Kobaran Api di Bar Bangkok, 33 Tewas: Band Kehilangan Separuh Anggota
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran di Rong Beer Na Lat Phrao, Bangkok, menewaskan 33 orang dan melukai 15 lainnya, termasuk empat personel band Thotsakan.
- Pemimpin band Athipat Wichan kehilangan kekasih dan tiga rekannya, mengungkapkan penyesalan dan duka mendalam di tengah prosesi pemakaman.
- Insiden ini kembali mempertanyakan standar keselamatan kebakaran di tempat hiburan Thailand, dengan dugaan pintu terkunci dan minimnya rambu darurat.

Kobaran api yang melahap sebuah bar di Bangkok pada Senin malam (1/7) tak hanya merenggut 33 nyawa, tetapi juga menghancurkan masa depan sebuah band yang sedang naik daun. Athipat Wichan, pemimpin grup musik Thotsakan, harus menerima kenyataan pahit: kekasihnya dan tiga personel lainnya tewas dalam tragedi itu, sementara ia sendiri nyaris tak selamat.
Dalam wawancara dengan BBC Thai, Athipat menceritakan detik-detik mencekam saat api tiba-tiba menyelimuti panggung dan memadamkan listrik. Ia meraba-raba dalam gelap mencari pintu keluar, namun api menyembur begitu ia mendekat. "Aku hampir tidak bisa keluar tepat waktu," ujarnya, luka di kepala dan lengan masih membekas. Empat dari sebelas anggota Thotsakan—Nahathai Satjalert (vokalis), Thitiwat Kaewkanha (vokalis), Pruttipong Phutmon (keyboardis), dan Nathaphat Thammanitha (drummer)—dinyatakan tewas di lokasi.
Duka paling dalam dirasakan Athipat karena Nahathai adalah kekasihnya. "Aku membayangkan kita akan bersama sampai tua, kau memarahiku sampai tua, tapi kini aku tak bisa lagi mendengar suaramu," katanya di tengah lantunan doa di rumah duka. Penyesalan pun menghantuinya: "Seharusnya aku tidak membiarkanmu bergabung dengan band." Athipat mengaku akan terus mencintai Nahathai setiap hari, meski harus merayakan ulang tahunnya yang ke-32 dengan upacara pemakaman, bukan pesta seperti yang direncanakan Thitiwat sebelum tragedi.
Kebakaran ini bukan hanya pukulan personal bagi Thotsakan, tetapi juga menyoroti lemahnya standar keselamatan kebakaran di Thailand, khususnya di tempat hiburan malam. Para penyintas melaporkan pintu keluar darurat terkunci dan tidak ada rambu yang jelas. Chanate Trasing, gitaris Thotsakan, mengaku awalnya mengira asap tebal adalah efek panggung. Namun saat melihat asap berputar cepat dan mencium bau plastik terbakar, ia langsung menjatuhkan gitar dan melompat turun. Ia sempat melihat Pruttipong kebingungan di atas panggung, namun tak bisa menolong. "Saat aku mulai lari, kupikir dia akan mengikutiku. Ternyata tidak," kenang Chanate, yang baru saja mengambil jenazah Nathaphat dari kamar mayat.
Pertanyaan tentang kelalaian pun mengemuka. Otoritas Thailand tengah menyelidiki apakah pemilik tempat dan instansi terkait lalai dalam penerapan regulasi. Athipat berharap ke depannya standar keselamatan di venue lebih ketat. "Aku ingin saat tampil, kami bisa menikmati pertunjukan tanpa rasa khawatir," ujarnya. Namun trauma itu sulit dihilangkan. "Setiap kali naik panggung, kami akan teringat api dan merasa waswas."
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan ketat terhadap tempat hiburan serupa. Di Jakarta, Bandung, dan kota-kota besar lainnya, banyak bar dan klub malam yang belum sepenuhnya mematuhi standar keselamatan kebakaran. Kasus kebakaran di Thailand bisa menjadi momentum bagi regulator di Tanah Air untuk mengevaluasi prosedur darurat dan memastikan pintu keluar serta alat pemadam berfungsi optimal.
Thotsakan berencana bangkit kembali setelah masa berkabung. "Kami mungkin sedikit bingung, tapi akan menemukan keseimbangan lagi," kata Athipat. Namun Chanate masih gamang. Ia memiliki keluarga, termasuk balita, dan harus memikirkan ulang apakah akan terus bermusik. "Kalau kau tanya apakah aku mencintai musik, jawabannya iya. Tapi aku punya ketakutan," ungkapnya. Di tengah duka, Chanate memilih mengingat senyum para pengunjung bar yang menikmati alunan musik mereka sebelum api melalap segalanya.
Pertanyaan besarnya: akankah tragedi ini mendorong perubahan nyata dalam regulasi keselamatan di Thailand dan negara tetangga, atau hanya akan menjadi catatan duka yang terlupakan seiring waktu?



