Ekspor Singapura Melonjak 20,7% di Juni: Permintaan AI Jadi Motor Utama
Baca dalam 60 detik
- Ekspor non-migas Singapura tumbuh 20,7% year-on-year pada Juni 2026, didorong lonjakan ekspor elektronik hingga 105,1% berkat permintaan AI yang kuat.
- Ekspor sirkuit terpadu melesat 115,4%, sementara produk media disk dan PC masing-masing naik 170,9% dan 95,8%, menandai peran sentral AI dalam rantai pasok global.
- Perlambatan dari pertumbuhan 38,4% di Mei mengindikasikan normalisasi, namun permintaan AI diperkirakan tetap menjadi penopang utama ekspor Singapura ke depan.

Singapura mencatatkan lonjakan ekspor non-migas (NODX) sebesar 20,7% pada Juni 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, didorong oleh permintaan kecerdasan buatan (AI) yang tetap kuat. Data yang dirilis Enterprise Singapore pada Jumat (17/7) menunjukkan bahwa pertumbuhan ini melambat dari rekor 38,4% pada Mei, namun tetap menjadi sinyal positif bagi ekonomi global yang tengah bergulat dengan ketidakpastian.
Ekspor produk elektronik menjadi pendorong utama, dengan pertumbuhan mencengangkan 105,1% pada Juni, melanjutkan kenaikan 94,8% di bulan sebelumnya. Enterprise Singapore menyebut lonjakan ini dipicu oleh permintaan AI yang kuat, terutama pada komponen semikonduktor seperti sirkuit terpadu (IC), produk media disk, dan komputer pribadi (PC).
Di sisi lain, ekspor non-elektronik justru terkontraksi 2,9% pada Juni, setelah tumbuh 17,7% di bulan sebelumnya. Penurunan ini dipimpin oleh melemahnya pengiriman emas non-moneter, petrokimia, dan produk makanan. Sementara itu, re-ekspor non-migas naik 60,3%, memperpanjang tren kenaikan dari 33,5% di Mei, dengan elektronik kembali menjadi kontributor utama.
Total perdagangan barang Singapura mencapai S$158,1 miliar (sekitar US$122,5 miliar) pada Juni, terdiri dari S$85,5 miliar ekspor dan S$72,6 miliar impor. Pertumbuhan total perdagangan tercatat 49,3%, sedikit lebih tinggi dari 39,6% di bulan sebelumnya. Di antara pasar utama, NODX ke Taiwan, Amerika Serikat, dan Korea Selatan mencatatkan peningkatan signifikan.
Bagi Indonesia, kinerja ekspor Singapura ini memberikan gambaran tentang dinamika permintaan global terhadap produk teknologi. Sebagai negara tetangga yang menjadi mitra dagang utama, Indonesia dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat posisi dalam rantai pasok semikonduktor regional. Namun, ketergantungan pada permintaan AI juga membawa risiko jika terjadi koreksi di sektor tersebut. Para analis memperkirakan bahwa investasi di bidang AI akan terus tumbuh, namun perlu diwaspadai potensi perlambatan ekonomi global yang dapat memengaruhi permintaan ekspor.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah Singapura mampu mempertahankan momentum ini di tengah normalisasi permintaan pasca-pandemi dan ketegangan geopolitik yang masih membayangi perdagangan global. Dengan basis pertumbuhan yang tinggi, tekanan untuk terus berinovasi dan diversifikasi pasar menjadi kunci bagi negara kota ini untuk tetap kompetitif.



