Final Piala Dunia 2026: Penentu Ballon d'Or atau Sekadar Pemanasan?
Baca dalam 60 detik
- Pertandingan Argentina vs Spanyol di final Piala Dunia 2026 tidak hanya memperebutkan trofi, tetapi juga bisa menjadi penentu peraih Ballon d'Or tahun ini.
- Lionel Messi dan Lamine Yamal menjadi dua kandidat utama yang saling berhadapan, dengan sejarah menunjukkan bahwa trofi internasional sering menjadi syarat mutlak untuk memenangkan penghargaan individu tertinggi.
- Kandidat lain seperti Harry Kane, Erling Haaland, dan Kylian Mbappe terancam gagal karena minimnya gelar besar musim ini, memperkuat dominasi pemenang turnamen dalam perebutan Ballon d'Or.

Laga puncak Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Spanyol pada Minggu (19/7) di New York New Jersey Stadium bukan sekadar pertarungan memperebutkan gelar juara dunia. Hasil pertandingan ini diprediksi akan menjadi penentu siapa yang berhak membawa pulang Ballon d'Or 2026, penghargaan individu paling prestisius di sepak bola. Dua nama besar, Lionel Messi dan Lamine Yamal, saling berhadapan langsung dalam pertarungan yang bisa mengubah sejarah.
Dalam satu dekade terakhir, Ballon d'Or nyaris selalu jatuh ke tangan pemain yang berhasil memenangkan trofi besar, baik Liga Champions maupun turnamen internasional. Data menunjukkan hanya empat dari 19 pemenang terakhir yang tidak memenuhi kriteria tersebut—tiga di antaranya adalah Messi (2010, 2012, 2019) dan satu Cristiano Ronaldo (2013). Artinya, peluang pemain seperti Harry Kane, Erling Haaland, Kylian Mbappe, atau Jude Bellingham untuk menang tanpa gelar utama sangatlah tipis.
Messi, yang kini berusia 39 tahun, tengah memburu Ballon d'Or kesembilan—rekor yang belum pernah dicapai siapa pun. Penampilannya di Piala Dunia 2026 luar biasa: delapan gol dan empat assist, memimpin Argentina ke final kedua berturut-turut. Jika menang, ia akan menjadi kapten pertama yang memenangkan Piala Dunia dua kali beruntun. Namun, level kompetisi di MLS bersama Inter Miami kerap dipertanyakan, meskipun statistiknya di turnamen ini membungkam keraguan.
Di sisi lain, Lamine Yamal, pemain sayap Spanyol berusia 19 tahun, menjadi ancaman serius. Meski tidak seterang saat membawa Spanyol juara Euro 2024—hanya satu gol dan tanpa assist di tujuh pertandingan—ia tetap menjadi bagian integral tim yang lolos ke final Piala Dunia pertama sejak 2010. Musim ini bersama Barcelona, ia mencatat 24 gol dan 18 assist dalam 45 pertandingan, meski absen sebulan terakhir karena cedera. Barcelona hanya juara La Liga dan tersingkir di perempat final Liga Champions, sehingga gelar Piala Dunia menjadi syarat mutlak bagi Yamal untuk mengangkat Ballon d'Or.
Kane sendiri menjadi contoh nyata betapa pentingnya trofi. Penyerang Inggris itu mencetak 61 gol dalam 51 pertandingan untuk Bayern Munich, membawa klubnya meraih double winner domestik. Namun, kegagalan di semifinal Liga Champions dan Piala Dunia membuatnya sadar: "Saya bisa mencetak 100 gol musim ini, tetapi jika tidak memenangkan Liga Champions atau Piala Dunia, saya mungkin tidak akan memenangkan Ballon d'Or," ujarnya November lalu. Rekan setimnya di Bayern, Michael Olise, juga tampil impresif dengan 22 gol dan 31 assist, tetapi tersingkir di semifinal Piala Dunia oleh Spanyol.
Kylian Mbappe, yang mencetak delapan gol di Piala Dunia setelah memuncaki daftar pencetak gol La Liga dan Liga Champions, kembali harus merelakan Ballon d'Or. Musim tanpa trofi bersama Real Madrid dan kegagalan Prancis di Piala Dunia membuat peluangnya tipis. Sementara itu, Erling Haaland hanya mampu membawa pulang Piala FA dan Piala Liga Inggris bersama Manchester City, meski menjadi pencetak gol terbanyak Premier League untuk ketiga kalinya dalam empat musim. Tujuh golnya untuk Norwegia di Piala Dunia pertama mereka dalam 28 tahun hanya menjadi hiburan.
Pemenang Ballon d'Or 2025, Ousmane Dembele, kembali menjadi kandidat setelah memenangkan Ligue 1 dan Liga Champions bersama PSG untuk kedua kalinya berturut-turut. Namun, cedera membatasi kontribusinya. Rekan setimnya, Khvicha Kvaratskhelia, bersinar di Liga Champions dengan 10 gol dan 7 assist, tetapi Georgia tidak lolos ke Piala Dunia. Jude Bellingham layak diapresiasi karena membawa Inggris ke semifinal, tetapi cedera dan minimnya trofi membuatnya sulit bersaing. Declan Rice, gelandang Arsenal yang memenangkan Premier League dan nyaris juara Liga Champions, diprediksi masuk 10 besar.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, persaingan ini menarik karena menunjukkan betapa dominannya pemain dari Eropa dan Amerika Selatan dalam perebutan Ballon d'Or. Tidak ada pemain Asia yang masuk dalam daftar kandidat, mengingat minimnya prestasi di turnamen besar. Namun, keberhasilan Spanyol dan Argentina mencapai final bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan sepak bola nasional, terutama dalam hal pembinaan pemain muda seperti Yamal.
Dengan segala dinamika yang ada, final Piala Dunia 2026 tidak hanya akan menentukan juara dunia, tetapi juga bisa menjadi titik balik dalam sejarah Ballon d'Or. Akankah Messi menambah koleksinya yang sudah legendaris, atau Yamal akan memulai era baru? Atau justru ada kejutan dari pemain lain? Satu hal pasti: pemenang di New Jersey akan memiliki modal besar untuk mengklaim gelar individu tertinggi.



