Tuchel Gagal Bawa Angin Segar: Inggris Tersingkir dengan Cara yang Sama Seperti Era Southgate
Baca dalam 60 detik
- Thomas Tuchel gagal mengubah takdir Inggris di Piala Dunia; timnya kalah 2-1 dari Argentina di semifinal dengan pola permainan yang dianggap mirip era Gareth Southgate.
- Pendekatan sistem-first Tuchel, yang mengorbankan bakat teknis seperti Phil Foden demi pola repetitif, justru membuat Inggris rentan saat menghadapi lawan tangguh.
- Kombinasi antara pendekatan teknis Southgate dan taktik Tuchel mungkin diperlukan Inggris untuk memutus siklus kegagalan di turnamen besar.

Thomas Tuchel dihadirkan sebagai juru selamat yang akan mengakhiri puasa gelar Piala Dunia Inggris selama 60 tahun. Namun, kekalahan 2-1 dari Argentina di semifinal justru menunjukkan bahwa The Three Lions masih bergulat dengan problem yang sama seperti era pendahulunya, Gareth Southgate: pragmatis berlebihan, pergantian pemain yang lamban, dan kecenderungan bertahan terlalu dalam saat unggul.
Kritik yang dulu dialamatkan kepada Southgate kini kembali mencuat. Padahal, Tuchel datang dengan reputasi sebagai arsitek taktik yang disiplin. Ia bahkan secara terbuka mengkritik pendahulunya pada Maret 2025, menilai Inggris di Euro 2024 tidak memiliki "gaya bermain yang jelas", kekurangan identitas, ritme, dan pengulangan pola. Namun, 16 bulan kemudian, analisis Tuchel tentang Southgate justru menjadi cermin bagi tim asuhannya sendiri.
Tuchel menerapkan pendekatan sistem-first yang kaku. Ia mengorbankan pemain-pemain kreatif seperti Phil Foden, Cole Palmer, dan Trent Alexander-Arnold demi memilih pemain yang cocok dengan pola yang sudah dirancang. Sebelum turnamen, perdebatan sengit terjadi soal siapa yang akan menjadi gelandang serang: Jude Bellingham atau Morgan Rogers. Namun, ketika rencana A gagal, Tuchel tidak punya alternatif. Cedera memaksanya menempatkan Rogers dan Bellingham bersamaan di lapangan, dengan salah satu bermain di posisi yang tidak lazim.
Prinsip permainan Tuchel—membangun serangan dari bawah, memancing tekanan lawan, lalu melepaskan bola cepat ke lini depan—hampir tidak terlihat konsisten. Gol-gol Inggris ke gawang Norwegia di babak penyisihan justru lahir dari momen individual yang kacau, bukan dari pola yang terlatih. Bellingham mencetak gol setelah bola tendangan gawang lawan jatuh ke kaki Elliot Anderson, memanfaatkan pertahanan Norwegia yang tidak rapi. Gol kemenangan pun datang dari sepak pojok kedua. "Hasilnya fantastis, tapi saya tidak senang dengan performa," keluh Tuchel saat itu, menandakan bahwa prinsip yang ia inginkan tidak terwujud.
Perbedaan mendasar antara Tuchel dan Southgate terletak pada titik awal: Tuchel memulai dari sistem, Southgate dari pemain. Southgate cenderung memasukkan bakat terbaik ke dalam satu tim yang seimbang, meskipun terkadang berujung pada eksperimen yang gagal seperti Alexander-Arnold di lini tengah. Namun, pendekatan itu membuat Inggris mampu melaju jauh karena pemain diberi kebebasan bermain di zona yang mereka kuasai. Sebaliknya, Tuchel memaksakan pola, dan ketika pola itu mentok, tim kehilangan arah.
Kemiripan lain yang mencolok adalah saat menghadapi tekanan. Southgate kerap menggunakan formasi lima bek sejak awal untuk mengimbangi lawan yang lebih kuat, sebuah langkah yang dianggap menunjukkan mentalitas inferior. Tuchel, yang sebelumnya tidak pernah melakukan itu, justru mengambil langkah serupa saat melawan Argentina: memasukkan bek tambahan untuk menyamakan jumlah pemain bertahan. Sebaliknya, Argentina melakukan pergantian pemain yang berani dan agresif. Tuchel beralasan bahwa turunnya garis pertahanan setelah unggul bukanlah instruksinya, melainkan reaksi pemain. Namun, pergantian yang ia lakukan lebih bersifat defensif, bukan untuk merebut kendali permainan.
Masalah klasik Inggris—ketidakmampuan mempertahankan keunggulan melalui penguasaan bola—kembali terulang. Tanpa pemain yang mampu menahan bola dan membangun serangan dari bawah, Inggris terus bertahan sementara lawan melancarkan gelombang serangan. Pola ini sudah terlihat di era Southgate, dan Tuchel belum mampu memperbaikinya.
Pertanyaan besarnya kini: apakah Inggris perlu menggabungkan pendekatan teknis ala Southgate dengan ketelitian taktis Tuchel? Atau justru harus mencari jalan ketiga yang benar-benar baru? Satu hal yang pasti, selama problem struktural ini tidak diatasi, siklus kegagalan di turnamen besar kemungkinan akan terus berulang. Bagi pengamat sepak bola Indonesia, pelajaran dari Inggris ini relevan: sekelas tim sekaya dan seberbakat Inggris pun bisa terjebak dalam dilema antara sistem dan pemain. Mampukah PSSI dan pelatih Timnas Indonesia belajar dari kegagalan berulang The Three Lions?



