Wisatawan Mancanegara Serbu Istana Kerajaan Seoul: Lonjakan 6,6% di Semester I 2026
Baca dalam 60 detik
- Kunjungan ke lima situs bersejarah era Joseon di Seoul mencapai 7,41 juta orang pada semester pertama 2026, dengan 30,6% di antaranya wisatawan asing.
- Gyeongbokgung menjadi primadona dengan 1,63 juta pengunjung asing, didorong oleh Royal Culture Festival dan cuaca musim semi yang mendukung.
- Pemerintah Korea Selatan menggelar program masuk gratis hingga 19 Juli untuk menarik lebih banyak wisatawan, menargetkan rekor tahunan baru setelah 17,81 juta kunjungan pada 2025.

Lima situs kerajaan peninggalan Dinasti Joseon di pusat Seoul mencatat lonjakan jumlah pengunjung asing hingga 6,6 persen pada paruh pertama 2026 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Data Korea Heritage Service (KHS) yang dirilis Kamis (16/7) menunjukkan total kunjungan mencapai 7,41 juta orang, dengan hampir sepertiga di antaranya merupakan wisatawan mancanegara.
Peningkatan ini menandai pemulihan penuh sektor pariwisata budaya Korea Selatan pascapandemi. Sejak 2023, angka kunjungan ke empat istana—Gyeongbokgung, Changdeokgung, Changgyeonggung, Deoksugung—dan Jongmyo Shrine terus merangkak naik. Pada semester I 2023 tercatat 5,34 juta kunjungan, naik menjadi 6,56 juta pada 2024, dan 6,95 juta pada 2025. Kini, dengan tambahan 6,6 persen, optimisme KHS untuk menembus rekor tahunan 17,81 juta kunjungan pada 2026 semakin kuat.
Gyeongbokgung, istana utama yang dibangun pada 1395, menjadi daya tarik terbesar. Istana ini menerima 3,65 juta pengunjung pada Januari–Juni 2026, melonjak 10,7 persen dari 3,29 juta pada periode yang sama tahun lalu. Dari jumlah tersebut, 1,63 juta adalah wisatawan asing. Lokasinya yang strategis—bersebelahan dengan Stasiun Gyeongbokgung, Alun-Alun Gwanghwamun, dan kawasan Insa-dong—menjadi faktor utama tingginya minat. Puncak kunjungan terjadi pada April dan Mei, bertepatan dengan Royal Culture Festival (25 April–3 Mei) serta cuaca semi yang sejuk.
Deoksugung menyusul dengan 1,75 juta kunjungan, sementara Changdeokgung dan Changgyeonggung masing-masing 1,05 juta dan 610.841. Jongmyo, tempat suci leluhur kerajaan yang memerlukan reservasi kecuali akhir pekan dan hari libur, dikunjungi 359.516 orang. Menariknya, jumlah pengunjung Jongmyo pada Mei mencapai 108.301, jauh lebih tinggi dibanding Juni yang hanya 39.673, menunjukkan efek musiman yang kuat.
Bagi pelancong asal Indonesia, tren ini membuka peluang untuk menikmati warisan budaya Korea dengan lebih mudah. Pemerintah Korea Selatan saat ini tengah menawarkan akses gratis ke Changdeokgung, Jongmyo, dan Makam Kerajaan Joseon di Seoul serta provinsi Gyeonggi dan Gangwon hingga 19 Juli 2026. Namun, taman rahasia (secret garden) di Changdeokgung tidak termasuk dalam program ini. Kebijakan ini dapat menjadi pertimbangan bagi wisatawan Indonesia yang merencanakan liburan musim panas ke Semenanjung Korea.
Para pejabat KHS memperkirakan total kunjungan tahun ini akan memecahkan rekor. Jika tren semester I berlanjut, angka 17,81 juta pada 2025 kemungkinan besar akan terlampaui. Pertanyaannya, apakah infrastruktur dan promosi pariwisata Korea Selatan mampu mempertahankan momentum ini di tengah persaingan destinasi budaya Asia lainnya?



