Davide Ancelotti Tinggalkan Bayang-Bayang Sang Ayah: ‘Saya Inciptakan Cerita Sendiri’
Baca dalam 60 detik
- Davide Ancelotti resmi menangani Lille setelah 14 tahun menjadi asisten, termasuk di PSG dan timnas Brasil.
- Pelatih 36 tahun itu menegaskan nama besar Ancelotti bukan beban, melainkan modal berharga yang ia syukuri.
- Karier solonya di Brasil dianggap sebagai batu loncatan penting sebelum menangani klub Liga Champions Prancis.

Davide Ancelotti resmi diperkenalkan sebagai pelatih kepala Lille, menandai langkah pertamanya keluar dari bayang-bayang sang ayah, Carlo Ancelotti. Dalam konferensi pers perdananya, pelatih berusia 36 tahun itu menegaskan bahwa nama besar yang ia bawa justru menjadi kebanggaan, bukan beban.
“Saya di sini untuk menulis cerita saya sendiri. Saya sangat senang menjadi seorang Ancelotti, memiliki nama keluarga ini,” ujarnya seperti dikutip dari Il Napolista. “Saya beruntung bisa belajar dari yang terbaik, dan itu bukan sesuatu yang ingin saya lepaskan. Ini bukan beban bagi saya. Tapi saya tidak ingin dibandingkan dengan ayah saya. Saya tidak merasakan tekanan soal itu.”
Davide meninggalkan posisinya sebagai asisten pelatih di timnas Brasil, tempat ia bekerja bersama Carlo, untuk mengambil alih klub yang telah lolos ke Liga Champions musim depan. Ia menolak anggapan bahwa pengalamannya kurang mumpuni, mengingat ia telah menjalani masa magang panjang di level tertinggi sepak bola Eropa.
“Memang benar latar belakang saya agak khusus, tapi saya sudah bekerja di sepak bola sejak lama. Saya memulainya di negara ini 14 tahun lalu bersama PSG,” jelas Davide. “Kemudian saya menjalani karier panjang sebagai asisten, tetapi di klub-klub dengan tuntutan tinggi, tekanan besar, dan standar yang sangat tinggi. Saya memutuskan untuk mencoba eksperimen di Amerika Selatan sebagai langkah awal, karena saya pikir itu lingkungan yang sangat istimewa bagi seorang pelatih, sangat sulit. Saya sangat senang melakukannya, karena hari ini saya menjadi pelatih yang lebih baik.”
Meski kini berdiri sendiri, Davide tetap menjadikan sang ayah sebagai sumber konsultasi. “Mengangkat telepon dan meneleponnya untuk meminta nasihat, tanpa harus membayar, saya pikir itu luar biasa,” katanya sambil tersenyum. Hubungan dekat dengan Carlo Ancelotti, yang telah memenangkan tiga Liga Champions, tentu menjadi aset berharga bagi pelatih muda ini.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, langkah Davide Ancelotti menarik dicermati. Di tengah maraknya pelatih muda yang mencoba peruntungan di Eropa, kisah Davide menunjukkan pentingnya pengalaman bertahap dan keberanian meninggalkan zona nyaman. Jika sukses di Lille, ia bisa menjadi inspirasi bagi pelatih-pelatih muda Tanah Air yang bercita-cita menembus level tertinggi sepak bola global.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah Davide Ancelotti membawa Lille bersaing di Liga Champions dan mempertahankan posisi mereka di papan atas Ligue 1? Atau akankah bayang-bayang sang ayah tetap menghantuinya meski ia berusaha menulis cerita sendiri? Musim depan akan menjadi jawabannya.



