Tes Darah Sederhana Bisa Ukur Kesehatan Mitokondria: Indeks Glukosa-Keton sebagai Biomarker Baru?
Baca dalam 60 detik
- Peneliti mengusulkan indeks glukosa-keton (GKI) sebagai biomarker non-invasif untuk menilai kesehatan metabolik dan fungsi mitokondria.
- GKI diukur melalui sampel darah ujung jari dan dapat memantau respons terhadap intervensi gaya hidup seperti diet keto, puasa, dan olahraga.
- Meski menjanjikan, GKI belum siap digunakan secara klinis dan memerlukan studi lebih lanjut untuk validasi dan penetapan nilai target.

Sebuah tes darah sederhana yang hanya membutuhkan setetes darah dari ujung jari berpotensi menjadi alat baru untuk memantau kesehatan metabolik dan fungsi mitokondria, menurut sebuah ulasan penelitian yang diterbitkan di jurnal Frontiers in Science. Indeks glukosa-keton (GKI) yang mengukur rasio antara kadar gula darah dan keton beta-hidroksibutirat ini dinilai mampu memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang status metabolisme tubuh dibandingkan pengukuran glukosa tunggal atau berat badan.
Penyakit tidak menular (PTM) seperti kanker, penyakit kardiovaskular, dan diabetes tipe 2 menyumbang sekitar tiga perempat kematian di dunia. Beban global PTM diperkirakan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang. Semakin banyak bukti menunjukkan bahwa banyak dari kondisi ini memiliki kesamaan: disfungsi mitokondria. Mitokondria adalah organel penghasil energi di dalam sel. Ketika fungsinya terganggu, sel tidak dapat memenuhi kebutuhan energinya, memicu stres oksidatif, kerusakan sel, dan peradangan di berbagai jaringan.
Para peneliti dari Boston College dan University of Westminster mengusulkan bahwa GKI dapat menjadi barometer kesehatan seluler. Nilai GKI yang rendah—menunjukkan glukosa rendah dan keton tinggi—mencerminkan keadaan ketosis, yang dikaitkan dengan peningkatan produksi energi mitokondria dan penurunan proses metabolik yang terkait dengan penyakit kronis. Sebaliknya, nilai GKI yang tinggi menandakan metabolisme mitokondria yang kurang efisien dan peningkatan risiko penyakit.
Penulis utama Thomas Seyfried, PhD, dari Boston College, menjelaskan bahwa GKI adalah biomarker yang lebih stabil untuk memprediksi homeostasis metabolik sistemik dibandingkan pengukuran glukosa saja. Ia merujuk pada temuan uji coba KetoSAge yang menunjukkan bahwa peningkatan kadar keton yang aman berkaitan dengan perbaikan sensitivitas insulin, fungsi hati, dan penurunan biomarker pertumbuhan serta pro-inflamasi. Sementara itu, nilai GKI yang tinggi mengindikasikan pelepasan insulin berlebihan meskipun kadar glukosa tampak normal.
Namun, para peneliti mengingatkan bahwa terapi ketogenik harus dipandang sebagai salah satu strategi manajemen di bawah pengawasan klinis, bukan sebagai obat untuk penyakit kronis. "Disfungsi mitokondria seluler merupakan faktor utama di balik sebagian besar kanker dan banyak penyakit kronis," kata Derek Lee, PhD, juga dari Boston College. "Kami mengusulkan bahwa GKI dapat digunakan sebagai biomarker darah sederhana dan kuantitatif untuk memprediksi kesehatan mitokondria."
Meskipun menjanjikan, GKI belum siap diadopsi secara luas dalam perawatan rutin. Peneliti mengakui bahwa pertanyaan penting masih perlu dijawab, termasuk apakah nilai GKI dapat memprediksi risiko penyakit, respons pengobatan, atau hasil jangka panjang secara andal. Studi klinis besar diperlukan untuk menetapkan kisaran target yang sesuai untuk masing-masing penyakit dan menentukan berapa lama pasien harus berada dalam kisaran tersebut untuk mendapatkan manfaat yang berarti.
Para peneliti juga menyerukan agar studi di masa depan melaporkan pengukuran glukosa, keton, dan GKI secara lebih konsisten, bersama dengan biomarker lain seperti insulin, trigliserida, dan penanda inflamasi. Standardisasi pelaporan akan memudahkan perbandingan antar studi dan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana perubahan GKI berkaitan dengan kesehatan metabolik secara keseluruhan.
Bagi masyarakat Indonesia, di mana prevalensi PTM seperti diabetes dan penyakit jantung terus meningkat, potensi GKI sebagai alat pemantau mandiri yang murah dan sederhana bisa menjadi terobosan. Namun, para ahli mengingatkan bahwa mencapai GKI rendah bukanlah tugas yang mudah bagi kebanyakan orang pada awalnya. "Awal yang bertahap sangat penting, dengan perubahan makronutrien yang lambat, memprioritaskan elektrolit dan hidrasi, serta menggunakan GKI untuk melacak kemajuan," kata Isabella Cooper, PhD, dari University of Westminster. Ia menekankan pentingnya konsultasi dengan profesional medis bagi mereka yang tidak berpengalaman atau tidak yakin dengan prosesnya.
Dengan segala keterbatasannya, GKI saat ini lebih merupakan alat penelitian yang menjanjikan. Namun, jika divalidasi lebih lanjut, tes ini berpotensi memberdayakan individu untuk membuat pilihan nutrisi dan gaya hidup yang dapat melindungi atau meningkatkan efisiensi energi mitokondria mereka. Pertanyaannya, seberapa cepat riset ini akan membuahkan protokol klinis yang siap diterapkan di Indonesia?



