Singapore Night Festival 2026: Mitos Nusantara dan Zona Museum Baru Siap Meriahkan Malam
Baca dalam 60 detik
- Festival malam tahunan Singapura edisi ke-17 mengusung tema mitos dan legenda Asia Tenggara, berlangsung 21 Agustus–5 September 2026.
- Zona Museum baru di sekitar National Museum of Singapore menjadi daya tarik utama, menggantikan sebagian area panggung utama sebelumnya.
- Kompetisi proyeksi mapping MALAM perdana membuka peluang bagi seniman regional, termasuk kemungkinan partisipasi kreator Indonesia.

Singapore Night Festival (SNF) kembali untuk edisi ke-17 pada 21 Agustus hingga 5 September 2026, menjanjikan pengalaman malam yang lebih segar dengan tema Mitos dan Legenda yang mengakar pada tradisi Asia Tenggara. Festival ini akan mengubah kawasan Bras Basah-Bugis menjadi galeri cahaya dan pertunjukan interaktif, dengan satu perubahan signifikan: hadirnya Zona Museum baru yang berpusat di sekitar National Museum of Singapore, Children's Museum Singapore, dan ruang warisan di sekitarnya.
Direktur festival Qazim Karim dari HeritageSG menegaskan bahwa SNF bukan sekadar instalasi cahaya. "Ini tentang menciptakan pengalaman bersama yang menyatukan orang-orang setelah gelap, sambil menampilkan bakat kreatif terbaik dari Singapura dan Asia Tenggara," ujarnya. Tahun ini, festival dibagi menjadi tiga zona utama: Zona 1 dari Funan hingga CHIJMES dengan pasar kerajinan di Capitol Singapore, Zona 2 dari Cathay Green hingga Waterloo Centre yang menawarkan pertunjukan dan pameran partisipatif, serta Zona 3 di Bras Basah Complex dan Stamford Arts Centre yang menyajikan pengalaman budaya seperti pertunjukan xinyao dan seni tradisional.
Salah satu atraksi utama adalah Tales Of Earth And Sea, pertunjukan proyeksi mapping oleh The Fox, The Folks yang akan menerangi fasad National Museum of Singapore. Bagi pengunjung yang mencari pengalaman lebih imersif, tersedia The Lost Legacy Of Fort Canning: The Forbidden Hill, jalur malam sepanjang 70 menit di Fort Canning Park yang mengungkap mitos dan misteri seputar Bukit Larangan. Festival ini juga menjadi saksi debut MALAM Projection Mapping Competition, kompetisi yang mempertemukan seniman, mahasiswa, dan kolektif kreatif dari seluruh Asia Tenggara untuk menampilkan karya proyeksi mapping orisinal. Kompetisi ini bertujuan menyoroti bakat regional yang sedang naik daun sekaligus memberi platform bagi kreator untuk bereksperimen dengan medium tersebut.
Bagi pengunjung Indonesia, festival ini menawarkan peluang untuk melihat langsung interpretasi mitos Nusantara dalam format kontemporer. Tema Myths And Legends yang diangkat sangat relevan dengan kekayaan cerita rakyat Indonesia, seperti legenda Malin Kundang atau Roro Jonggrang, yang mungkin bisa menjadi inspirasi edisi mendatang. Selain itu, kehadiran kompetisi MALAM membuka pintu bagi seniman proyeksi mapping Indonesia untuk unjuk gigi di panggung internasional. Dengan semakin populernya seni cahaya di Tanah Air—misalnya dalam acara seperti Festival Cahaya Bintaro atau Jakarta Light Festival—partisipasi kreator Indonesia dalam ajang ini bisa menjadi langkah strategis untuk memperluas jaringan dan memperkenalkan karya ke audiens global.
Tak hanya itu, festival tahun ini juga menyertakan empat instalasi tambahan di bawah program perdana Light Together Bras Basah.Bugis, yang digelar bersamaan dengan SNF 2026 sebagai bagian dari perayaan Hari Nasional Singapura. Inisiatif ini menunjukkan bagaimana festival malam dapat menjadi katalis untuk memperkuat identitas kawasan dan mendorong pariwisata malam. Pertanyaannya, akankah kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta atau Bandung, mulai mengadopsi model serupa untuk menghidupkan ruang publik setelah gelap? Dengan potensi ekonomi kreatif yang besar, bukan tidak mungkin Indonesia akan mengikuti jejak Singapura dalam menggelar festival malam berskala internasional.



