Nvidia Dukung Jepang Bangun Infrastruktur AI Nasional, Pasok 27.500 Chip Rubin
Baca dalam 60 detik
- Nvidia memasok 27.500 unit GPU Rubin untuk pabrik AI milik Noetra Corp., perusahaan patungan 44 raksasa Jepang termasuk Sony dan SoftBank.
- Proyek senilai 1 triliun yen ini merupakan bagian dari strategi pemerintah PM Takaichi untuk menjadikan AI sebagai salah satu dari 17 sektor kritis pertumbuhan dan keamanan nasional.
- Kolaborasi dengan Toyota dan Fujitsu di bidang robotika fisik dan sistem lalu lintas otonom diharapkan mengatasi kekurangan tenaga kerja terampil di Jepang.

Nvidia Corp. memastikan keterlibatannya dalam proyek ambisius Jepang membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI) nasional pertama. CEO Jensen Huang mengumumkan langsung di Tokyo bahwa perusahaannya akan memasok 27.500 unit prosesor grafis (GPU) generasi terbaru Rubin untuk mengoperasikan pabrik AI yang dikelola Noetra Corp., sebuah perusahaan yang didukung penuh pemerintah Jepang.
Noetra, yang resmi beroperasi penuh pada Kamis (17/7), didirikan oleh konsorsium 44 perusahaan Jepang termasuk Sony Group, SoftBank, NEC, dan Honda. Pemerintah Jepang menggelontorkan dana 1 triliun yen (sekitar Rp 104 triliun) selama lima tahun untuk proyek ini. Langkah ini merupakan bagian dari strategi Perdana Menteri Sanae Takaichi yang menetapkan AI sebagai salah satu dari 17 sektor kritis bagi pertumbuhan ekonomi dan keamanan nasional.
Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Ryosei Akazawa menjelaskan bahwa inisiatif pengembangan AI bernama FRONTia ini dirancang untuk menggabungkan keunggulan manufaktur Jepang dengan kemampuan riset AI dari mitra domestik dan internasional. Jepang juga akan bekerja sama dengan lembaga riset di Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan negara lain. Target pemerintah adalah menghadirkan 10 juta robot bertenaga AI di seluruh Jepang pada 2040.
Selain proyek infrastruktur, Nvidia memperluas kemitraan dengan Toyota Motor Corp. untuk mengembangkan model AI guna merancang sistem kontrol lalu lintas di Woven City, kota uji mobilitas di Susono, Prefektur Shizuoka. Kedua perusahaan juga akan bekerja sama mengembangkan robot produksi bertenaga AI, memperluas kerja sama sebelumnya di bidang sistem bantuan pengemudi dan sistem operasi kendaraan.
Di sektor robotika, Fujitsu Ltd. mengumumkan kerja sama dengan Fanuc Corp., Yaskawa Electric Corp., dan Kawasaki Heavy Industries Ltd. untuk mengembangkan robot AI bagi manufaktur, logistik, dan layanan kesehatan menggunakan teknologi Nvidia. Kolaborasi ini bertujuan mengatasi kekurangan tenaga kerja dan menurunnya jumlah pekerja terampil di Jepang.
"Harapan pribadi saya adalah kerja sama ini akan membuka perbatasan baru bagi robotika dan manufaktur cerdas di Jepang. Bersama-sama kami membawa AI fisik ke mekatronika, dan revolusi industri berikutnya akan dibuat juga di Jepang," ujar Jensen Huang dalam konferensi pers di Tokyo.
Bagi Indonesia, langkah Jepang ini menjadi sinyal penting tentang arah investasi global di bidang AI. Dengan populasi besar dan kebutuhan digitalisasi yang masif, Indonesia berpotensi menjadi mitra strategis bagi pengembangan AI di Asia Tenggara. Namun, tanpa infrastruktur komputasi dan regulasi yang mendukung, ketertinggalan bisa semakin lebar. Pemerintah Indonesia perlu mencermati model kemitraan publik-swasta Jepang yang melibatkan raksasa teknologi global untuk mempercepat adopsi AI di dalam negeri.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mampu mengikuti jejak Jepang dalam membangun ekosistem AI nasional yang terintegrasi, atau justru akan semakin bergantung pada teknologi asing. Kolaborasi lintas negara seperti yang dirintis Jepang bisa menjadi cetak biru bagi pengembangan AI yang berdaulat namun tetap terbuka terhadap kemitraan global.



