Anwar Ibrahim: Warga Israel di Program Network School Johor A Dideportasi
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim memastikan deportasi warga Israel yang terlibat dalam program Network School di Forest City, Johor, menyusul investigasi kementerian terkait.
- Langkah ini menegaskan sikap Malaysia yang tidak mengakui Israel, sekaligus merespons kekhawatiran Johor terhadap potensi penyebaran ideologi asing di wilayahnya.
- Krisis politik di Melaka juga menyita perhatian, dengan Anwar mendesak DAP menunda penarikan dukungan terhadap pemerintah negara bagian.

Malaysia tidak akan mentoleransi keberadaan warga Israel di wilayahnya, tegas Perdana Menteri Datuk Seri Anwar Ibrahim. Ia memerintahkan deportasi segera bagi setiap warga Israel yang terlibat dalam program Network School di Forest City, Johor, setelah muncul laporan yang menimbulkan kegaduhan publik.
Pernyataan itu disampaikan Anwar usai membuka program ERM Foundation di Kuala Lumpur, Kamis (16/7/2026). Menurutnya, penyelidikan oleh kementerian terkait tengah berlangsung dan hasilnya akan diumumkan Menteri Pendidikan Tinggi. โJika ada kesalahan, tindakan harus diambil. Jika ada warga Israel, mereka akan dideportasi karena Malaysia tidak mengakui Israel,โ ujarnya.
Keputusan ini merupakan respons atas desakan Menteri Besar Johor, Datuk Onn Hafiz Ghazi, yang meminta Kementerian Dalam Negeri dan lembaga lain menyelidiki operasional Network School. Onn Hafiz menegaskan Johor tidak akan membiarkan siapa pun menggunakan wilayahnya sebagai basis penyebaran ideologi yang melanggar hukum atau mengancam kedaulatan negara.
Di sisi lain, Anwar yang juga Ketua Pakatan Harapan mengaku belum menerima tanggapan dari DAP Melaka terkait permintaannya agar partai itu menunda keputusan menarik dukungan terhadap pemerintah negara bagian. Sebelumnya, DAP Melaka mengumumkan penarikan diri secara sepihak setelah amendemen konstitusi negara bagian yang memungkinkan pengangkatan anggota dewan yang dinominasikan. Empat anggota DAP dari Melaka menyatakan keluar dari blok pemerintah, sementara satu anggota Amanah tetap bertahan.
Khoo Poay Tiong, Ketua DAP Melaka, menyebut amendemen itu bertentangan dengan prinsip demokrasi dan pemilu. Anwar berjanji akan menindaklanjuti persoalan tersebut dalam waktu dekat, meski belum ada jadwal pertemuan dengan pimpinan DAP setempat.
Dalam kesempatan yang sama, Anwar menekankan pentingnya pendidikan karakter bagi anak-anak. Ia mengingatkan bahwa tujuan belajar bukan sekadar menjadi pintar, tetapi juga menjadi manusia yang baik dan berbelas kasih. Acara yang dihadiri 700 anak dari keluarga kurang mampu itu juga dihadiri istrinya, Dr. Wan Azizah Wan Ismail, serta perwakilan sektor pendidikan dan komunitas.
Krisis politik di Melaka dan isu Network School menjadi ujian bagi koalisi pemerintahan Anwar. Pertanyaannya, mampukah ia menjaga stabilitas politik sambil menegakkan prinsip tanpa kompromi terhadap Israel?



