Populasi Rusa Nara Park Tembus Rekor, Makanan Sembarangan Jadi Biang Kerok
Baca dalam 60 detik
- Jumlah rusa di Nara Park, Jepang, mencapai 1.687 ekor, tertinggi sepanjang sejarah pencatatan sejak 1953.
- Kenaikan populasi dipicu oleh kebiasaan pengunjung memberi makanan sembarangan, bukan kue rusa khusus.
- Rusa mulai merambah kebun warga di luar taman, memicu kekhawatiran akan kerusakan tanaman dan kecelakaan lalu lintas.

Populasi rusa di Nara Park, salah satu destinasi wisata ikonik Jepang, menembus rekor baru sebanyak 1.687 ekor. Angka ini melonjak 222 ekor dibandingkan tahun sebelumnya, menurut Nara Deer Preservation Foundation. Peningkatan ini tidak lepas dari kebiasaan pengunjung yang memberi makanan di luar ketentuan, seperti sayuran dan sisa makanan, yang justru memicu ledakan kelahiran.
Rusa Nara telah lama ditetapkan sebagai harta nasional Jepang. Di kawasan taman seluas 660 hektare itu, pengunjung diperbolehkan memberi pakan berupa kue rusa bebas gula yang dijual di kios-kios sekitar. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak wisatawan yang memberikan makanan lain, termasuk sayuran dan roti, yang lebih bergizi dan meningkatkan kesuburan rusa betina. Akibatnya, angka kelahiran anak rusa (fawn) melonjak signifikan.
Fenomena ini membawa dampak ganda. Di satu sisi, populasi yang sehat menandakan ekosistem yang mendukung. Namun di sisi lain, rusa mulai merambah ke area pemukiman dan kebun warga di luar taman. Laporan kerusakan tanaman akibat rusa yang mencari makanan tambahan kian sering terdengar. Bahkan, dalam setahun terakhir hingga akhir Juni, tercatat 198 ekor rusa mati, 72 di antaranya adalah anak rusa yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas.
Sekretaris Jenderal Nara Deer Preservation Foundation, Nobuyuki Yamazaki, mengimbau pengendara kendaraan bermotor di sekitar taman untuk mengurangi kecepatan. โAnak rusa sering berlari tiba-tiba mengikuti induknya,โ ujarnya. Imbauan ini menjadi krusial mengingat kecelakaan lalu lintas menjadi penyebab utama kematian rusa, terutama anak-anak yang belum terbiasa dengan lalu lintas.
Bagi pembaca di Indonesia, fenomena ini memberikan pelajaran berharga tentang pengelolaan satwa di kawasan wisata. Di Indonesia, interaksi serupa terjadi di beberapa tempat seperti Hutan Raya Bogor atau Taman Safari, di mana pengunjung kerap memberi pakan sembarangan. Tanpa regulasi yang ketat, populasi satwa bisa melonjak tak terkendali dan memicu konflik dengan manusia. Jepang sendiri telah memiliki aturan jelas tentang pakan rusa, namun pelanggaran masih terjadi. Ke depan, pengelola Nara Park mungkin perlu memperketat pengawasan atau mengedukasi pengunjung secara lebih masif agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga.



