Rutin ke Bioskop atau Museum Bisa Memperlambat Penuaan Fisik, Studi Baru Ungkap
Baca dalam 60 detik
- Penelitian terhadap hampir 1.900 orang dewasa Inggris berusia 50+ menemukan bahwa mereka yang sering menghadiri acara budaya memiliki usia fisiologis lebih muda hingga 31 hari per peningkatan skor partisipasi.
- Efek ini tetap signifikan setelah memperhitungkan pendapatan rumah tangga dan kondisi kesehatan kronis, menunjukkan manfaat independen dari stimulasi kognitif dan sosial.
- Para ahli menekankan bahwa temuan ini bersifat observasional, namun konsistensi data menjadikan kegiatan budaya sebagai strategi potensial untuk penuaan sehat yang mudah diakses.

Kebiasaan menghadiri pertunjukan teater, mengunjungi museum, atau sekadar menonton film di bioskop ternyata tidak hanya memperkaya jiwa, tetapi juga bisa memperlambat proses penuaan biologis. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di Journal of Epidemiology and Community Health menemukan bahwa orang dewasa berusia 50 tahun ke atas yang rutin terlibat dalam kegiatan budaya memiliki usia fisiologis lebih muda dibandingkan mereka yang jarang atau tidak pernah melakukannya.
Penelitian yang menganalisis data dari hampir 1.900 partisipan English Longitudinal Study of Ageing ini mengukur sepuluh penanda fisiologis, termasuk tekanan darah nadi, tekanan darah diastolik, kolesterol LDL, indeks massa tubuh, dan kecepatan berjalan. Para partisipan juga diminta melaporkan frekuensi kunjungan ke bioskop, museum, galeri seni, teater, konser, atau opera. Hasilnya, mereka yang memiliki tingkat keterlibatan budaya tinggi—sekitar beberapa kali dalam setahun—menunjukkan usia fisiologis rata-rata 66,9 tahun, lebih rendah dari kelompok dengan partisipasi rendah.
“Setiap peningkatan satu poin dalam skor keterlibatan budaya dikaitkan dengan pengurangan usia fisiologis sebesar 0,085 tahun, atau sekitar 31 hari,” ujar Yusuke Matsuyama, PhD, peneliti dari Institute of Science Tokyo dan penulis utama studi tersebut. Temuan ini tetap konsisten setelah peneliti mengontrol faktor-faktor seperti pendapatan rumah tangga dan kondisi kesehatan kronis. Matsuyama menambahkan bahwa pendekatan analitis yang digunakan mampu menghilangkan bias dari faktor yang tidak berubah seiring waktu, seperti karakteristik genetik atau kepribadian.
Para ahli yang tidak terlibat dalam studi ini menyambut baik temuan tersebut. Anna Chodos, MD, profesor geriatri di University of California, San Francisco, mengatakan bahwa hasil ini intuitif dan masuk akal. “Kita semua bisa membayangkan orang-orang yang tampak lebih bugar di usia tua adalah mereka yang aktif dalam kehidupan budaya. Stimulasi kognitif dan keterlibatan sosial memang diketahui melindungi penuaan fisiologis,” jelasnya. Namun, ia mengingatkan bahwa studi observasional tidak bisa membuktikan hubungan sebab-akibat. “Bisa jadi orang yang lebih sehat dan mobile justru lebih mungkin untuk berpartisipasi dalam kegiatan budaya.”
Di Indonesia, temuan ini relevan mengingat populasi lansia terus bertambah. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan jumlah penduduk berusia 60 tahun ke atas mencapai lebih dari 30 juta jiwa pada 2023. Kegiatan budaya seperti mengunjungi museum nasional, menonton pertunjukan wayang, atau menghadiri konser musik tradisional bisa menjadi alternatif murah dan mudah diakses untuk menjaga kesehatan di usia senja. Namun, tantangan seperti keterbatasan mobilitas, biaya, dan infrastruktur masih menjadi hambatan bagi sebagian lansia.
Dung Trinh, MD, internis dari MemorialCare Medical Group, menyarankan untuk memulai dari hal kecil dan memilih aktivitas yang benar-benar dinikmati. “Kunjungi museum lokal setiap beberapa bulan, hadiri konser komunitas, atau ikuti kelompok diskusi buku. Yang penting adalah konsistensi, bukan jumlah,” katanya. Ia juga menekankan pentingnya mengajak teman atau keluarga karena aspek sosial turut berkontribusi pada manfaat kesehatan.
Ke depan, para peneliti berharap studi intervensi dapat mengonfirmasi hubungan kausal antara keterlibatan budaya dan penuaan fisiologis. Kamal Wagle, MD, geriatrician dari Hackensack University Medical Center, menekankan perlunya penelitian dengan populasi yang lebih beragam secara budaya dan sosial-ekonomi. “Kita perlu memahami jenis dan frekuensi kegiatan budaya mana yang paling efektif, serta bagaimana dampaknya terhadap penanda kesehatan spesifik,” ujarnya. Pertanyaan yang masih menggantung: apakah efek perlambatan penuaan ini bertahan dalam jangka panjang, atau hanya sekadar cerminan dari gaya hidup yang sudah aktif sejak awal?



