Kenangan Mendiang Scott Hastings: Nomor Punggung Emas di Laga Skotlandia vs Fiji
Baca dalam 60 detik
- Skotlandia akan mengenang legenda rugby Scott Hastings dalam laga Nations Championship melawan Fiji dengan nomor punggung 13 emas yang dikenakan Ollie Smith.
- Hastings, yang meninggal mendadak pada Mei lalu di usia 61 tahun, adalah ikon rugby Skotlandia dengan 65 caps dan momen Grand Slam 1990 yang legendaris.
- Pertandingan di Murrayfield diperkirakan dihadiri 50.000 penonton, menjadi penghormatan terakhir bagi salah satu putra terbaik Skotlandia.

Murrayfield akan menjadi saksi bisu penghormatan terakhir bagi Scott Hastings, legenda rugby Skotlandia yang meninggal mendadak pada Mei lalu di usia 61 tahun. Dalam laga Nations Championship melawan Fiji, Sabtu (16/11), nomor punggung 13 yang pernah ia kenakan dengan gemilang akan bersinar dalam warna emas di jersey Ollie Smith.
Hastings bukan sekadar pemain biasa. Dengan 65 penampilan internasional, ia memegang rekor caps Skotlandia pada masanya. Namun, yang membuatnya dikenang bukan hanya angka, melainkan kepribadiannya yang hangat dan greget di lapangan. Momen puncaknya adalah Grand Slam 1990, saat tekel penyelamatnya terhadap Rory Underwood menjadi legenda yang terus diceritakan turun-temurun.
Pelatih kepala Skotlandia, Gregor Townsend, yang pernah bermain bersama Hastings, mengungkapkan bahwa tim telah merancang tribute khusus. "Kami ingin memastikan warisan Scott sebagai pemain Skotlandia terlihat. Nomor 13 akan dicetak emas dan di dalamnya terdapat nama-nama tim yang pernah ia bela serta pencapaiannya," ujar Townsend. Ia menambahkan bahwa momen sebelum pertandingan akan diisi dengan pesan untuk pendukung dan tayangan tribute di televisi.
Hastings, bersama saudaranya Gavin, memulai karier di Watsonians sebelum bergabung dengan British and Irish Lions dalam tur kemenangan ke Australia (1989) dan Selandia Baru (1993). Ia juga tercatat 13 kali membela Barbarians, tim undangan legendaris. Pada musim gugur lalu, namanya diabadikan dalam Scottish Rugby Hall of Fame sebagai pengakuan atas karier internasional yang membentang 11 tahun.
Laga melawan Fiji sendiri sejatinya bukan partai besar dalam kalender rugby. Namun, kehadiran 50.000 penonton yang diperkirakan memadati Murrayfield menunjukkan betapa besar rasa hormat publik terhadap Hastings. Bagi banyak penggemar, ini adalah kesempatan untuk memberikan tepuk tangan terakhir bagi salah satu putra terbaik Skotlandia.
Bagi penggemar rugby di Indonesia, momen ini bisa menjadi pengingat bahwa olahraga tidak hanya tentang kemenangan, tetapi juga tentang menghormati warisan para legenda. Di tengah gempuran komersialisasi, tribute seperti ini menunjukkan bahwa nilai-nilai sportivitas dan penghormatan tetap hidup. Pertanyaannya, akankah tradisi serupa juga diterapkan di ajang rugby lainnya, atau bahkan di cabang olahraga lain di tanah air?



