Ben Yeo Tutup Enam Gerai Ikan Kuah, Beralih ke Konsep Zichar Murah di Yishun
Baca dalam 60 detik
- Aktor dan pengusaha F&B Ben Yeo menutup seluruh gerai Tan Xiang Sliced Fish Soup setelah merugi hingga puluhan ribu dolar Singapura dalam setahun.
- Kegagalan itu disebabkan ekspansi yang terlalu agresif, berbeda dengan strategi bertahap yang diterapkan pada merek lainnya.
- Sebagai gantinya, ia meluncurkan 20 Dishes Only, sebuah warung zichar dengan menu terbatas dan harga terjangkau di Yishun.

Mediacorp actor-host dan pengusaha kuliner Ben Yeo menutup total enam gerai Tan Xiang Sliced Fish Soup yang baru berusia setahun setelah mengalami kerugian signifikan. Langkah drastis ini diambil karena bisnis dinilai tidak mencapai target, mendorong Yeo untuk merombak strategi F&B-nya.
Dalam wawancara dengan 8days.sg, Yeo mengakui bahwa ekspansi cepat yang dilakukan pada 2025 menjadi bumerang. Enam gerai ikan kuah dibuka dalam waktu singkat di berbagai lokasi seperti Orchard Towers, Clementi, dan Ang Mo Kio. Namun, hanya sebagian yang menguntungkan, sementara sisanya justru membebani keuangan perusahaan. “Secara keseluruhan, kami kehilangan angka lima digit pertengahan,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa target evaluasi diberikan waktu satu tahun. Jika tidak berhasil, lebih baik memotong kerugian.
Kegagalan ini menjadi pelajaran berharga. Yeo membandingkan dengan pengalaman sebelumnya mengelola Charcoal Fish Head Steamboat Restaurant yang tumbuh perlahan namun stabil. “Untuk ikan kuah, kami pikir karena investasinya kecil, kami bisa membuka banyak sekaligus agar merek cepat dikenal. Ternyata strategi itu tidak lagi efektif,” katanya. Meski demikian, ia tidak berniat berhenti. “Kami harus diversifikasi. Tren bergerak terlalu cepat sekarang. Tidak bisa bergantung pada satu merek,” tegasnya.
Alih-alih mundur, Yeo justru meluncurkan konsep baru: 20 Dishes Only, sebuah warung zichar ala kampung yang berlokasi di kedai kopi GHK 645, Yishun. Sesuai namanya, menu hanya menyajikan 20 hidangan favorit sepanjang masa dengan harga terjangkau, berkisar S$6,80 hingga S$15. Hanya empat item yang dibanderol di atas S$10. Contoh menu termasuk Kukus Daging Cincang dengan Telur Asin (S$7,80), Ikan Asam Manis Tarik (S$8,80), dan Kepala Ikan Kukus (S$15). Selain itu, tersedia pula nasi goreng dan mi, termasuk favorit pribadi Yeo, Yin Yang Hor Fun (S$6,50).
Konsep ini sengaja dirancang untuk konsumsi sehari-hari, berbeda dengan Charcoal Fish Head Steamboat yang lebih cocok untuk acara besar. Porsi setiap hidangan dibuat tunggal, menyesuaikan dengan tren rumah tangga kecil dan pasangan masa kini. “Dulu warung zichar tidak punya menu besar. Hanya beberapa hidangan, tapi semuanya favorit,” kenang Yeo. Menu terbatas juga membantu menekan biaya bahan baku dan limbah makanan di tengah kenaikan harga bahan pokok dan tenaga kerja.
Langkah Yeo mencerminkan perubahan strategi di tengah tekanan biaya operasional yang meningkat. Dengan membatasi variasi menu, ia berharap bisnis lebih berkelanjutan. “Semuanya mahal sekarang—bahan, tenaga kerja. Menu kecil membantu mengurangi limbah,” jelasnya. Bagi konsumen Indonesia, model bisnis ini bisa menjadi inspirasi bagi pelaku usaha kuliner di Tanah Air yang ingin mengoptimalkan efisiensi tanpa mengorbankan kualitas.
Ke depan, tantangan terbesar Yeo adalah membangun loyalitas pelanggan di tengah persaingan ketat pasar zichar Singapura. Akankah konsep menu terbatas dan harga ramah kantong cukup untuk menarik pengunjung? Atau justru akan kembali menghadapi risiko serupa? Waktu yang akan menjawab.



