AS Perluas Serangan ke Jembatan Iran, Konflik Selat Hormuz Makin Panas
Baca dalam 60 detik
- Amerika Serikat meningkatkan intensitas serangan udara dengan menyasar infrastruktur jembatan di Iran sebagai taktik baru untuk memutus rantai pasok dan menekan Tehran.
- Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke Qatar, Bahrain, dan Kuwait, menandakan eskalasi regional yang mengancam stabilitas kawasan Teluk.
- Gencatan senjata sementara yang disepakati bulan lalu runtuh, meninggalkan ketidakpastian baru bagi pasar energi global dan jalur pelayaran strategis.

Washington memperluas jangkauan operasi udaranya terhadap Iran dengan menyasar jembatan-jembatan di wilayah Republik Islam tersebut, Jumat dini hari waktu setempat. Langkah ini merupakan bagian dari ancaman Presiden Donald Trump untuk menyerang infrastruktur guna memaksa Tehran melonggarkan cengkeramannya di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia.
Serangan terbaru ini memicu respons cepat dari Iran yang meluncurkan rudal ke sejumlah negara sekutu AS di Timur Tengah, termasuk Qatar, Bahrain, dan Kuwait. Otoritas Qatar bahkan mengimbau warganya untuk berlindung setelah rentetan rudal Iran menghantam wilayah mereka. Sistem pertahanan udara setempat berusaha mencegat proyektil tersebut, namun ledakan terdengar di sejumlah kota.
Qatar selama ini berperan sebagai mediator utama bersama Pakistan dalam upaya mengakhiri perang Iran. Namun, negosiasi kandas akibat kebuntuan soal kendali Selat Hormuz. Iran menutup jalur tersebut sejak AS dan Israel melancarkan perang pada 28 Februari lalu, langkah yang langsung mendongkrak harga minyak dan memberi Tehran posisi tawar kuat.
Gencatan senjata sementara yang disepakati bulan lalu kini resmi runtuh. Kawasan Teluk dilanda rentetan serangan balasan selama beberapa hari terakhir. Juru bicara militer Iran, Kolonel Ebrahim Zolfaghari, menyatakan bahwa Tehran siap melancarkan serangan besar-besaran terhadap "seluruh infrastruktur di kawasan" jika AS terus menyasar jembatan dan pembangkit listrik Iran. "Dalam keadaan apa pun kami tidak akan membiarkan Amerika, sebagai negara asing dan ekstraregional, ikut campur di Selat Hormuz. Ini adalah garis merah Iran yang tak terkalahkan," tegasnya.
Bagi Indonesia, eskalasi ini menimbulkan kekhawatiran serius. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap gangguan di Selat Hormuz berpotensi mendongkrak harga energi domestik dan memperburuk defisit neraca perdagangan. Selain itu, lebih dari 1.000 warga Indonesia bekerja di sektor migas dan perkapalan di kawasan Teluk, sehingga keselamatan mereka menjadi prioritas. Kementerian Luar Negeri RI telah mengeluarkan imbauan kewaspadaan bagi WNI di Qatar, Bahrain, dan Kuwait.
Para analis memperkirakan konflik ini akan terus berlanjut tanpa penyelesaian diplomatik yang jelas. Iran menganggap Selat Hormuz sebagai wilayah kedaulatannya yang tak bisa diganggu, sementara AS bersikukuh menjaga kebebasan navigasi. Dengan runtuhnya gencatan senjata, pertanyaan besarnya adalah: sejauh mana kedua pihak bersedia meningkatkan skala serangan sebelum dampaknya benar-benar menghantam ekonomi global?



