Menyusuri 300 Gelas Nebbiolo: Enam Produsen Terbaik dari Barolo, Barbaresco, dan Roero
Baca dalam 60 detik
- Sebuah sesi pencicipan buta terhadap 300 sampel Nebbiolo mengungkap perbedaan mencolok antar wilayah dan produsen di Piedmont, Italia.
- Vintage 2022 yang sempat diragukan akibat kekeringan justru menghasilkan anggur dengan keasaman lebih lembut dan siap diminum lebih awal.
- Enam rumah anggur terpilih, termasuk Giuseppe Cortese dan Brovia, menunjukkan konsistensi dan karakter unik yang layak menjadi incaran kolektor.

Di balik kabut pagi Alba, Italia, tersembunyi kisah tentang Nebbiolo—anggur merah Piedmont yang mampu berbicara dalam bahasa bunga mawar, tar, dan ceri. Sebuah pencicipan buta terhadap 300 sampel dari tiga wilayah—Barolo, Barbaresco, dan Roero—menemukan bahwa perbedaan tanah, iklim mikro, dan sentuhan pembuat anggur menghasilkan spektrum rasa yang luar biasa. Enam produsen muncul sebagai bintang di tengah lautan gelas yang diuji selama tiga hari penuh.
Nebbiolo sering dibandingkan dengan Pinot Noir karena sama-sama sensitif terhadap tempat tumbuh, namun taninnya lebih kokoh dan agresif. Menurut geolog Edmondo Bonelli yang memimpin ekskursi lapangan, tanah di perbukitan Langhe terbentuk 15 juta tahun lalu dari campuran batu kapur, napal, lempung, dan batu pasir. Komposisi inilah yang memberi struktur dan tulang punggung pada anggur. Sebaliknya, Roero yang berusia lebih muda—sekitar 7 juta tahun—dengan tanah berpasir menghasilkan Nebbiolo yang lebih ringan dan harum, cocok untuk dinikmati tanpa perlu penuaan panjang.
Barolo dan Barbaresco menjadi puncak ekspresi Nebbiolo. Hanya 11 desa yang diizinkan memproduksi Barolo, dengan lima di antaranya paling terkenal: Barolo, Castiglione Falletto, Serralunga d’Alba, La Morra, dan Monforte d’Alba. Area produksi dibagi lagi menjadi 170 Menzioni Geografiche Aggiuntive (MGA)—setara dengan sistem cru di Burgundy. Namun, nasib akhir anggur tetap ditentukan oleh vintage. Tahun 2022, yang dilanda kekeringan ekstrem, sempat dianggap bencana. Namun, para pembuat anggur beradaptasi dengan memperpendek waktu kontak kulit, fermentasi lebih dingin, dan mengurangi ekstraksi. Beberapa estate bahkan memilih menggabungkan buah dari kebun anggur tunggal ke dalam campuran yang lebih luas demi menjaga kualitas.
Pencicipan yang diselenggarakan oleh Albeisa—konsorsium yang mewadahi 318 produsen—berlangsung di ruang degustasi yang sama selama tiga dekade. Hari pertama didedikasikan untuk Barbaresco dan Roero 2023, sementara dua hari berikutnya untuk Barolo 2022 yang baru akan dirilis Januari 2026. Para peserta merasakan kelelahan yang nyata: Roero dan Barbaresco lebih ramah di lidah dengan buah segar dan keasaman mudah, sedangkan Barolo muda berbicara melalui struktur tanin yang mencengkeram. Pada siang hari, banyak yang harus keluar ruangan untuk menyegarkan kembali indera pengecap.
Dari 300 sampel, enam produsen menonjol. Giuseppe Cortese memuncaki daftar Barbaresco dengan Rabajà 2023—anggur yang cerah dengan stroberi, mawar tumbuk, lada merah muda, dan mineralitas seperti besi. Davide Rosso dari Serralunga d’Alba menawarkan Serra yang klasik: ceri, kulit jeruk kering, dan tanin kokoh yang membutuhkan waktu untuk matang. Oddero Poderi e Cantine, yang dikelola oleh Mariacristina Oddero bersama putra dan keponakannya, menampilkan Villero 2022 dengan aroma kelopak bunga, kulit jeruk, dan ceri asam—ringan namun kuat. Brovia, didirikan 1863, menjadi satu-satunya pemilik MGA Brea di Serralunga. Vigna Ca’ Mia 2022 mereka, dari tanaman merambat tertua yang ditanam 1955, memadukan daun kering, kemenyan, dan buah prem dengan tanin yang keras. Vietti, yang kini dimiliki Krause Holdings asal Amerika, unggul dengan Monvigliero 2022 dari Verduno—anggur dengan bunga, raspberry, sage, dan mint yang terstruktur rapat. Terakhir, Marchenasco milik Pietro Ratti—putra Renato Ratti, pionir pemetaan cru Barolo—adalah campuran tiga kebun anggur yang menghasilkan anggur aromatik dan lentur dengan sentuhan zaitun hitam.
Bagi pencinta anggur di Indonesia, temuan ini membuka peluang untuk mulai mengenal Nebbiolo di luar sekadar Barolo dan Barbaresco. Roero, dengan harga lebih terjangkau dan gaya lebih ringan, bisa menjadi pintu masuk yang ideal. Sementara itu, vintage 2022 yang lebih mudah didekati memungkinkan konsumen menikmati Barolo tanpa harus menunggu bertahun-tahun. Pertanyaannya, apakah pasar Indonesia siap menyambut gelombang baru anggur Piedmont ini di tengah dominasi Bordeaux dan Burgundy?



