Mimpi Buruk Berulang: Inggris Kembali Tersingkir di Semifinal Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Inggris gagal lolos ke final Piala Dunia 2026 setelah kalah 1-2 dari Argentina lewat gol telat Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez.
- Kekalahan ini menambah daftar panjang kegagalan Inggris di semifinal turnamen besar, termasuk Piala Dunia 2018 dan Euro 2020/2024.
- Pelatih Thomas Tuchel tetap mendapat dukungan FA dan akan memimpin tim menuju Euro 2028, namun performa di menit akhir kembali menjadi sorotan.

Untuk kedua kalinya dalam delapan tahun, Inggris harus menelan pil pahit setelah memimpin di babak semifinal Piala Dunia. Kali ini, Argentina menjadi algojo dengan dua gol di 35 menit terakhir, memupus harapan Three Lions untuk tampil di partai puncak untuk pertama kalinya sejak 1966.
Bermain di Atlanta, Inggris unggul lebih dulu melalui Anthony Gordon pada menit ke-55 memanfaatkan umpan Morgan Rogers. Namun, keunggulan tersebut tidak bertahan lama. Enzo Fernandez menyamakan kedudukan sebelum Lautaro Martinez memastikan kemenangan Argentina pada menit kedua injury time. Bek Newcastle Dan Burn, yang masuk sebagai pemain pengganti di babak kedua, mengungkapkan kekecewaan mendalam. "Kami menjalankan rencana permainan dengan baik, unggul 1-0, lalu menjadi terlalu pasif. Melawan tim sekelas Argentina, itu akan berakibat fatal. Momen ini akan menghantui saya untuk waktu yang lama," ujarnya.
Kekalahan ini menjadi pola yang mengkhawatirkan bagi Inggris. Dalam tiga edisi Piala Dunia terakhir, mereka dua kali tersingkir di semifinal (2018 dan 2026), ditambah dua kekalahan di final Euro (2020 dan 2024). Kapten Harry Kane, yang kini telah mengalami empat kekalahan di semifinal atau final turnamen besar, mengakui timnya kesulitan mempertahankan momentum setelah unggul. "Kami tampil baik selama 60 menit, mencetak gol, dan layak unggul. Tapi setelah itu, kami kesulitan menguasai bola dan memberi tekanan, yang membuat mereka menciptakan peluang. Ini menjadi masalah yang berulang dalam empat atau lima turnamen terakhir," kata Kane.
Pelatih Thomas Tuchel mengakui timnya kehilangan kepercayaan diri setelah unggul. "Kami tidak cukup fisik, kalah dalam duel, dan tidak bisa menguasai bola. Argentina bermain tanpa beban setelah kebobolan, mengambil risiko besar, dan kami tidak mampu mengembalikan momentum," jelasnya kepada BBC Radio 5 Live. Meski demikian, FA memberikan dukungan penuh kepada Tuchel dan ia dipercaya melanjutkan proyeknya hingga Euro 2028, di mana Inggris akan menjadi tuan rumah bersama.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kekalahan Inggris kembali mengingatkan pada pentingnya manajemen tekanan di menit-menit krusial. Timnas Indonesia sendiri kerap menghadapi situasi serupa di level Asia, seperti saat kalah telak dari Jepang di Kualifikasi Piala Dunia 2026 setelah unggul lebih dulu. Pelajaran dari Inggris menunjukkan bahwa keunggulan tipis tidak cukup tanpa kemampuan mempertahankan intensitas dan konsentrasi penuh hingga peluit akhir.
Inggris masih memiliki satu kesempatan untuk menyelamatkan muka, yakni laga perebutan tempat ketiga melawan Prancis pada Sabtu mendatang. Namun, luka kekalahan semifinal diprediksi akan membekas lama. Pertanyaan besarnya: mampukah generasi emas Inggris ini akhirnya memutus kutukan di turnamen mendatang, atau akankah sejarah terus berulang?



