Final Piala Dunia 2026: Argentina Incar Back-to-Back, Spanyol Siap Tempur
Baca dalam 60 detik
- Argentina berpeluang menjadi juara bertahan pertama sejak Brasil 1962 saat menghadapi Spanyol di final Piala Dunia 2026.
- Presiden AS Donald Trump dan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum dijadwalkan hadir di MetLife Stadium untuk menyaksikan laga puncak.
- Kapten Spanyol Rodri mengantisipasi duel fisik dan potensi provokasi dari lawan, sementara pelatih Argentina Lionel Scaloni meminta publik menikmati penampilan terakhir Messi di usia 39 tahun.

Laga puncak Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Spanyol di MetLife Stadium, New Jersey, Ahad (19/7) mendatang tidak hanya mempertemukan dua raksasa sepak bola, tetapi juga menjadi panggung sejarah bagi Lionel Messi yang berusia 39 tahun. Tim Tango mengincar gelar juara berturut-turut, sebuah pencapaian yang terakhir kali diraih Brasil pada 1962.
Pertandingan ini menjadi puncak turnamen terbesar sepanjang sejarah Piala Dunia, dengan lebih dari 80 ribu penonton memadati stadion. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan hadir untuk pertama kalinya dalam turnamen ini, sementara Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum juga akan menyaksikan langsung setelah menerima undangan dari Trump. Sehari sebelumnya, Trump menyebut Piala Dunia edisi ini sebagai "acara olahraga paling sukses mungkin dalam sejarah dunia" dalam resepsi bersama Presiden FIFA Gianni Infantino di New York.
Di balik kemeriahan, panitia penyelenggara terus memantau dampak asap kebakaran hutan di Kanada yang menyelimuti langit sebagian wilayah AS. Andrew Giuliani, direktur eksekutif satuan tugas Piala Dunia Gedung Putih, mengatakan pihaknya bekerja sama dengan Badan Cuaca Nasional untuk memastikan kondisi aman bagi pemain dan penonton.
Kapten Spanyol, Rodri, yang baru saja meraih Ballon d'Or 2024, mengaku siap menghadapi pertarungan fisik yang berbeda dari laga-laga sebelumnya. "Pertandingan Ahad nanti akan sangat berbeda, lebih fisik, dan kami harus siap. Tapi jika ada satu hal yang menjadi ciri tim nasional ini, kami tahu cara bermain dalam situasi apa pun—bertahan, serangan balik, atau menekan. Kami adalah tim yang sangat lengkap," ujar gelandang Manchester City itu. Ia juga tidak mempermasalahkan kemungkinan taktik provokatif dari Argentina, menyebutnya sebagai bagian dari sepak bola.
Pelatih Argentina Lionel Scaloni mengajak publik untuk menikmati momen langka melihat Messi memimpin tim di final Piala Dunia. "Dia telah menorehkan sejarah. Dia adalah legenda," puji Scaloni. Kiper Emiliano Martinez mengaku kerap menangis sendiri saat merenungkan perjalanan tim. "Pesan saya kepada rekan setim: nikmati momen ini, persiapkan diri dengan senyuman. Ini akan kami ingat selamanya," katanya.
Sementara itu, laga perebutan tempat ketiga mempertemukan Inggris dan Prancis di Miami. Pelatih Inggris Thomas Tuchel masih merasakan sakit akibat kekalahan 2-1 dari Argentina di semifinal. "Kami harus hidup dengan kekalahan ini. Ini luka kami, rasa sakit kami, dan bekas luka yang kami bawa," ujarnya. Di sisi lain, pelatih Prancis Didier Deschamps mengaku akan merindukan tim nasional setelah pertandingan terakhirnya sebagai pelatih. "Tidak ada yang menangis, tapi saya tahu saya akan merindukan tim Prancis. Selama 15 tahun, saya mengalami momen magis dan sulit," katanya.
Bagi Indonesia, final ini menjadi tontonan yang sarat makna. Pertandingan antara dua gaya bermain kontras—kolektifitas Spanyol versus kejeniusan individu ala Messi—bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan sepak bola nasional. Apakah Argentina mampu mengukir sejarah baru, atau Spanyol akan merebut tahta? Jawabannya akan terungkap di MetLife Stadium.



