Di hadapan para petani dan aparat TNI, Prabowo menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan terpengaruh oleh ramalan-ramalan miring. Ia justru mengajak seluruh elemen bangsa untuk fokus pada kerja keras dan optimisme. "Kita tidak mau menjadi bangsa yang santai. Kita akan buktikan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia sedang bangkit dengan kekuatan kita sendiri," tegasnya.
Lebih jauh, Prabowo menyoroti ketimpangan antara kekayaan alam Indonesia yang melimpah dengan kesejahteraan rakyat yang belum merata. Ia mengakui bahwa sudah terlalu lama rakyat Indonesia hidup dalam kondisi kurang layak, padahal sumber daya alam yang dimiliki sangat besar. Pemerintahannya, kata dia, bertekad untuk mengubah paradigma tersebut dengan memastikan seluruh rakyat menikmati hasil kekayaan bangsa.
Prabowo juga mengkritik sikap 'membebek' atau mengekor pada kekuatan asing. Menurutnya, Indonesia harus mampu berdiri di atas kaki sendiri tanpa terus-menerus bergantung pada pihak luar. "Indonesia jelek, Indonesia apa, Indonesia gelapโitu semua karena cara pandang yang salah. Kita harus optimistis dan bekerja keras," tambahnya.
Optimisme Prabowo ini muncul di tengah berbagai tantangan ekonomi global dan domestik. Namun, ia meyakini bahwa dengan semangat gotong royong dan kemandirian, Indonesia bisa menjadi negara maju. "Kami akan memberikan yang terbaik dalam waktu secepat-cepatnya," janjinya, seraya mengajak semua pihak untuk tidak terjebak dalam pesimisme.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah: mampukah pemerintah Prabowo membuktikan bahwa ramalan-ramalan pesimistis itu keliru, sekaligus mewujudkan kesejahteraan yang merata? Atau justru narasi optimisme ini akan kembali diuji oleh realitas lapangan?



