25 Tahun 'Them': Saat Jon Ronson Membawa Alex Jones ke Panggung Dunia
Baca dalam 60 detik
- Buku Them: Adventures with Extremists karya Jon Ronson genap 25 tahun, mengupas pertemuan dengan tokoh ekstremis yang justru melambungkan nama konspirator Alex Jones.
- Karya yang terbit April 2001 ini dinilai visioner karena meramalkan normalisasi teori konspirasi, dari New World Order hingga QAnon, yang kini meruyak di era misinformasi.
- Di Indonesia, pola serupa mulai terlihat: kelompok radikal dan penyebar hoaks memanfaatkan narasi elite global untuk menggerus kepercayaan publik terhadap institusi.

Dua puluh lima tahun lalu, jurnalis Jon Ronson menerbitkan buku yang tak hanya mengubah kariernya, tetapi juga tanpa sengaja melambungkan nama seorang penyiar radio pinggiran asal Texas: Alex Jones. Dalam Them: Adventures with Extremists, Ronson mendokumentasikan perjalanannya menyusuri dunia ekstremis Barat—dari neo-Nazi hingga milisi anti-pemerintah—dan menemukan benang merah keyakinan mereka pada konspirasi New World Order. Kini, di tengah banjir misinformasi global, buku itu terasa semakin relevan, termasuk bagi Indonesia yang tengah bergulat dengan polarisasi dan serangan terhadap fakta.
Ronson awalnya berniat membuat potret manusiawi para tokoh yang dicap "monster ekstremis" oleh media arus utama. Ia menghabiskan waktu bersama Omar Bakri, fundamentalis Islam yang menyebut dirinya "orangnya Osama bin Laden di London", menyaksikan Bakri menonton The Lion King sambil menggendong bayi. Namun, proyek itu berubah arah saat Ronson menyadari bahwa semua subjeknya—meski berbeda latar—percaya pada satu gagasan: dunia dikuasai oleh segelintir elite rahasia yang berkantor di sebuah ruangan tersembunyi. Ronson pun bertekad menemukan ruangan itu.
Pencariannya membawanya ke Bohemian Grove, retret tahunan elite global di hutan California utara. Di sana, ditemani Jones yang saat itu masih dianggap eksentrik tak berbahaya, Ronson menyaksikan para eksekutif internasional berjubah melakukan ritual pembakaran patung di depan patung burung hantu raksasa. Bagi Ronson, itu sekadar sandiwara tak berdosa; bagi Jones, itu bukti nyata kekuasaan iblis. Perbedaan interpretasi ini menjadi cikal bakal karier Jones sebagai raja teori konspirasi, yang kemudian menyebarkan klaim palsu tentang penembakan Sandy Hook hingga harus dinyatakan pailit akibat gugatan pencemaran nama baik.
Yang membuat Them bertahan lama adalah kemampuannya menangkap momen sejarah. Ronson menulis di era ketika tembok Berlin baru runtuh, Amerika merasa kehilangan jati diri, dan paranoia mulai menjadi "akal sehat baru"—seperti diungkap kolumnis John Ganz. Budaya pop saat itu, dari lagu Nirvana hingga serial The X-Files, menggemakan sentimen "jangan percaya siapa pun". Ronson menunjukkan bahwa teori konspirasi bukanlah produk pinggiran, melainkan respons terhadap ketidakpercayaan dan ketidakamanan yang sistemik.
Kasus Ruby Ridge tahun 1992 menjadi salah satu babak paling mencekam dalam buku itu. Keluarga Weaver, yang awalnya hanya takut pada New World Order, berujung pada baku tembak dengan marshal AS yang menewaskan istri dan anak remaja mereka. Insiden itu memicu pertumbuhan pesat milisi di Amerika dan menginspirasi Timothy McVeigh, pelaku bom Oklahoma City 1995 yang menewaskan 168 orang. Ronson menggambarkan bagaimana tragedi kemanusiaan berubah menjadi simbol perlawanan bagi kelompok ekstrem kanan—sebuah pola yang kini juga terlihat di Indonesia, di mana peristiwa kerusuhan atau penangkapan teroris kerap dijadikan alat mobilisasi narasi anti-pemerintah.
Bagi pembaca Indonesia, Them menawarkan cermin yang tidak nyaman. Di era media sosial, teori konspirasi seperti "elite global penjajah" atau "deep state" mulai merasuk ke ruang digital Indonesia, memperkeruh diskursus publik dan mengikis kepercayaan pada lembaga demokrasi. Ronson menolak anggapan bahwa pemikiran ekstremis lahir dari kekosongan. Sebaliknya, ia lahir dari tontonan, ketidakpercayaan, dan janji bahwa ada penjelasan sederhana di balik dunia yang rumit—janji yang sering berujung pada bencana.
Menariknya, Ronson tetap mempertahankan nada manusiawi tanpa mengorbankan integritas. Ia menggambarkan Jones sebagai "pria paling tidak bertanggung jawab yang pernah saya temui", namun mengakui ada sisi personal yang membuatnya sulit membenci sepenuhnya. Pendekatan ini mengingatkan pada jurnalisme investigasi di Indonesia yang berusaha memahami akar radikalisme tanpa terjebak dalam kriminalisasi atau romantisme. Buku terbaru Ronson yang akan terbit Agustus mendatang, tentang krisis maskulinitas, tampaknya akan kembali menyentuh isu yang sama: bagaimana rasa kehilangan identitas mendorong orang ke pelukan ekstremisme.
Dua puluh lima tahun setelah Them, pertanyaan yang diajukan Ronson masih menggantung: apakah kita mampu membedakan antara fakta dan fiksi, atau justru semakin nyaman hidup dalam paranoia yang dikemas sebagai kebenaran? Di Indonesia, di mana hoaks politik dan konspirasi kesehatan masih beredar luas, jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan masa depan demokrasi dan kohesi sosial.



