Messi Kembali ke Final Piala Dunia: Sang Raja Menolak Pensiun
Baca dalam 60 detik
- Lionel Messi memborong dua assist saat Argentina membalikkan keadaan dan menaklukkan Inggris 2-1 di semifinal Piala Dunia 2026.
- Megabintang 39 tahun itu kini memimpin daftar pencetak gol (8) dan assists (4) turnamen, menyamai catatan Kylian Mbappe.
- Argentina akan berhadapan dengan Spanyol di final, membuka peluang Messi menjadi pemain kedua yang tampil di tiga final Piala Dunia.

Lionel Messi kembali menunjukkan kelasnya di panggung terbesar sepak bola. Dua assist krusial yang ia sumbangkan memastikan Argentina bangkit dari ketertinggalan dan mengalahkan Inggris 2-1 di semifinal Piala Dunia 2026, sekaligus mengantarkan La Albiceleste ke partai puncak kedua secara beruntun.
Pertandingan di Atlanta itu berjalan alot hingga babak kedua. Inggris unggul lebih dulu lewat gol Anthony Gordon pada menit ke-55. Namun, setelah pelatih Thomas Tuchel memasukkan lebih banyak pemain bertahan, Inggris justru kehilangan kendali. Argentina mendominasi penguasaan bola hingga 88 persen selama 37 menit terakhir, dan Messi menjadi aktor utama di sisi kanan serangan.
Pergerakan Messi ke sayap kanan menjadi titik balik. Kiper Argentina Emiliano Martinez mengakui, "Menempatkan Messi di sayap adalah kunci bagi kami." Statistik membuktikan: Messi menuntaskan sembilan dribel sukses, lebih banyak dari total seluruh pemain Inggris yang hanya tujuh kali. Ia juga mencatatkan tujuh sentuhan di kotak penalti lawan, menyamai jumlah gabungan pemain Inggris, serta menciptakan empat peluang dan melepaskan sembilan umpan silang.
Gol penyeimbang lahir dari skema sepak pojok pada menit ke-85, saat umpan Messi disambar Enzo Fernandez dengan tendangan keras dari luar kotak. Tiga menit memasuki injury time, Messi kembali menjadi penyedia assist, kali ini dengan umpan silang yang ditanduk Lautaro Martinez untuk memastikan kemenangan. Catatan ini menjadikan Messi pemain pertama sejak 1966 yang mencatatkan dua assist dan sembilan dribel dalam satu pertandingan gugur Piala Dunia.
Pelatih Argentina Lionel Scaloni tak ragu memuji anak asuhnya. "Dia pemain terbaik dalam sejarah. Saya tidak tahu apa lagi yang harus dia buktikan. Mayoritas warga Spanyol pun mencintainya," ujarnya. Mantan bek Inggris Micah Richards menambahkan, "Mereka punya Lionel Messi. Mereka punya yang terhebat sepanjang masa. Ini soal momen. Kami pikir mungkin Jude Bellingham atau Harry Kane, tapi inilah mengapa dia adalah raja."
Kemenangan ini membawa Argentina ke final melawan Spanyol, negara tempat Messi menghabiskan sebagian besar karier klubnya bersama Barcelona. Laga puncak akan digelar di New Jersey pada Minggu (19/7). Bagi Messi, ini adalah final Piala Dunia ketiganya setelah 2014 dan 2022. Ia berpeluang menjadi pemain kedua setelah Cafu yang tampil di tiga final Piala Dunia.
Perjalanan Messi menuju final ini terasa mustahil beberapa tahun lalu. Pada 2016, ia sempat pensiun dari tim nasional setelah kegagalan di final Copa America. Namun, keputusan untuk kembali berbuah manis: dua gelar Copa America dan satu Piala Dunia (2022). Kini di usia 39 tahun, ia masih menjadi pembeda. Menurut jurnalis Spanyol Guillem Balague, Messi telah berevolusi secara taktis setidaknya lima kali sepanjang kariernya. Sebelum laga melawan Inggris, ia tercatat berjalan kaki sebesar 47 persen dari total jarak tempuhnya di turnamen, persentase tertinggi di antara pemain lapangan.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, penampilan Messi menjadi tontonan langka yang patut dinikmati. Dengan siaran langsung Piala Dunia yang mudah diakses, momen-momen magis seperti ini menjadi pengingat bahwa sepak bola masih menyuguhkan drama yang tak terduga. Pertanyaannya, akankah final melawan Spanyol menjadi pertandingan Piala Dunia terakhir bagi sang legenda? Atau, seperti yang telah ia tunjukkan berkali-kali, jangan pernah meremehkan kemampuan seorang juara sejati.



