Rees-Zammit Akui Belum Temukan Performa Terbaik Setelah Kembali ke Rugby
Baca dalam 60 detik
- Pemain sayap Wales, Louis Rees-Zammit, mengaku belum sepenuhnya beradaptasi setelah setahun kembali ke rugby dari karier American football.
- Dalam 10 penampilan musim ini, ia hanya mencetak dua try, jauh di bawah catatan 14 try dalam 31 laga sebelum meninggalkan rugby.
- Rees-Zammit bertekad meningkatkan dampaknya musim depan menjelang Piala Dunia 2027, meski saat ini masih mencari konsistensi.

Louis Rees-Zammit, pemain sayap Wales berusia 25 tahun, secara blak-blakan mengakui bahwa masa transisinya kembali ke rugby setelah setahun berkarier di American football belum berjalan mulus. Dalam wawancara menjelang laga Nations Championship melawan Afrika Selatan di Durban, Sabtu ini, ia menyatakan ekspektasinya terhadap performa pribadi belum terpenuhi sepenuhnya.
Rees-Zammit mengumumkan kepulangannya ke rugby hampir 12 bulan lalu setelah gagal menembus NFL. Sejak itu, ia tampil dalam 10 dari 11 pertandingan Wales musim 2025-26, dengan delapan kali menjadi starter dan dua kali sebagai pemain pengganti. Satu-satunya laga yang ia lewatkan adalah kekalahan telak 73-0 dari Afrika Selatan pada November 2025, karena ia tidak memenuhi syarat akibat bermain untuk klub Inggris di luar jendela internasional World Rugby.
"Saya tidak bisa kembali ke ritme permainan secepat yang saya harapkan," ujar Rees-Zammit, yang kerap dimainkan sebagai full-back maupun sayap. "Semakin banyak saya bermain, semakin percaya diri saya. Tapi musim ini sangat panjang dan saya bermain di beberapa posisi. Saya belum benar-benar menemukan pijakan dan berlari seperti dulu."
Statistik mencerminkan perjuangannya. Sejak kembali, ia baru mengoleksi dua try dalam 10 laga internasional—satu saat kalah dari Selandia Baru dan satu lagi saat menang atas Jepang di Cardiff pada November lalu. Dalam tujuh pertandingan terakhir, ia bahkan belum sekali pun menyentuh garis akhir. Bandingkan dengan catatannya sebelum meninggalkan rugby: 14 try dalam 31 penampilan internasional. Mantan center Wales, Jonathan Davies, pekan lalu secara terbuka meminta Rees-Zammit menunjukkan lebih banyak agresivitas dalam merebut bola, sesuatu yang diakui pemain tersebut sedang ia upayakan.
Pelatih Wales, Steve Tandy, bersama pelatih serangan Matt Sherratt, masih mencari formula terbaik untuk memanfaatkan kecepatan dan naluri mencetak angka Rees-Zammit. Pemain yang pernah menjadi bagian British and Irish Lions pada 2021 itu kini lebih memilih bermain di posisi sayap, setelah lima dari sembilan start musim ini ia jalani sebagai full-back selama Six Nations. "Saya sudah memberi tahu klub dan tim nasional bahwa sayap adalah posisi jangka panjang saya," tegasnya. "Sepanjang karier sebelum NFL, saya bermain di sayap. Saya adalah Lion di sayap. Saya lebih nyaman di sana dan peluang mencetak try lebih banyak datang dari sayap."
Laga melawan Afrika Selatan akhir pekan ini menjadi ujian berat bagi Wales, yang baru saja menelan kekalahan 35-21 dari Argentina. Rees-Zammit sendiri sempat dicadangkan pada laga tersebut setelah tampil gemilang saat membungkam Fiji 39-24 di laga pembuka. Kini ia kembali menjadi starter, dan ia sadar timnya harus tampil jauh lebih baik untuk bersaing dengan juara dunia bertahan. "Secara fisik kami tidak siap saat melawan Argentina, dan tidak ada tim yang lebih baik dari Afrika Selatan dalam hal itu," katanya. "Kami harus meningkatkan level fisik secara drastis."
Meski hasil musim ini kurang memuaskan—hanya tiga kemenangan dari 11 laga—Rees-Zammit melihat secercah harapan. "Selama musim gugur dan Six Nations, Anda bisa melihat kami membangun sesuatu. Kami memenangkan tiga pertandingan beruntun, lalu ada hambatan pekan lalu. Ini tentang memperbaiki kesalahan dan kembali berjuang." Dengan Piala Dunia 2027 di Australia yang tinggal dua musim lagi, ia menegaskan bahwa musim depan harus menjadi momentum kebangkitannya. "Musim ini saya banyak belajar. Tahun depan saya ingin memberikan dampak sebesar mungkin." Pertanyaannya, apakah waktu yang tersisa cukup bagi Rees-Zammit untuk kembali ke performa terbaiknya?



