Sungai Cisadane Surut, Ribuan Hektare Terancam Kekeringan
Baca dalam 60 detik
- Debit Sungai Cisadane turun 12% dalam sebulan, memicu krisis air bersih di Tangerang Selatan.
- BPBD memetakan 16.485 hektare wilayah rawan kekeringan pada musim kemarau 2026, dengan Kecamatan Setu sebagai zona tertinggi.
- Warga mendesak pembangunan jaringan perpipaan permanen sebagai solusi jangka panjang, bukan sekadar bantuan air tangki.

Musim kemarau 2026 membuat Sungai Cisadane kehilangan hampir seperdelapan volume normalnya, mengancam pasokan air bersih bagi ribuan warga di Tangerang Raya dan memicu kekhawatiran akan krisis yang lebih luas.
Pantauan di Bendung Pasar Baru, Kota Tangerang, Kamis (16/7) lalu menunjukkan tinggi muka air (TMA) di bagian depan bendungan hanya 11,95 meter, turun dari elevasi normal 12,45 meter. Sepuluh pintu bendung sengaja ditutup untuk menjaga cadangan air baku bagi pengolahan air minum dan industri, namun kebijakan itu berpotensi mengorbankan lahan pertanian di hilir.
Di Kelurahan Kranggan, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan, dampaknya langsung terasa. Sumur-sumur warga mulai mengering sejak sebulan terakhir, memaksa mereka mengantre air bersih dari mobil tangki BPBD. Ekawati, seorang warga Kampung Koceak, mengaku sudah sebulan tidak mendapat air dari sumurnya. "Sudah enggak ada air. Sudah sebulan," katanya, Rabu (15/7).
Ketua RW 02 Kelurahan Kranggan, Nasrullah, mengatakan krisis ini bukan fenomena baru. Wilayahnya hampir setiap tahun mengalami kekeringan saat kemarau, dan kondisi terparah terjadi pada 2023. "Hampir setiap hari BPBD mengirimkan air ke wilayah kami," ujarnya. Ia menambahkan, sebelum kawasan ini berkembang menjadi perkotaan, warga tidak pernah kesulitan air. Namun, penurunan debit air tanah akibat alih fungsi lahan dan pembangunan membuat sumur-sumur cepat kering.
Camat Setu, Erwin Gemala Putra, menjelaskan bahwa posisi geografis Kranggan yang berada di dataran tinggi menyebabkan cadangan air tanah lebih cepat menyusut. Berdasarkan pendataan sementara, ada 35 kepala keluarga yang terdampak, tersebar di RW 01 dan RW 02. Sementara itu, BPBD Kota Tangerang Selatan memetakan 16.485,47 hektare kawasan rawan kekeringan pada musim kemarau 2026, dengan Kecamatan Setu sebagai wilayah dengan tingkat kerawanan tertinggi.
Warga berharap pemerintah tidak hanya mengandalkan bantuan air tangki yang sifatnya sementara. Nasrullah menekankan perlunya pembangunan jaringan perpipaan permanen. "Usulan penyambungan pipa sudah beberapa kali disampaikan, tapi belum terealisasi," keluhnya. Tanpa infrastruktur yang memadai, siklus krisis air bersih dipastikan akan terus berulang setiap musim kemarau.
Pertanyaannya, akankah pemerintah daerah segera merealisasikan jaringan perpipaan sebelum kemarau berikutnya tiba, atau warga Kranggan harus kembali mengantre air bersih tahun depan?



