Merluer Tiga Kali Menang di Tour de France 2025, Sprint Kaos Hijau Masih Terbuka
Baca dalam 60 detik
- Pembalap Belgia Tim Merlier memenangi etape 12 Tour de France 2025 lewat sprint kacau yang diwarnai kecelakaan di kilometer akhir.
- Kemenangan ini menjadi yang ketiga bagi Merlier di edisi tahun ini, mengungguli para favorit seperti Philipsen dan Girmay yang belum sekalipun menang.
- Etape 12 menjadi salah satu kesempatan terakhir bagi sprinter sebelum Tour memasuki pegunungan; persaingan kaos hijau masih ketat antara Pedersen dan Girmay.

Pembalap Belgia Tim Merlier kembali menunjukkan taringnya di Tour de France 2025 dengan memenangi etape 12 yang berlangsung kacau di lintasan basah, Kamis (10/7). Kemenangan ini menjadi yang ketiga bagi sprinter Soudal Quick-Step tersebut setelah sebelumnya sukses di etape 7 dan 8, sekaligus menegaskan dominasinya di ajang balap sepeda paling bergengsi di dunia.
Etape sepanjang 203,6 km dari Sirkuit Nevers Magny-Cours menuju Chalon-sur-Saone itu berlangsung di bawah guyuran hujan deras dan angin kencang yang mengubah peta persaingan. Dalam sprint akhir yang semrawut, Merlier mampu menghindari kecelakaan yang melibatkan Fernando Gaviria (Kolombia) dan Soren Waerenskjold (Norwegia), pemenang etape 11. Ia melesat dari belakang untuk mengalahkan rekan senegaranya Jasper Philipsen yang finis ketiga, sementara posisi kedua ditempati Olav Kooij dari Belanda.
"Hari ini saya benar-benar fokus pada pembalap yang terjebak kemarin. Saya menemukan celah dan langsung meluncur," ujar Merlier usai balapan, seperti dikutip BBC. Ia menambahkan bahwa kemenangan ini terasa istimewa karena disaksikan langsung oleh istri dan putranya yang masih kecil. "Dia masih muda, tapi mungkin dia akan mengingat momen ini," katanya.
Kemenangan Merlier kontras dengan nasib Philipsen dan Girmay yang sama-sama belum meraih satu pun kemenangan etape di Tour tahun ini, meski total koleksi kemenangan etape keduanya mencapai 13. Philipsen, yang sempat diunggulkan sebagai salah satu sprinter tercepat, gagal memanfaatkan posisi apiknya di kilometer akhir. Sementara Girmay, yang memimpin klasemen kaos hijau selama beberapa hari, kini harus rela posisinya digeser Pedersen setelah etape ini.
Etape 12 menjadi salah satu dari sedikit kesempatan emas bagi para sprinter sebelum Tour memasuki medan berat. Tiga etape ke depan akan menyajikan tanjakan menuju Belfort, diikuti dua etape pegunungan, dan etape 16 berupa uji waktu individu yang tidak cocok untuk pembalap cepat. Peluang berikutnya bagi sprinter baru akan muncul di etape 17, tetapi pembukaan etape yang menantang bisa memungkinkan terjadinya breakaway. Etape terakhir di Paris pun kini bukan lagi surga bagi sprinter seperti tahun-tahun sebelumnya.
Bagi penggemar balap sepeda di Indonesia, performa Merlier menjadi sorotan karena gaya sprintnya yang agresif namun cerdas. Meski belum ada pembalap Indonesia yang berlaga di Tour de France, dominasi sprinter Eropa dan Afrika seperti Girmay menunjukkan bahwa persaingan di level tertinggi semakin terbuka. Ke depan, dengan makin banyaknya pembalap dari negara berkembang yang tampil kompetitif, bukan tidak mungkin suatu saat akan lahir sprinter Asia yang mampu bersaing di Grand Tour.
Di klasemen umum, Tadej Pogacar masih kokoh di puncak dengan keunggulan 3 menit 36 detik atas Jonas Vingegaard. Pertarungan keduanya diprediksi akan memanas di etape pegunungan mendatang. Sementara itu, perebutan kaos hijau masih terbuka lebar: Pedersen unggul 40 poin atas Girmay, namun dengan tiga etape datar tersisa, segalanya bisa berubah. Akankah Merlier mampu menambah koleksi kemenangannya, atau justru Philipsen dan Girmay yang akhirnya bangkit?



