AS untuk Pertama Kali Gunakan Drone Laut dalam Serangan: Era Baru Peperangan Maritim?
Baca dalam 60 detik
- Untuk pertama kalinya, Amerika Serikat menggunakan drone permukaan tanpa awak (sea drones) dalam serangan tempur, menargetkan pangkalan angkatan laut Iran di Bandar Abbas.
- Langkah ini menandai integrasi penuh sistem otonom ke dalam doktrin militer AS, terinspirasi oleh keberhasilan Ukraina menggunakan drone laut melawan Rusia.
- Drone Corsair buatan Saronic Technologies, yang telah dipesan massal oleh Angkatan Laut AS, menawarkan fleksibilitas misi tinggi dengan biaya lebih rendah dibandingkan kapal perang konvensional.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Amerika Serikat mengerahkan drone permukaan tanpa awak—yang dikenal sebagai sea drones—dalam operasi tempur langsung, menandai tonggak baru dalam peperangan maritim modern. Pada 12 Juli 2026, tiga unit Corsair buatan Saronic Technologies menghantam fasilitas perbaikan kapal selam dan kapal di Pangkalan Angkatan Laut Bandar Abbas, Iran, menurut pernyataan Komando Pusat AS (CENTCOM).
Serangan itu disebut CENTCOM bertujuan menurunkan kemampuan Iran dalam mengganggu pelayaran komersial di kawasan. Rekaman yang dirilis memperlihatkan drone meledak di dekat dermaga, mengepulkan asap tebal ke udara. Meskipun drone laut sebelumnya pernah digunakan AS untuk misi penyelamatan—seperti mengevakuasi pilot helikopter Apache yang ditembak jatuh Iran pada Juni 2026—penggunaannya sebagai senjata ofensif merupakan lompatan signifikan.
Menurut analis dari Indo-Pacific Strategic Intelligence, Benedicta Nathania Palit, arti penting langkah ini tidak terletak pada platformnya, melainkan pada sinyal yang dikirimkan. "Lintasan dari sensor, alat penyelamat, hingga senjata dalam satu gelombang penyebaran menunjukkan bahwa sistem ini telah berevolusi dari platform eksperimental menjadi alat operasional yang sesungguhnya," ujarnya. Joseph Kristanto, peneliti dari S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), menambahkan bahwa operasi ini membuktikan drone laut tidak lagi dipandang sebagai kemampuan pinggiran, melainkan telah terintegrasi dalam perencanaan operasional angkatan laut utama.
Drone Corsair yang digunakan dalam serangan tersebut merupakan kendaraan otonom serbaguna. Saronic Technologies, perusahaan pertahanan asal Texas, mengklaim Corsair mampu mendukung operasi "blue-water" strategis dan dapat diadaptasi untuk berbagai misi—mulai dari intelijen, pengintaian, hingga serangan satu arah (one-way attack). Desain modularnya memungkinkan komandan angkatan laut mengganti peran tanpa perlu mengembangkan platform baru untuk setiap tugas, jelas Palit.
Keberhasilan AS ini tidak lepas dari pengalaman Ukraina yang sejak 2022 gencar menggunakan drone laut untuk menyerang armada Rusia di Laut Hitam. Kyiv bahkan mengklaim telah menghantam 116 kapal Rusia dalam sembilan hari pada awal Juli 2026. Dr. Collin Koh, peneliti senior RSIS, menilai serangan AS kemungkinan terinspirasi oleh efektivitas taktik Ukraina. "Ini mencerminkan keberhasilan program kendaraan tak berawak Departemen Pertahanan AS yang telah mendapat investasi besar, terutama setelah Ukraina membuktikan konsepnya," ujarnya.
Meski demikian, para analis sepakat bahwa drone laut tidak akan menggantikan kapal perang konvensional seperti fregat atau destroyer. "Kontribusi terbesarnya bukan membuat kapal perang usang, melainkan memungkinkan angkatan laut bertempur secara lebih terdistribusi, terukur, dan hemat biaya dengan menggabungkan sistem berawak dan tak berawak dalam satu kekuatan," kata Kristanto. Drone laut unggul untuk misi berbahaya, berulang, atau berdurasi panjang, sehingga kapal berawak dapat fokus pada tugas yang hanya bisa dilakukan manusia.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi strategis. Sebagai negara maritim dengan ancaman keamanan laut yang kompleks—mulai dari pembajakan hingga sengketa wilayah—penggunaan drone laut dapat menjadi opsi yang menarik. Namun, adopsi teknologi semacam itu memerlukan kesiapan doktrin, sumber daya manusia, dan infrastruktur pendukung. Palit mengingatkan bahwa sistem otonom bukanlah pengganti strategi yang matang atau penilaian manusia. "Nilai strategisnya bergantung pada doktrin, komando dan kendali, serta konsep operasional, sama seperti teknologinya sendiri," tegasnya.
Ke depan, pertanyaan yang muncul bukan lagi apakah drone laut akan mengubah peperangan maritim, melainkan sejauh mana negara-negara mampu menyeimbangkan keuntungan operasional dengan risiko eskalasi di perairan yang disengketakan. Dengan AS yang kini telah memvalidasi penggunaannya dalam pertempuran, perlombaan senjata otonom di laut diprediksi akan semakin intensif.



