Sentuhan Bisa Redakan Nyeri: Ilmuwan Jepang Temukan Saraf Khusus pada Tikus
Baca dalam 60 detik
- Tim peneliti Kyushu University mengidentifikasi saraf taktil yang menekan sinyal nyeri ke otak pada tikus, membuka jalan bagi terapi non-obat.
- Eksperimen menunjukkan bahwa mengaktifkan saraf ini mengurangi waktu menjilat luka hingga setengahnya, sementara penghapusannya memperpanjang respons nyeri lima kali lipat.
- Temuan ini mendorong pengembangan alat medis berbasis stimulasi sentuhan, namun validasi pada manusia masih diperlukan.

Sejak kecil, manusia terbiasa menggosok bagian tubuh yang sakit sambil mengucap "sakit, sakit, pergilah". Kini, sekelompok peneliti dari Kyushu University, Jepang, untuk pertama kalinya berhasil mengidentifikasi saraf taktil yang secara khusus berperan menekan rasa nyeri. Temuan yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) ini mengungkap mekanisme saraf di balik kebiasaan sederhana yang ternyata memiliki dasar ilmiah.
Penelitian yang dipimpin oleh Makoto Tsuda, profesor neurofarmakologi terkemuka di Kyushu University, mengamati perilaku mencit saat menjilati bagian kulit yang terluka. Ketika satu jenis saraf taktil tertentu dihilangkan, lalu diberikan rangsangan nyeri pada telapak kaki, waktu menjilat mencit menjadi sekitar lima kali lebih lama dibandingkan normal. Sebaliknya, saat saraf tersebut diaktifkan bersamaan dengan rangsangan nyeri, waktu menjilat menurun hingga hampir setengah dari level normal.
Pengamatan lebih lanjut pada sumsum tulang belakang menunjukkan bahwa neuron yang bertugas mengirim sinyal nyeri dari saraf perasa ke otak mengalami penurunan respons saat saraf taktil diaktifkan. "Sinyal sentuhan dari saraf taktil menekan transmisi sinyal nyeri ke otak," simpul tim peneliti dalam laporan mereka.
Konteks Indonesia: Temuan ini membuka peluang pengembangan terapi nyeri non-farmakologis yang sangat relevan bagi Indonesia, di mana akses terhadap obat penghilang nyeri masih terbatas di daerah terpencil. Jika berhasil diterapkan pada manusia, alat stimulasi sentuhan portabel bisa menjadi alternatif murah dan aman untuk mengatasi nyeri kronis, yang banyak dikeluhkan pasien di puskesmas dan rumah sakit. Namun, para ahli mengingatkan bahwa penelitian masih pada tahap awal dan perlu dikonfirmasi pada subjek manusia.
Langkah selanjutnya, tim Kyushu University akan menyelidiki apakah jenis saraf taktil yang sama juga terdapat pada manusia. Tsuda juga menyatakan ketertarikannya untuk meneliti efek rasa tenang yang muncul dari "mantra" atau keyakinan saat menggosok bagian yang sakit. "Kami ingin mempelajari efek rasa tenang yang berasal dari 'jampi' itu sendiri, di antara subjek lainnya," ujarnya.
Ke depan, riset ini berpotensi melahirkan alat medis yang menggunakan stimulasi sentuhan untuk mengurangi nyeri, tanpa efek samping obat. Namun, pertanyaan mendasar masih mengemuka: apakah mekanisme serupa berlaku pada manusia, dan seberapa efektifkah sentuhan sebagai pereda nyeri dalam praktik klinis? Jawabannya masih menunggu penelitian lebih lanjut.



