Film 'Dear You' Dongkrak Minat Wisata Heritage ke Chaoshan, Agen Perjalanan Kewalahan
Baca dalam 60 detik
- Pemesanan tur ke Chaoshan melonjak hingga 30 persen sejak pemutaran film 'Dear You' di Singapura, dengan satu paket perjalanan enam hari sudah penuh.
- Fenomena ini menunjukkan pergeseran preferensi wisatawan dari sekadar liburan menjadi pencarian pengalaman budaya dan napak tilas leluhur.
- Agen perjalanan mulai merancang paket khusus yang menggabungkan kunjungan ke lokasi syuting, riset silsilah keluarga, dan aktivitas budaya khas Chaoshan.

Film drama sejarah berbahasa Teochew, Dear You, tidak hanya sukses meraup lebih dari 1,7 miliar yuan (sekitar Rp3,8 triliun) di box office China, tetapi juga memicu gelombang baru wisata heritage ke kawasan Chaoshan, Guangdong. Sejumlah agen perjalanan di Singapura melaporkan lonjakan permintaan hingga 30 persen untuk tur ke daerah yang menjadi latar cerita film tersebut.
Sejak penayangan perdana versi Mandarin pada 18 Juni lalu, antusiasme penonton terhadap versi asli berbahasa Teochew mendorong Otoritas Pengembangan Media Infokom Singapura (IMDA) menyetujui 272 pemutaran tambahan. Fenomena ini tidak hanya menggugah nostalgia diaspora Tionghoa, tetapi juga mengubah peta permintaan wisata ke China selatan.
China Express Travel, agen yang berbasis di Hong Lim Complex, mencatat kenaikan 30 persen pertanyaan untuk tur ke Chaoshan. Paket enam hari yang dijadwalkan bulan depan sudah penuh dipesan, sementara slot untuk sisa tahun ini hanya tersisa sedikit. โFilm ini membuat orang bernostalgia. Pengaruhnya melampaui mereka yang berakar dari Chaoshan,โ ujar Li Liang Yi, pendiri China Express Travel, seperti dikutip CNA.
EU Holidays, agen lain, mencatat peningkatan 15โ20 persen untuk tur budaya China selatan dibanding periode sama tahun lalu. Direktur EU Holidays, Alan Ang, mengatakan perusahaannya meluncurkan paket heritage dan homecoming yang terinspirasi film. Wisatawan bisa mengikuti aktivitas budaya seperti tarian Yingge, riset leluhur, hingga bertemu kerabat yang masih tinggal di China. Salah satu kegiatan unik adalah menulis surat untuk nenek, mengadopsi momen emosional dalam film.
โIni bukan sekadar bepergian. Surat itu bisa menjadi refleksi diri, ikatan emosional yang lebih dalam, dan kenang-kenangan perjalanan,โ kata Ang. EU Holidays juga menjajaki kerja sama dengan asosiasi klan di Singapura dan sejarawan lokal di China untuk memastikan keakuratan sejarah dan keaslian budaya.
Fenomena ini mencerminkan tren global wisatawan yang mencari pengalaman bermakna di luar sekadar pemandangan. Bagi Indonesia, dengan diaspora Tionghoa yang besar dan ikatan historis dengan China selatan, potensi pasar serupa terbuka lebar. Agen perjalanan di Tanah Air bisa meniru model paket napak tilas yang menggabungkan film, budaya, dan genealogi. Pertanyaannya, apakah industri wisata Indonesia siap menangkap peluang dari gelombang nostalgia ini?



