Déjà Vu di London: Barcola Siap Tolak Liverpool Demi Arsenal, Tiru Jejak Alexis Sanchez
Baca dalam 60 detik
- Arsenal kembali unggul dalam perburuan bintang sayap kiri, dengan Bradley Barcola dikabarkan lebih memilih pindah ke London Utara daripada bergabung dengan Liverpool.
- Situasi Barcola di PSG mengingatkan pada Alexis Sanchez pada 2014: pemain bertalenta yang tersisih oleh trio lini depan super, membuka peluang bagi Arsenal untuk merekrutnya.
- Jika transfer senilai £128 juta ini terwujud, Arsenal tidak hanya mendapatkan pemain berkelas dunia, tetapi juga mengulang strategi yang sukses mendatangkan Sanchez dari Barcelona.

Arsenal dikabarkan kembali unggul dalam persaingan merekrut bintang sayap kiri Paris Saint-Germain, Bradley Barcola, setelah sang pemain disebut lebih memilih pindah ke London daripada bergabung dengan Liverpool. Situasi ini mengingatkan pada momen 2014 ketika Alexis Sanchez memilih Arsenal meski Liverpool juga menginginkannya.
Menurut jurnalis Konstantinos Lianos, Barcola menjadi target utama dua raksasa Premier League tersebut jika ia tidak memperpanjang kontraknya di PSG yang berlaku hingga 2028. Nilai transfer pemain berusia 23 tahun itu diperkirakan mencapai £128 juta, menjadikannya salah satu rekrutan termahal musim panas ini. Namun, keputusan akhir ada di tangan Barcola, dan indikasi awal menunjukkan ia lebih condong ke Arsenal.
Kepindahan Barcola ke Arsenal akan menjadi cerita yang mirip dengan Sanchez. Pada 2014, Sanchez berada di Barcelona yang saat itu memiliki trio lini depan Lionel Messi, Neymar, dan Luis Suarez. Liverpool, yang kehilangan Suarez, sangat menginginkan Sanchez, tetapi pemain asal Chili itu memilih Arsenal karena alasan lokasi. Mantan CEO Liverpool, Ian Ayre, pernah mengungkapkan bahwa Sanchez dan istrinya ingin tinggal di London. Kini, Barcola menghadapi situasi serupa di PSG, di mana ia harus bersaing dengan Khvicha Kvaratskhelia, Desire Doué, dan Ousmane Dembele.
Bagi Arsenal, merekrut Barcola bukan sekadar menambah amunisi di lini depan. Klub asal London Utara itu memang membutuhkan pemain sayap kiri kelas dunia setelah kepergian Leandro Trossard ke Besiktas dan kemungkinan hengkangnya Gabriel Martinelli. Meski telah mendatangkan Christos Tzolis dari Club Brugge, Tzolis dinilai lebih sebagai pemain pelapis daripada starter. Barcola, dengan torehan 76 gol dan assist dalam 152 pertandingan untuk PSG, dianggap sebagai pemain yang bisa menjadi bintang utama, seperti yang dilakukan Sanchez di Arsenal.
Analis sepak bola Ben Mattinson menyebut Barcola sebagai "salah satu pemain sayap kiri terbaik di Eropa". Namun, di PSG ia kerap menjadi pilihan kedua di bawah Luis Enrique. Dalam pertandingan penting, seperti final Liga Champions melawan Arsenal, Barcola justru tampil impresif dan merepotkan pertahanan lawan. Hal ini menunjukkan bahwa ia memiliki kualitas untuk menjadi pembeda, mirip dengan Sanchez yang mampu menjadi match-winner.
Bagi Liverpool, kegagalan mendapatkan Barcola akan menjadi pukulan telak. Klub Merseyside itu tengah membangun kembali skuad setelah musim lalu yang mengecewakan. Namun, sejarah menunjukkan bahwa Arsenal memiliki daya tarik tersendiri bagi pemain yang mengutamakan lokasi London. Jika Barcola benar-benar memilih Arsenal, maka The Gunners tidak hanya mendapatkan pemain berkualitas, tetapi juga mengulang strategi yang sukses di masa lalu.
Konteks Indonesia: Meski berita ini berkaitan dengan sepak bola Eropa, dampaknya bisa dirasakan oleh penggemar sepak bola di Indonesia. Arsenal memiliki basis penggemar yang besar di Tanah Air, dan kedatangan pemain sekaliber Barcola akan meningkatkan daya tarik klub di mata sponsor dan penyiar. Selain itu, persaingan Arsenal vs Liverpool selalu menjadi tontonan menarik bagi pecinta Premier League di Indonesia.
Ke depannya, keputusan Barcola akan menjadi sinyal apakah Arsenal masih menjadi tujuan favorit bagi pemain bintang. Jika ia bergabung, The Gunners akan memiliki lini depan yang lebih tajam dan siap bersaing di Liga Champions. Namun, jika ia memilih Liverpool, maka Arsenal harus mencari alternatif lain. Pertanyaannya, mampukah Arsenal mempertahankan daya tarik London seperti satu dekade lalu?



