Karhutla Gambut: Pemerintah Andalkan Operasi Darat, Modifikasi Cuaca Jadi Penyelamat
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah menggeser strategi pemadaman karhutla dari operasi udara ke operasi darat yang dinilai lebih efektif menjangkau titik api di lahan gambut.
- Kalimantan Barat menjadi prioritas dengan pemetaan hotspot di Ketapang dan Kubu Raya untuk penempatan personel dan peralatan secara presisi.
- Peluang hujan pada 4-8 September akan dimanfaatkan untuk operasi modifikasi cuaca, sekaligus menjaga muka air tanah di area gambut yang rawan terbakar.

Pemerintah memutuskan untuk mengandalkan operasi darat sebagai garda terdepan dalam memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah gambut yang menjadi langganan api setiap musim kemarau. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa strategi ini dipilih karena dinilai lebih efektif menjangkau titik api dibandingkan sekadar mengandalkan operasi udara. Kalimantan Barat, yang saat ini dilanda karhutla cukup parah, menjadi uji lapangan utama dari kebijakan tersebut.
Menurut Raja Juli, operasi darat memungkinkan petugas untuk bergerak cepat ke lokasi yang tepat dan melakukan pemadaman secara langsung. "Pasukan darat, ini andalan kita, sambil menunggu operasi modifikasi cuaca (OMC) atau hujan, ketika nanti musim hujan datang," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima akhir pekan ini. Pernyataan ini menggarisbawahi pergeseran prioritas dari pendekatan udara yang selama ini kerap menjadi andalan, namun dianggap kurang efektif untuk api yang membakar lapisan gambut di bawah permukaan.
Kalimantan Barat menjadi sorotan karena luasnya lahan gambut yang terbakar. Pemerintah mencatat adanya peluang potensi awan hujan di wilayah tersebut pada 4-8 September mendatang. Peluang ini akan dimaksimalkan melalui OMC untuk menyemai awan agar hujan segera turun. Kepala BNPB Suharyanto menambahkan bahwa penanganan karhutla di Kalimantan Barat terus dilakukan melalui kombinasi operasi darat dan udara, dengan harapan OMC dapat mempercepat proses pendinginan lahan.
Menteri Kehutanan juga menyoroti pentingnya pemetaan kebutuhan personel dan peralatan secara detail berdasarkan sebaran titik panas atau hotspot. Wilayah seperti Ketapang dan Kubu Raya disebut sebagai contoh yang perlu dipetakan secara cermat. Dengan begitu, personel dan peralatan dapat digeser ke lokasi yang paling membutuhkan, menghindari penumpukan sumber daya di satu area sementara area lain kekurangan. Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan efektivitas operasi darat di tengah keterbatasan jumlah personel dan peralatan.
Bagi Indonesia, kebakaran gambut bukan sekadar bencana lingkungan, melainkan juga ancaman serius bagi kesehatan masyarakat dan perekonomian. Asap karhutla kerap menyebabkan gangguan pernapasan, mengganggu aktivitas penerbangan, dan merugikan sektor pariwisata. Kebijakan yang tepat dalam penanganan karhutla menjadi krusial, mengingat Indonesia memiliki lahan gambut terluas di kawasan tropis, yang menyimpan karbon dalam jumlah besar. Jika terbakar, emisi karbon yang dilepaskan dapat memperparah perubahan iklim global.
Para ahli menilai bahwa pendekatan yang menggabungkan operasi darat dengan modifikasi cuaca merupakan langkah yang rasional. Namun, keberhasilan jangka panjang tetap bergantung pada upaya pencegahan, seperti restorasi gambut dan pengelolaan air yang baik. "Operasi darat adalah respons cepat, tetapi kita tidak boleh melupakan akar masalahnya: lahan gambut yang kering," kata seorang pengamat lingkungan yang enggan disebutkan namanya. Ia menambahkan bahwa tanpa perbaikan tata kelola air, kebakaran akan terus berulang setiap tahun.
Ke depan, pemerintah perlu memastikan bahwa operasi darat tidak hanya efektif dalam memadamkan api, tetapi juga efisien dalam penggunaan sumber daya. Pertanyaan yang muncul adalah: apakah pemetaan hotspot yang lebih baik akan mampu mencegah kebakaran sebelum meluas, atau justru hanya menjadi reaksi terhadap bencana yang sudah terjadi? Jawabannya akan menentukan apakah Indonesia mampu memutus siklus karhutla yang selama ini menjadi momok setiap musim kemarau.



