Mbappe Ucapkan Perpisahan Emosional untuk Deschamps: 'Kami Gagal Memberimu Akhir yang Layak'
Baca dalam 60 detik
- Kylian Mbappe secara terbuka menyesali kegagalan timnas Prancis memberikan akhir yang sempurna bagi pelatih Didier Deschamps yang akan lengser setelah 14 tahun.
- Deschamps, yang membawa Prancis juara Piala Dunia 2018 dan runner-up 2022, harus puas dengan laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026 sebagai pertandingan terakhirnya.
- Ucapan Mbappe menyoroti warisan Deschamps sebagai arsitek kebangkitan sepak bola Prancis, yang kini akan menghadapi masa depan tanpa nahkoda legendaris tersebut.

Kapten timnas Prancis, Kylian Mbappe, menyampaikan penghormatan terakhir yang menyentuh hati untuk pelatih Didier Deschamps menjelang laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026. Dalam unggahan di media sosial, Mbappe mengakui bahwa skuad Les Bleus gagal memberikan akhir yang pantas bagi pelatih yang telah mengabdi selama 14 tahun tersebut.
"Hari ini adalah tarian terakhirmu. Engkau yang telah memberikan begitu banyak kepada kami. Seharusnya kami bisa memberimu akhir yang lebih baik, tetapi kami gagal," tulis Mbappe, yang saat ini berusia 27 tahun, sebelum pertandingan melawan Inggris. Kekalahan di semifinal dari Spanyol memupus harapan Prancis untuk mempertahankan gelar juara dunia, sekaligus menandai berakhirnya era Deschamps.
Deschamps mengambil alih kursi pelatih pada 2012 dan berhasil membawa Prancis meraih gelar Piala Dunia 2018 serta menjadi runner-up pada edisi 2022. Namun, perjalanan di Piala Dunia 2026 harus terhenti di babak semifinal. Meski demikian, Mbappe menilai kontribusi Deschamps jauh melampaui sekadar trofi. "Mengungkapkan dengan kata-kata apa yang telah engkau berikan selama 14 tahun sangatlah sulit, karena engkau adalah figur utama dalam kelahiran kembali tim ini," ujar pemain yang juga topskor sepanjang masa Prancis dengan 64 gol itu.
Mbappe juga mengingatkan bahwa publik sering kali tidak sepenuhnya menghargai kehebatan Deschamps. "Waktu dan sejarah akan menempatkan segalanya pada tempatnya," tambahnya. Deschamps, yang pernah menjadi kapten saat Prancis menjuarai Piala Dunia 1998, disebut Mbappe sebagai salah satu legenda terbesar negaranya. "Saya merasa sangat istimewa bisa berada di samping salah satu legenda terbesar negara kita. Saya hanya akan menyimpan kenangan indah dari semua yang kami alami dan raih bersama," tulis Mbappe, seraya mendoakan kesuksesan Deschamps di petualangan barunya.
Bagi pengamat sepak bola, kepergian Deschamps meninggalkan jejak yang sulit ditandingi. Ia tidak hanya membangun tim yang tangguh secara taktik, tetapi juga meregenerasi skuad dengan sukses. Di Indonesia, di mana antusiasme terhadap sepak bola Eropa sangat tinggi, kisah Deschamps menjadi pengingat akan pentingnya konsistensi kepelatihan. Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) sendiri tengah berupaya mencari pelatih asing untuk Timnas, dan figur seperti Deschamps bisa menjadi tolok ukur ideal: pelatih yang mampu membangun program jangka panjang dan membawa prestasi.
Pertanyaan kini mengemuka: siapa yang akan menggantikan Deschamps? Beberapa nama seperti Zinedine Zidane sudah dikaitkan, namun belum ada kepastian. Yang jelas, era baru sepak bola Prancis akan segera dimulai, dan Mbappe serta generasi emas Les Bleus harus beradaptasi tanpa nahkoda yang telah membawa mereka ke puncak dunia.



