Peraih Nobel Kedokteran Pertama Jepang, Susumu Tonegawa, Meninggal di Usia 86
Baca dalam 60 detik
- Susumu Tonegawa, ilmuwan Jepang pertama peraih Nobel Fisiologi/Kedokteran, tutup usia pada 86 tahun.
- Penemuan prinsip genetik diversitas antibodi pada 1987 mengubah fundamental imunologi modern.
- Warisan risetnya di MIT mencakup mekanisme memori otak, membuka jalan terapi penyakit neurodegeneratif.

Susumu Tonegawa, ilmuwan Jepang pertama yang meraih Nobel di bidang fisiologi atau kedokteran, meninggal dunia pada usia 86 tahun. Kabar duka ini dikonfirmasi oleh Massachusetts Institute of Technology (MIT), tempat ia mengabdikan diri sebagai profesor riset, pada Rabu (16/7/2026). Tonegawa mengembuskan napas terakhir pada Sabtu pekan lalu, meninggalkan warisan monumental dalam imunologi dan neurosains.
Tonegawa dianugerahi Nobel pada 1987 berkat penemuan prinsip genetik di balik diversitas antibodi. Sebelum risetnya, para ilmuwan bertanya-tanya bagaimana sistem imun mampu menghasilkan jutaan jenis antibodi berbeda dari gen yang terbatas. Tonegawa memecahkan teka-teki itu dengan menunjukkan bahwa gen antibodi mengalami pengaturan ulang (rearrangement) pada sel B, sebuah mekanisme yang kemudian menjadi fondasi bioteknologi antibodi monoklonal. MIT dalam pernyataannya menyebut temuan ini sebagai "landasan pemahaman imunitas adaptif".
Namun, kontribusi Tonegawa tidak berhenti di imunologi. Pada paruh kedua kariernya, ia beralih ke neurosains dan memimpin Picower Institute for Learning and Memory di MIT. Timnya berhasil mengidentifikasi peran molekul tertentu dalam pembentukan dan penyimpanan memori, khususnya di hipokampus. Riset ini membuka wawasan baru tentang mekanisme dasar belajar dan potensi intervensi pada penyakit Alzheimer serta gangguan memori lainnya.
Bagi Indonesia, kepergian Tonegawa mengingatkan pada pentingnya investasi riset dasar. Meski Indonesia belum memiliki peraih Nobel sains, jejak Tonegawa menunjukkan bahwa terobosan besar lahir dari kebebasan akademik dan dukungan jangka panjang. Beberapa peneliti Indonesia di bidang imunologi, seperti yang tergabung dalam Indonesian Society for Immunology, kerap merujuk pada prinsip diversitas antibodi dalam studi vaksin dan respons imun terhadap penyakit tropis. Di sisi lain, riset memori Tonegawa relevan dengan meningkatnya kasus demensia di Indonesia, yang menurut data Kemenkes mencapai 1,2 juta jiwa pada 2025.
Karier Tonegawa juga menjadi contoh bagaimana diaspora ilmuwan dapat membawa nama bangsa di panggung global. Lahir di Nagoya, ia menempuh pendidikan di Universitas Kyoto sebelum meraih PhD di University of California, San Diego. Ia kemudian menetap di AS, namun tetap menjalin kolaborasi dengan institusi Jepang seperti RIKEN. "Ia adalah jembatan antara sains Asia dan Barat," ujar seorang kolega di MIT yang enggan disebut namanya.
Pertanyaan yang kini mengemuka: siapa yang akan meneruskan tradisi riset multidisiplin ala Tonegawa? Di tengah persaingan sains global yang semakin ketat, warisan intelektualnya menuntut generasi baru ilmuwan untuk berani melintasi batas-batas disiplin. Bagi Indonesia, pelajaran berharga adalah bahwa investasi pada riset fundamental, meski hasilnya tidak instan, pada akhirnya dapat mengubah wajah ilmu pengetahuan dan memberikan solusi bagi tantangan kesehatan umat manusia.



