Fonseca Sesalkan Minim Dukungan di Milan, Bandingkan dengan Sambutan untuk Amorim
Baca dalam 60 detik
- Paulo Fonseca mengaku kecewa karena tidak mendapat dukungan yang sama seperti yang diberikan klub kepada Ruben Amorim.
- Pelatih asal Portugal itu dipecat AC Milan setelah hanya beberapa bulan, meskipun diminta mengubah gaya bermain tim.
- Fonseca juga mengkritik budaya sepak bola Italia yang dinilai terlalu memberi kuasa pada pemain individu.

Paulo Fonseca, pelatih asal Portugal yang kini menangani Olympique Lyon, meluapkan kekecewaannya terhadap perlakukan yang ia terima selama menukangi AC Milan. Dalam wawancara dengan SportWeek, ia menyoroti ketimpangan dukungan yang diberikan klub kepadanya dibandingkan dengan yang diterima rekan senegaranya, Ruben Amorim, yang baru-baru ini dikaitkan dengan posisi pelatih Rossoneri.
Fonseca diangkat pada 2024 dengan misi mengubah identitas permainan Milan. Ia diminta menjadikan tim lebih dominan, menguasai bola, dan bermain di area lawan. โMereka bilang: โKami ingin Milan menjadi dominan, punya penguasaan bola, dan bermain di setengah lapangan lawan.โ Sempurna, saya jawab, karena itu juga ide sepak bola saya,โ ujarnya. Namun, ia merasa proses transformasi itu membutuhkan kesabaran yang tidak diberikan oleh manajemen klub.
Kekecewaan Fonseca memuncak saat melihat bagaimana Amorim disambut. โSaya lihat Amorim tiba di Milanello dan Cardinale sendiri ada di sana untuk menyambutnya. Saat saya tiba, tidak ada siapa pun,โ katanya. Ia menambahkan bahwa meskipun tim menunjukkan permainan bagus di bawah arahannya, setelah kepergiannya, kualitas itu tidak terulang. โSaya diminta mengubah mentalitas. Mereka tidak memberi saya waktu, tapi kami memainkan banyak pertandingan bagus. Setelah saya, itu tidak terjadi lagi.โ
Pelatih berusia 51 tahun itu juga mengkritik budaya sepak bola Italia yang menurutnya terlalu memberi pengaruh pada pemain individu. โDi Italia, pemain sering kali lebih berkuasa daripada klub. Jika seseorang, bahkan pemain kuat, tidak pantas bermain, bersama saya mereka tidak bermain. Tidak ada yang lebih besar dari Rossoneri,โ tegasnya. Pernyataan ini mencerminkan pendekatan tegas Fonseca yang kerap berbenturan dengan ego pemain bintang.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus Fonseca menjadi pelajaran tentang pentingnya kesabaran dalam membangun tim. Di Liga 1, banyak pelatih lokal dan asing yang dipecat sebelum sempat menerapkan filosofi mereka secara utuh. Fenomena โinstant successโ sering kali mengorbankan proses jangka panjang. Fonseca sendiri membela pendekatannya dalam mengembangkan bakat muda, menyebut Portugal memiliki salah satu sistem terbaik untuk mempersiapkan pemain menuju level elite.
Ke depan, pertanyaan besar adalah apakah AC Milan akan belajar dari pengalaman ini atau terus berganti pelatih tanpa memberikan waktu yang cukup. Dengan tekanan dari pemilik dan ekspektasi tinggi suporter, klub raksasa Italia itu harus memutuskan: apakah mereka akan setia pada proyek jangka panjang atau kembali terjebak dalam siklus pergantian pelatih yang tak berujung?



